BANDUNGMU.COM — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof KH Dadang Kahmad mengatakan bahwa dakwah Muhammadiyah di tengah populisme dan evangelisme sangat penting diperhatikan.
Menurut Prof Dadang, topik ini sangat menarik untuk dibicarakan. Populisme itu istilah yang sangat samar, yakni bisa dipakai untuk gerakan politik, tetapi bisa juga diartikan untuk gerakan agama.
“Untuk gerakan politik sendiri bisa diasosiasikan dengan gerakan perlawanan rakyat pada oligarki atau kekuasaan. Kalau populisme agama yaitu menggunakan jargon identitas untuk mengumpulkan masa sehingga menjadi kekuatan yang diperhitungkan,” kata Prof Dadang ketika menyampaikan pidato kunci pada Seminar Pra Muktamar di Universitas Muhammadiyah Magelang (Unisma), Senin 23 Mei 2022.
Guru besar sosiologi agama UIN Bandung ini melanjutkan bahwa populisme agama itu yang termasuk maraknya dakwah-dakwah ataupun semacam sosialisasi agama di masyarakat sehingga melahirkan berbagai macam ekspresi keagamaan di masyarakat.
Surah Al-Hasyr 18 menggambarkan fenomena yang akan datang itu ditentukan oleh fenomena yang terjadi hari ini ataupun fenomena yang lalu.
Oleh karena itu, Allah memberikan pesan pada para hamba untuk selalu mengevaluasi perjalanan sekarang ataupun mempersiapkan masa yang akan datang.
“Mungkin masa yang akan datang bagi Muhammadiyah itu akan lebih rumit lagi. Pada abad pertama kita bisa sukses karena para pengamat luar negeri itu memberikan pujian bahwa Muhammadiyah adalah organisasi tersukses di dunia,” terang Prof Dadang.
Namun, pada abad kedua, ungkap mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat ini, Muhammadiyah dihadapkan dengan tantangan yang begitu luar biasa sangat berbeda dengan abad pertama.
Prof Dadang menyebut bahwa abad pertama Muhammadiyah mengalami tantangan organik sehingga bangunan hebat seperti kampus, rumah sakit, sekolah, dan lainnya itu menjadi kebanggan warga Persyarikatan khususnya.
Abad kedua ini berbeda orientasi karena warganya pun berbeda. Oleh karena itu, Dadang mengambil perkataan KH Ahmad Dahlan yang memberikan peringatan pada kita bahwa Muhammadiyah yang akan datang sangat berbeda dengan masa kini.
“Muhammadiyah sekarang ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka dari itu, teruslah kamu bersekolah, menuntut ilmu di mana saja kamu berada, jadilah guru dan kembalilah ke Muhammadiyah. Jadilah mister, insinyur, dan kembali pada Muhammadiyah,” kata Prof Dadang mengutip nasihat KH Ahmad Dahlan.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya gerakan Muhammadiyah lebih responsif terhadap perubahan yang ada dan terjadi sekarang ini.
Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) ini berpesan agar jangan sampai menganggap bahwa dunia ini tetap dan tidak berubah apalagi dalam menyebarkan agama.***















