Oleh: Ace Somantri — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM – Disadari atau tidak, banyak hal dan peristiwa yang muncul di permukaan alam semesta. Sejak Adam-Hawa dicipta kemudian menjadi penghuni dunia, banyak cerita serta kisah bagaimana manusia menjalani hidup dan kehidupan penuh dinamika.
Semua yakin, ketika peristiwa anak Adam-Hawa yaitu Qabil dan Habil berseteru karena cinta sama Iklima, tidak sangka dan diduga terjadi malapetaka yang tidak diminta karena salah satu di antara mereka perlaya berebut cinta Iklima.
Cinta sering membuat buta, sekalipun nyawa menjadi taruhannya, apalagi hanya harta. Bisakah kita mencintai Sang Pencipta yang sudah banyak memberi berbagai hal yang dirasakan manusia hingga jumlah dan ukuran tak terhingga?
Kiranya tidak berlebihan ketika seorang manusia yang mengorbankan harta kekayaannya hingga puluhan miliar untuk umat dan bangsa, bukan karena bangga dan ria.
Belum lama terdengar di telinga kita, seorang pengusaha Indonesia telah mewakafkan harta kurang lebih di angka 60 miliar untuk pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah di Ciparay Kabupaten Bandung.
Berita yang didengar bahwa yang bersangkutan setiap hasil usahanya sebagian lebih dari biasa orang bersedekah selalu diberikan untuk kepentingan umat dan bangsa.
Dia punya paham agama yang diyakini bahwa hanya ketakwaanlah yang menyelamatkan jiwa dan raga. Bukan kekayaan dan harta.
Oleh karena itu, berbuat baik kapan pun adalah suatu keniscayaan seorang muslim di mana pun berada. Sikap takwa akan mempersatukan umat dan bangsa.
Sikap dan budaya umat muslim bukan mengedepankan ego, apalagi superego. Kesadaran diri terhadap kekurangan dan kelebihan diri membuka kejujuran hati untuk rela menerima kritik dan saran, bukan dipensif apalagi apologetif.
Jiwa dan sikap terbuka, lebih membuka ruang dialogis dengan mengedepankan kesamaan, bukan perbedaan. Sikap tersebut bagian turunan dari nilai takwa yang sudah diajarkan oleh nabiyullah Muhammad dengan kesehajaan, kemulian, dan kewibawaan akhlak.
Harta banyak yang dimiliki hasil usaha bersama istri habis untuk jihad di jalan Allah.
Bahkan sebuah kisah Sayyidah Siti Khadijah mengungkapkan seandainya hartanya sudah habis dan jiwa raganya juga tiada, dia merelakan tulang belulangnya jadi jembatan untuk perjuangan menegakkan dan menyebarkan Islam ke berbagai negeri.
Jauh dari tanah ke langit, sikap kita menumpuk harta lebih sering untuk jemawa dan ria. Malu dan tidak tahu diri. Selama ini tidak kaya harta. Ilmu tidak seberapa. Ibadah kadang-kadang ingin dilihat tetangga.
Bersedekah seingatnya. Bersaudara hanya karena satu paham agama. Kemudian hal yang sering kita rasakan sudah merasa paling baik dan benar dalam beragama.
Menjaga satu napas agama banyak goda dan perdaya. Pada akhirnya kadang-kadang lupa bahwa semua akhirnya akan tenggelam pada masanya.***











