Oleh: Ace Somantri – Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM – Fenomena era modern, manusia salah satu penghuni bumi, tidak berhenti berkreasi. Lain cerita di sebuah negara berkembang, Indonesia namanya, perilaku manusianya sangat unik.
Lebih dekat dengan benar, dari berbagai hasil survei, bahkan mungkin hasil riset yang dilakukan oleh orang-orang tertentu, sikap dan perilaku orang Indonesia umumnya, disadari atau tidak, kecenderungannya segala sesuatunya ingin dicapai dengan cara cepat dan praktis (instan).
Model dan gaya hidup manusia di belahan dunia, karakter dasarnya memang seperti itu. Terlebih di era digital, sejak munculnya orang-orang hebat dan kaya raya dalam waktu singkat yang menstimulasi orang-orang agar mampu mengikutinya, walaupun dengan cara-cara tidak lazim.
Perilaku instan sudah menjadi gaya hidup saat ini. Boleh dikatakan, hampir semua kegiatan hidup orang saat ini kecenderungannya seperti itu. Itu fakta yang tidak bisa dibantah.
Untuk memenuhi kebutuhan pokok dengan cara instan, cukup pijit tombol pesan, maka dalam waktu singkat tersedia (barang, misalnya) sesuai pesanan.
Ingin muka paras cantik terlihat glowing, cukup pesan kosmetik yang langsung membuat wajah bersinar seketika, walaupun tidak mengetahui kandungannya apakah berbahaya atau tidak.
Cepat sehat dari sakit pun sampai beli obat dosis tinggi agar segera pulih. Bahkan tidak sedikit ada orang belajar singkat, tetapi langsung ingin bisa dan menguasai seketika.
Ada lagi yang lebih parah, sekarang banyak para pejabat dan birokrat cepat kaya dengan menghalalkan segala cara. Prinsip mereka adalah yang penting dirinya terlihat kaya raya.
Sikap dan perilaku instan sudah menjadi trendy semua kalangan. Tak pandang usia, mau tua, muda, belia, semua bergaya hidup sama, yakni segala sesuatu berharap cepat didapat.
Tidak dilarang untuk membuat sesuatu dengan praktis dan cepat ketika norma dan kaidah agama sebagai sandarannya. Yang menjadi masalah adalah ketika mengabaikan norma agama.
Nabi saja yang dijamin oleh Allah, butuh waktu untuk berjuang. Tidak dengan cara instan mengislamkan warga Makkah dan Yatsrib—sekarang dikenal kota Madinah.
Proses itu bagian dari ibadah. Bukan lama dan sedikit waktu sebagai ukuran, melainkan metode dan cara yang tidak melabrak kaidah agama itu yang menjadi tolok ukur.
Namun, jangan juga sesuatu yang harusnya bisa cepat lalu diperlambat. Ini kebiasaan buruk pelayanan publik yang harusnya bisa cepat malah diperlambat dengan alasan yang tidak rasional, kecuali ada angpao pelicin.
Saat ini gaya hidup masyarakat lebih instan, walaupun ada risiko berbahaya buat dirinya ataupun orang lain. Prinsip mereka yakni, ”Yang penting enak di gue, terserah buat elu!”
Budaya instan, serba-cepat, kadang-kadang juga membuat sebagian orang lebih hemat dan membuat orang berkreasi untuk memberikan pelayanan yang instan.
Para pelaku usaha yang mampu membaca orang berperilaku instan, dia mencoba mencari dan membuat produk barang atau jasa yang memberikan layanan praktis dan cepat.
Bahkan, tidak tanggung-tanggung iklannya menarik sekalipun dibumbui bohong. Hal yang penting adalah orang langsung beli dan tidak peduli dia rugi.
Hanya karena gengsi
Sistem jual beli online bagian dari aktivitas ekonomi yang tidak bisa dihindari. Faktanya, generasi hari ini lebih suka membeli dengan cara yang bergengsi.
Kesan tidak milenialis muncul ketika tidak mengikuti cara jual beli dengan peranti teknologi. Instan bukan sekadar keinginan, melainkan paksaan era digital.
Instan tidak tiba-tiba datang, tetapi ada perkembangan perilaku manusia yang berubah. Instan bukan sekadar mengada-ada, melainkan cara dan gaya hidup manusia masa kini.
Suka tidak suka, persentase masyarakat hari ini didominasi usia milenial, dimana 20 tahun ke belakang mereka sudah dikenalkan peranti teknologi yang namanya komputer.
Selanjutnya mereka akrab dengan berkembang laptop, tablet, smartphone, android, dan perangkat teknologi lainya yang memberikan layanan yang lebih.
Tidak menutup kemungkinan akan ada produk lain yang semakin mempercepat dan mempermudah. Akibatnya, cara hidup instan pun akan semakin menggila.
Generasi Y dan Z , bahkan generasi alpa yang akan datang, sudah dirancang untuk menembus ruang dan waktu tanpa butuh jarak yang ditempuh.
Metaverse yang terus dikembangkan oleh pembuat Facebook sudah pasti akan menjadi mainan baru masyarakat dunia. Termasuk juga Indonesia.
Persoalannya apakah kita hanya menikmati sebagai konsumen pasif dan uang kita tidak terasa disedot terus tanpa batas?
Ataukah menjadi konsumen aktif sembari minimal bisa memanfaatkan untuk peningkatan kapasitas dan kemampuan bidang yang sedang ditekuni?
Siapkan diri sedini mungkin. Jika terlambat, berikan kesempatan kepada generasi yang memahami. Jangan dipertahankan, tetapi pada waktu yang sama tidak mampu beradaptasi.
Esensinya, di era digital yang perubahannya sangat cepat ini, jangan sampai ada prinsip: kalau bisa instan, kenapa dibikin ribet?***
