PMB UMbandung
News

Indonesia Negara Paling Religius di Dunia, Tapi Tingkat Korupsi Tinggi, Kok Bisa?

×

Indonesia Negara Paling Religius di Dunia, Tapi Tingkat Korupsi Tinggi, Kok Bisa?

Sebarkan artikel ini
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafiq Mughni. Foto: muhammadiyah.or.id.***
PMB UMBandung

BANDUNGMU.COM — Pada 2020, Pew Research Center melakukan survei di 34 negara terkait tingkat religiusitas bangsa-bangsa yang ada di dunia.

Dari survei bertajuk “The Global God Divide” itu, Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara paling religius dengan angka 96 persen. Indonesia diikuti oleh Nigeria dan negara-negara dunia ketiga lainnya.

Meski sepatutnya bersyukur atas fakta tersebut, tetapi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syafiq Mughni, menilai ada yang perlu dipikirkan lebih mendalam.

Sebab negara-negara yang memiliki angka religiusitas rendah justru adalah negara maju dengan indeks korupsi paling rendah menurut data Transparansi Internasional pada 2021.

Baca Juga:  Raih Pahala Ramadhan Dengan Berbagi, Lazismu Jawa Barat Tebar 20.000 Takjil

“Sekarang kalau kita melihat negara-negara Eropa, Belanda itu cuma 39 persen. Tetapi ternyata Belanda itu menduduki nomor 8 sebagai negara terbersih dari korupsi. Ini menumbuhkan pertanyaan apakah ada korelasi antara tingkat religiusitas dengan kebersihan tindak korupsi itu?” kata Syafiq dalam Pengajian Ramadan 1443 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Selasa petang (05/04/2022), seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah.

“Jangan-jangan nanti ada hipotesis (orang tidak bertanggung jawab) bahwa tidak religius sebuah bangsa, maka bangsa itu semakin bersih dari korupsi,” imbuhnya.

Baca Juga:  UM Bandung Gelar Upacara HUT ke-77 Republik Indonesia, Ini Pesan Rektor

Syafiq menilai ada yang luput dari korelasi bertentangan dua survei tersebut. Survei tentang angka religiusitas hanya memuat pertanyaan seputar spiritualitas pribadi atau makna agama bagi diri setiap orang.

“Ini menunjukkan indeks pertanyaan tidak memasukkan akhlak, hanya spiritual saja, tetapi sisi moral tidak masuk dalam indeks,” jelasnya.

Pada sisi lain, Syafiq menilai survei tersebut setidaknya juga bermanfaat karena memuat fakta tersirat bahwa bangsa Indonesia hanya memperhatikan aspek religiusitas di tataran peribadatan.

Baca Juga:  Gender Reveal Party Penguin Sport Game Thrill in UK

Namun, belum sepenuhnya disertai dengan pengamalan aspek moralitas (akhlak) yang sejatinya adalah inti dari keberagamaan.

“Indeks ini dibuat sebagian, tetapi yang lain juga membuat indeks berbeda, tetapi ini adalah faktor-faktor yang bisa kita jadikan apakah kita religius atau tidak,” pungkasnya.***

PMB UMBandung