UMBandung
News

Dua Masjid Mujahidin Kebanggaan Warga Muhammadiyah Bandung dan Depok

×

Dua Masjid Mujahidin Kebanggaan Warga Muhammadiyah Bandung dan Depok

Sebarkan artikel ini
Desain Rio PL/BANDUNGMU.

Oleh: Mursin MK

BANDUNGMU.COM — Masjid-masjid Muhammadiyah biasa dikenal dengan nama At-Taqwa. Di daerah Sumatera, seperti di Sumatera Utara, masjid Muhammadiyah umumnya diberi nama masjid At-Taqwa. Berbeda dengan di Jawa Barat, bukan At-Taqwa saja sebagai nama masjid Muhammadiyah, melainkan menggunakan nama lainnya.

Di antaranya menggunakan nama Mujahidin atau Al-Mujahidin. Penggunaan nama ini di antaranya disematkan pada Masjid Raya Mujahidin di Jalan Sancang Nomor 6 kota Bandung. Kedua, Masjid Al-Mujahidin, Kukusan, Depok, Jawa Barat.

Kedua Masjid Mujahidin ini merupakan amal usaha Muhammadiyah di Bandung dan Depok. Keberadaannya menjadi saksi perkembangan Muhammadiyah di lingkungan masing masing.

Keberadaan masjid tersebut seakan-akan menunjukkan bahwa Muhammadiyah tanpa masjid tidak ada perjuangannya. Terutama dalam aktivitas ibadah dan dakwah wargaMuhammadiyah yang berada di daerah tersebut.

Persamaannya

Kedua masjid Mujahidin itu memiliki persamaan dan perbedaan yang unik dan menarik hingga saat ini. Bagi pengamat masjid, tentu menjadi perhatian, baik dari sisi bangunan fisik maupun arsitekturnya.

Apalagi bila meneropong lebih jauh, tentang aktivitas yang berlangsung di dalamnya, keduanya dapat menjadi contoh bagi masjid-masjid Muhammadiyah lainnya. Minimal tentang bagaimana masjid itu dibangun dan dimakmurkan.

Pertama, sama-sama masjid kebanggaan Muhammadiyah di daerahnya. Warga Muhammadiyah di kedua daerah itu merasa bangga memiliki masjid yang representatif untuk melaksanakan ibadah. Mereka bisa beribadah dengan tenang dan khusyuk dalam masjid.

Tidak hanya saat salat lima waktu, tetapi ketika ibadah Jumat dan taraweh Ramadan. Termasuk juga ketika melakukan iktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan. Suasananya sedemikian mendukung dan menambah kualitas ketenangan dan kekhusyukkan dalam beribadah.

Apalagi didukung dengan lingkungan alam masing masing. Di Bandung yang udaranya dingin dan di Kukusan, Depok, dengan lingkungan yang sejuk saat malam hari. Ruangan masjid yang luas juga mendukung suasana tenang dan khusyuk.

Ditambah penataan ruang yang eksotik dan artistik yang khas tanpa kaligrafi yang biasa menghiasi masjid-masjid pada umumnya. Lukisan dan hiasan tidak dijumpai pada kedua masjid ini.

Kedua, sama-sama menjadi amal usaha Muhammadiyah sehingga tata cara ibadah dan kegiatan lainnya harus menyesuaikan dengan tradisi dan tuntunan persyarikatan. Walau jamaah yang beribadah di dalamnya dari beragam identitas paham dan aliran, mereka mengikuti dan mematuhi tuntunan Muhammadiyah dalam beribadah salat lima waktu, ibadah Jumat, dan taraweh Ramadan.

Baca Juga:  Pemerintah Dukung Insan Muda Kreatif Bandung, Targetkan 30 Co-Working Space

 

Tidak ada kunut dan zikir bersama setelah salat lima waktu. Azan hanya sekali saat ibadah Jumat. Salat taraweh sebelas rakaat diawali dua rakaat salat iftitah. Tidak ada “Bilal” dalam salat taraweh.

Tidak ada beduk yang dipasang di teras masjid karena sudah ada azan melalui pengeras suara. Tidak ada pembacaan selawat jelang azan. Pun tidak ada bacaan tarhim atau salat sebelum salat subuh. Selain itu, di Muhammadiyah pun waktu Subuh ditambah 8 menit dari waktu Subuh yang biasa dan pada umumnya.

Ketiga, sama-sama dikelola secara profesional dengan laporan keuangan secara jelas disampaikan pada saat jelang azan Jumat. Pemasukan dan pengeluaran tercatat dengan rapi dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga menambah kepercayaan jamaah dan masyarakat yang memakmurkan masjid.

Hanya saja yang hal belum dilakukan laporan keuangan secara tertulis yang ditempelkan di mading masjid. Ini menjadi penting dalam memperkuat amanah dan transparansi keuangan masjid.

Sebab masalah keuangan ini sensitif apalagi di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah yang dikenal memiliki manajemen yang baik dan transparan. Oleh karena itulah Muhammadiyah menjadi maju dan berkembang di mana-mana di Indonesia dan dunia.

Transparansi keuangan ini menjadi penting sebagaimana yang dilakukan Madjid Muhammadiyah Jogokaryan yang menerapkan sistim saldo nol. Sejatinya hal itu dapat ditiru oleh masjid-masjid Muhammadiyah.

Keempat, sama-sama diberi nama Mujahidin yang berarti para pejuang yang pantang menyerah dan gagah berani. Umumnya masjid-masjid Muhammadiyah diberi nama At-Taqwa dan menjadi ciri khas persyarikatan.

Namun, dengan nama Mujahidin sebagai kenangan dan peringatan bahwa masjid itu tidak terlepas dari perjuangan warga dan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang terkenal namanya dalam sejarah persyarikatan di Jawa Barat.

Tokoh yang berkaitan dengan pembangunan Masjid Raya Mujahidin Bandung yaitu KH Sulaeman Faruq yang ketika itu Ketua PWW Jawa Barat. Tokoh yang berhubungan dengan pembangunan Masjid Mujahidin Kukusan Depok yakni KH M Usman yang ketika itu Ketua PDM Depok.

Baca Juga:  Top! Sebanyak 4 Program Studi di UIN Bandung Raih Akreditasi Internasional dari FIBAA

Kedua tokoh ini dikenal luas jasa-jasa dan perjuangannya dalam Muhammadiyah di daerahnya masing masing dan layak mendapatkan penghargaan setinggi-tingginya.

Kelima, kedua bangunan fisik masjid itu sama-sama tidak menggunakan kubah sebagaimana dipakai masjid-masjid pada umumnya di Indonesia. Tidak menggunakan kubah tidak berarti sama dengan tempat ibadah Nasrani atau yang lainnya.

Masih ada perbedaannya. Tidak ada rumah ibadah agama lain yang menghadap kiblat, yaitu Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah Al Mukarramah, Arab Saudi.

Kedua Masjid Mujahidin tanpa kubah ini dibangun oleh pembangun, insinyur, dan arsitektur muslim Indonesia, di antaranya dari ITB yang cenderung membangun masjid tanpa kubah. Hal ini bisa dilihat pula pada bangunan fisik Masjid Salman ITB, Masjid Istiqomah Bandung, dan Masjid Ukhuwah Islamiyah (UI) Depok. Ini merupakan buah karya dan peradaban umat Islam khas Indonesia.

Perbedaannya

Selain persamaan juga ada beberapa perbedaannya. Adapun perbedaannya bukan hanya berkaitan dengan bangunan fisik, lokasi, dan pengelolaannya, melainkan aktivitas yang dilaksanakan di dalamnya. Perbedaan ini bukan untuk membandingkan keduanya mana yang baik dan buruk, atau yang besar dan kecil, apalagi banyak sedikit jamaahnya.

Semua ini memerlukan riset atau survei khusus. Namun, perbedaannya berdasarkan pengalaman beribadah dan beraktivitas di dalamnya. Pertama, Masjid Raya Mujahidin Bandung bangunannya lebih luas terdiri atas dua lantai. Adapun tempat yang digunakan untuk ibadah salat lima waktu, ibadah Jumat, taraweh Ramadan dan iktikaf bertempat di lantai dua.

Di lantai bawah untuk aula dan kantor. Tempat wudu ada di dua lantai. Tidak ada menara yang dibangun. Di sekitarnya ada bangunan untuk rumah imam dan kantor-kantor Muhammadiyah dan ortomnya.

Sementara itu, Masjid Mujahidin Kukusan, Depok, bangunannya lebih kecil dan juga dua lantai. Namun, tidak penuh menutupi lantai bawah. Lantai bawah dan sebagian lantai dua dijadikan tempat salat termasuk iktikaf.

Baca Juga:  PCM Cibeunying Kidul: Tempat Menetasnya Kader Militan Muhammadiyah

Di lantai dua ada dibuatkan ruang kantor dan lainnya. Di sekitar masjid tidak ada bangunan lagi. Kantor Muhammadiyah dan ortomnya jadi satu di lantau dua. Termasuk untuk kantor remaja masjidnya.

Kedua, pengelola atau DKM Masjid Raya Mujahidin Bandung dibentuk oleh PWM Jawa Barat. Periodenya sama dengan PWM. Ketuanya dipilih dan ditetapkan dari salah satu pengurus PWM Jawa Barat atau mantan pengurus yang dikenal sebagai ustaz, ulama, mubalig, atau khatib di masjid tersebut. Disediakan kantor sekretariat dan staf yang membantunya setiap hari dan mendapatkan mukafaah atau transfortasi.

Adapun pengelola atau DKM Masjid Mujahidin Kukusan Depok dibentuk dan disahkan oleh PRM Kukusan dengan periode yang sama. Ketuanya juga dipilih dari pengurus atau anggota Muhammadiyah ranting setempat yang biasa menjadi jamaah masjid sehari hari.

Ia juga ustaz, mubalig, dan khatib di masjid. Tinggalnya dekat masjid dan tidak berkantor setiap hari. Ia juga tidak mendapat mukafaah apa-apa kecuali staf yang bekerja di masjid.

Ketiga, Masjid Raya Mujahidin Bandung adalah masjid raya. Berlokasi di Kota Bandung, ibu kota Jawa Barat, di lingkungan elite dan jamaah yang datang dari mana-mana. Saat salat Jumat dan taraweh Ramadan banyak jamaah yang membawa kendaraan.

Hal ini membuat infaknya cukup besar dalam memakmurkan masjid. Infak ini digunakan untuk kegiatan masjid termasuk kesejahteraan para asatiz yang terlibat dalam dakwah dan memakmurkan masjid.

Berbeda dengan Masjid Mujahidin Kukusan Depok yang hanya sebuah masjid jami yang berlokasi di perkampungan di Kota Depok bagian utara. Namun, jamaahnya selalu ramai terutama pada saat salat Jumat dan taraweh Ramadan. Pemasukan infaknya, meskipun tidak sebesar Masjid Raya Mujahidin Bandung, dapat memberikan kesejahteraan para asatiz yang terlibat dalam kegiatan ibadah dan dakwah di dalamnya.

Yang menarik pada saat pandemi covid-19 tahun 2020 tidak ada salat Jumat. Namun, pengurus tetap mengirim kafalaah khatib yang tidak bisa bertugas karena lockdown di rumahnya. Wallahu ‘alam.***

___

Sumber: muhamamdiyah-jabar.id

Editor: FA

PMB UM Bandung