Refleksi Pasca Milad 109, Haedar: Kenapa Muhammadiyah Harus Lahir?

oleh -
Sumber: muhammadiyah.or.id

BANDUNGMU.COM — Perjuangan Muhammadiyah mensyiarkan dakwah Islam bukan tanpa hambatan.

Pasalnya Muhammadiyah langsung dihadapkan dengan dua realitas ganda: merespon dominasi aliran mistik seperti bidah dan khurafat dalam Islam di Indonesia, dan melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda dengan cara non-konfrontatif seperti pengembangan mutu pendidikan dan kesehatan.

“Kenapa Muhammadiyah lahir karena pada saat itu kaum muslimin terjajah, tertinggal, dan terbelakang baik dalam alam pikiran keagaamaan maupun aspek duniawiyah. Ketertinggalan ini menggerakkan Kiai Dahlan untuk melahirkan organisasi yang bisa menawarkan solusi nyata,” kata Haedar Nashir dalam acara yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya pada Selasa (23/11/2021).

Semangat memajukan bangsa ini lahir dari kesadaran historik-patriotik, di mana sejak awal berdiri, Muhammadiyah memang tak bisa lepas dari program utama gerakannya yakni pendidikan, pelayanan kesehatan, dan sosial di Indonesia.

Dengan kata lain, Haedar menginginkan agar segenap warga Muhammadiyah melakukan refleksi terhadap perjuangan persyarikatan di awal-awal berdiri sehingga melahirkan solusi-solusi konkrit untuk menyelesaikan permasalahan bangsa dan insan semesta.

“Jika kita refleksikan saat ini maka Muhammadiyah harus terpanggil terus unutk memerangi, memecahkan dan menjadi jalan baru dari ketertinggalan-ketertinggalan dengan umat lain,” tutur Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini.

Selain itu, Muhammadiyah mendefinisikan dirinya sebagai gerakan dakwah dan tajdid. Tujuan utama dakwah ialah menyebarluaskan ajaran Islam, dengan kata lain melakukan pembebasan manusia dari kegelapan hidup (zhulumat) menuju cahaya pencerahan (nur).

Haedar mengingkatkan agar jangan sampai dakwah dilakukan dengan cara-cara yang melampaui batas. Namun harus dengan bil uswah hasanah (keteladanan yang baik).

Jika dakwah bertujuan menyebarluaskan ajaran Islam, maka tajdid dimaksudkan agar memajukan peradaban Islam, dengan kata lain, mewujudkan dan menyempurnakan kemaslahatan hidup, bukan kemafsadatan (kerusakan) dan kebangkrutan.

Haedar mengatakan bahwa dalam melakukan tajdid atau pembaharuan, Muhammadiyah senantiasa menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani.

“Karenanya, mendefinisikan Muhammadiyah tidak hanya gerakan dakwah tapi juga tajdid. Artinya, menyebarluaskan ajaran Islam sekaligus membawa kemajuan peradaban. Maka sayap Muhammadiyah itu ada dua yaitu dakwah dan tajdid,” kata Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.***(Muhammadiyah.or.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *