Opini

Ketika Gunung Berhenti Berdoa: Risalah IMM tentang Tambang di Tanah Padjadjaran

Ketika Gunung Berhenti Berdoa: Risalah IMM tentang Tambang di Tanah Padjadjaran.***

Oleh: Ridwan Marwansyah SHum*

Gunung-gunung dahulu berzikir dengan caranya sendiri. Ia menyimpan hujan di dadanya, menurunkan air dengan sabar, dan mengajarkan manusia tentang keteguhan.

Dari kejauhan, gunung tampak diam. Namun sesungguhnya ia bekerja tanpa henti, menjaga keseimbangan, merawat kehidupan, dan mengikat masa depan dengan akar-akar yang tak goyah menahan bumi Padjadjaran.

Hari ini, zikir itu terputus, gunung-gunung dikerat, bukit-bukit dilukai. Tanah dibelah seperti tubuh tanpa suara.

Tambang-tambang tumbuh di Jawa Barat bukan sekadar sebagai aktivitas ekonomi, melainkan sebagai tanda zaman yang kehilangan kebijaksanaan. Di perut bumi, mesin meraung lebih keras daripada nurani.

Batu dipisahkan dari tanahnya, pasir diangkut meninggalkan rongga, dan yang tersisa hanyalah lubang menganga “seperti pertanyaan yang tak pernah dijawabdijawab”, sampai kapan bumi harus menanggung beban keserakahan manusia?”

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Barat membaca luka ini bukan dengan kacamata teknokratis semata, melainkan dengan kesadaran iman.

Sebab dalam Islam, bumi bukanlah benda mati. Ia adalah ayat Tuhan yang dibentangkan. Ia hidup, bernapas, dan bersaksi. Merusaknya berarti merusak hubungan manusia dengan Penciptanya.

Al-Qur’an telah lama memberi peringatan, bahwa kerusakan di darat dan laut lahir dari tangan manusia sendiri. Namun, manusia modern sering kali tuli terhadap ayat-ayat yang tidak tertulis di kertas.

Kita rajin membaca kitab, tetapi abai membaca alam. Kita fasih berdoa, tetapi lupa menjaga tempat doa itu berpijak.

Di Jawa Barat, pertambangan galian C dan eksploitasi perbukitan telah mengubah wajah desa-desa. Lereng yang dulu hijau kini botak. Sungai yang dahulu jernih kini membawa lumpur dan ketakutan.

Ketika hujan turun, air tidak lagi menemukan pelukan tanah, melainkan meluncur deras, membawa longsor, banjir, dan kabar duka. Lalu kita menyebutnya bencana alam seolah alam datang tanpa sebab, seolah manusia tak pernah ikut campur.

IMM menolak lupa. IMM menolak menyebut luka sebagai takdir semata.

Sebab Islam tidak mengajarkan penghapusan tanggung jawab. Tauhid bukan hanya pengakuan tentang keesaan Tuhan, tetapi kesadaran tentang batas manusia.

Ketika batas itu dilampaui ketika gunung diperlakukan sebagai barang dagangan, maka keseimbangan (mizan) runtuh, dan kehidupan kehilangan arah.

Yang paling sunyi dalam tragedi tambang adalah suara warga. Mereka yang tinggal paling dekat dengan lokasi eksploitasi justru paling jarang didengar.

Debu menjadi bagian dari napas mereka. Jalan rusak menjadi pemandangan sehari-hari. Ketakutan akan longsor menjadi teman tidur. Sementara keuntungan berjalan menjauh, mengikuti jalur kekuasaan dan modal.

Dalam pandangan Islam, ini bukan sekadar ketimpangan ekonomi. Ini adalah ketidakadilan yang melukai martabat manusia.

Islam berpihak pada mereka yang dilemahkan, bukan pada mereka yang memperkaya diri dengan merusak kehidupan orang lain.

Maka bagi IMM, membela lingkungan adalah membela manusia. Tidak ada jarak di antara keduanya.

Muhammadiyah sejak kelahirannya adalah gerakan yang menautkan iman dengan tindakan. Islam berkemajuan bukanlah slogan kosong, melainkan ikhtiar menghadirkan nilai ilahiah dalam kehidupan nyata.

Di tengah krisis ekologis Jawa Barat, nilai itu diuji. Apakah kita akan diam demi kenyamanan, atau bersuara demi masa depan? IMM memilih bersuara.

Bukan dengan kemarahan yang membabi buta, tetapi dengan keberanian moral. Bukan dengan romantisme perlawanan, tetapi dengan kesadaran intelektual.

Tambang bukan untuk dibenci, tetapi untuk ditertibkan oleh etika. Pembangunan bukan untuk ditolak, tetapi untuk diarahkan agar tidak menjadi alat penghancur kehidupan.

Jawa Barat memiliki ingatan panjang tentang harmoni dengan alam. Budaya lokal mengajarkan bahwa gunung adalah titipan, sungai adalah nadi, dan tanah adalah ibu.

Islam datang tidak untuk menghapus kearifan itu, melainkan menyempurnakannya. Namun, hari ini, ingatan itu dikubur oleh logika ekstraktif yang melihat bumi sebagai angka dan grafik keuntungan.

IMM melihat bahwa krisis tambang bukan hanya krisis lingkungan, tetapi krisis cara pandang. Selama tanah hanya dilihat sebagai sumber daya, dan bukan ruang hidup, maka luka akan terus berulang.

Selama kebijakan lebih cepat melayani modal daripada melindungi rakyat, maka longsor akan terus menjadi berita rutin.

Masa depan Jawa Barat tidak boleh dibangun dari lubang-lubang tambang yang ditinggalkan. Generasi mendatang berhak atas tanah yang utuh, air yang bersih, dan gunung yang kembali berdoa.

Islam mengajarkan tanggung jawab lintas generasi, bahwa kehidupan hari ini tidak boleh mencuri hak hidup esok hari.

Di tanah Padjadjaran yang terluka ini, IMM memilih berdiri di antara iman dan perlawanan yang bermartabat. Merawat bumi adalah ibadah yang panjang.

Ia tidak selalu bertepuk tangan, tetapi dicatat oleh sejarah. Sebab pada akhirnya, bumi akan bersaksi, apakah kita penjaga, atau sekadar penjarah yang singgah sebentar lalu pergi.

Dan ketika gunung kembali berdoa, semoga manusia telah belajar mendengarkan.

*Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPD IMM Jawa Barat

Exit mobile version