Oleh: Ace Somantri – Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM – Berbuat baik tanpa ada tujuan, ibarat menanam pohon tetapi tidak paham nilai manfaat dari pohon tersebut. Sangat sia-sia karena tanpa manfaat.
Sejatinya segala sesuatu yang dikerjakan harus ada maksud dan tujuan, bisa untuk jangka pendek ataupun jangka panjang. Semua itu bisa direncanakan dengan baik.
Jauh dekat tujuan bukan masalah karena yang penting jelas dan tegas apa yang akan dicapai. Kenapa itu penting? Karena selama berbuat dan bekerja akan menyerap tenaga dan waktu.
Satu detik hingga satu jam tenaga dan pikiran jangan sampai terbuang. Tenaga dan energi ketika habis bisa di-recovery. Bisa charger sesuai dengan kapasitas daya tampung energi yang dimiliki.
Sementara ketika waktu satu detik saja hilang, sungguh waktu tersebut tidak akan pernah kembali. Apalagi kalau waktu yang hilang itu durasinya berjam-jam, kerugian sangat besarlah yang didapat. Bukan hanya materil, melainkan imateril yang bersifat strategis.
Waktu sangat berharga tidak bisa dinilai dengan nilai dolar atau rupiah. Waktu yang terlewati begitu saja tanpa ada volume nilai yang dapat diisi yang penuh arti, tak ubahnya sebuah wadah yang terpajang tidak bermanfaat.
Wadah itu keberadaannya tidak menimbulkan manfaat. Lambat laun habis dimakan usia. Jika ini benar terjadi pada kita, sungguh merugi kita dibuatnya. Tidak bernilai sama sekali.
Bagi pebisnis atau pedagang, waktu ibarat uang. Bagi guru, dosen, atau ustaz, waktu adalah pendidikan.
Bagi para teknokrat, waktu adalah karya cipta. Sementara waktu bagi para pekerja adalah karier.
Itulah waktu sangat berharga. Nilai harganya ditentukan sesuai dengan profesi masing-masing. Namun, ada yang lupa bahwa waktu dimaknai sesuatu yang membuat situasi kondisi senantiasa terlewati tanpa henti dan tanpa disadari.
Ibarat pedang
Benar kata Ali ibnu Abi Thalib bahwa waktu seperti pedang. Tajamnya pedang tidak setajam cepatnya waktu. Waktu menentukan segala sesuatu dalam hidup.
Menyia-nyiakan waktu sama halnya membunuh diri secara pelan-pelan. Hari-hari berjalan tiada arti.
Waktu tidak ada usianya, tetapi justru usia ditentukan oleh waktu. Beban berat bukan sama waktu, melainkan yang membebani adalah kemalasan mengisi waktu. Kalender bukan waktu, melainkan hanya alat untuk membantu manusia sadar akan waktu.
Masih teringat kata-kata orang tua dan guru yang sering muncul dalam pembicaraan ringan: “Guru wong atua karo”. Kedudukan orang tua dan guru memiliki peran yang sama untuk dijadikan sebagai sandaran berkata, berbuat, dan berkarya.
Dengan waktu, semua bisa ada. Oleh karena itu, sekali lagi bahwa waktu sangat berharga.
Waktu bukan benda, melainkan dengan ada waktu bisa menjadi benda yang berharga. Beda rasa, beda warna, dan juga beda harga, bukan alat ukur nilai baik dan benar.
Benda akan berharga atau tidak, sejatinya ditentukan sejauh mana waktu disiasati. Mengatur dan menyiasati waktu itu sangat penting agar bisa menjadikan benda lebih berarti.
Selama ada waktu, di situ akan ada nilai sebuah arti yang belum banyak digali. Banyak sekali situasi yang tidak terkondisikan untuk menjadi tradisi yang berisi bagi para generasi.
Banyak profesi dan tenaga ahli berbagi kompetensi semata-mata mereka berarti ketika karya inovasi memberi solusi. Berhenti berkreasi karena pengisi waktu terbatasi dengan fisik jasadi.
Revisi demi revisi situasi dan kondisi untuk memperbaiki agar lebih presisi sesuai dengan kriteria yang disepakati. Formulasi peran dan posisi masyarakat sudah pasti sesuai dengan hati.
Memberi solusi bagian dari titah ilahi. Itu bukan sekadar gengsi, melainkan berusaha bersama membangun spirit dan motivasi menjaga negeri.
Manusia tentu tidak seperti hewan. Mereka berlari ketika memburu mangsa, berlari karena takut dimangsa, atau berhenti ketika semua sudah aman terkendali.
Sementara manusia tidak berhenti ketika semua terkendali. Justru emosi mendorong untuk menginvasi dan memperluas teritori yang siap dikuasai.
Syahwat hewani
Syahwat emosi manusia pada dasarnya syahwat hewani. Apa pasal? Karena manusia dikenal dalam ilmu fikih sebagai hayawan natiq (hewan berbicara). Bahkan sangat mungkin manusia nafsu syahwatnya melebihi binatang.
Misalnya, kambing hanya makan daun singkong, manusia bukan hanya daunnya, bahkan bisa barang dan ubinya juga dimakan. Harimau dalam waktu tertentu kekuatan membunuhnya bisa terbatas. Namun, manusia bisa banyak membunuh manusia lainnnya.
Karena hawa nafsu manusia didukung akal. Oleh karena itu, pencuri selalu punya banyak cara untuk mencuri, penjahat selalu ada cara untuk berbuat khianat dan bejat.
Manusia dasarnya mulia. Namun, pada waktu tertentu bisa lebih bahaya daripada binatang.
Jasad manusia akan kembali pada asalnya. Tidak ada waktu maju dan mundur karena yang ada manusia sering teperdaya oleh waktu.
Waktu tidak akan bisa kembali dan tidak bisa diputar dengan alat secanggih apa pun. Itulah filosofi waktu.***











