BANDUNGMU.COM — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menjelaskan sebagai pemimpin mengampu tugas untuk memberikan jalan dan memberikan arah untuk orang yang tersesat. Selain itu pemimpin juga diharapkan mampu memberikan solusi yang dianggap efektif.
Menurut Haedar fungsi pemimpin juga disebut direct yakni memerintah dan melakukan sesuatu yang bersifat langsung. Dari berbagai konsep dasar seperti itu betapa pentingnya pemimpin itu. Ibarat kepala di tubuh kita.
“Kata pepatah ‘ikan busuk dimulai dari kepala’ artinya adalah baik buruknya sebuah bangsa, umat, lingkungan, komunitas, itu semua tergantung kepada pemimpinnya,” jelas Haedar Nashir, dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Minggu (06/03/2022) pagi.
Lebih lanjut, Haedar menjelaskan kepemimpinan transformatif yang berasal dari kata transform, yakni kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan.
Seorang pemimpin dengan tindakannya membawa ke arah perubahan sejatinya itulah kepemimpinan transformatif. Kepemimpinan transformatif dan karismatik merupakan hal yang berbeda.
Haedar mengatakan kepemimpinan karismatik adalah apa yang dikonstruksikan oleh orang atau masyarakat sebagai karisma. Dengan kata lain pemimpin tersebut biasa saja, tetapi oleh khalayak ramai ia di agung-agungkan.
Namun baik pikiran maupun alamiah, kepemimpinan karismatik memiliki daya tarik kepada seseorang untuk mengikuti pemimpin tersebut dan memiliki daya untuk perilaku apa yang diinginkan.
Aspek dari kepemimpinan transformatif, kata Haedar, meliputi beberapa poin. Pertama, memiliki aspek kreatif yakni pemimpin melakukan sesuatu di luar cara berpikir orang dalam hal berkarya yang mampu menghasilkan kreasi, orang yang mampu menciptakan hal baru.
Kedua yakni kepemimpinan yang inovatif yang mampu melahirkan terobosan baru dalam ide dan karya-karyanya.
Ketiga yakni kepemimpinan yang bisa melakukan recovery yaitu memperbarui. Contohnya di era pandemi saat ini mencoba melakukan perubahan baru. Keempat, adanya progress yaitu kemajuan yang bisa diukur.
“Harapannya di perguruan tinggi kita mampu mengembangkan 4 aspek kepemimpinan ini,” tutur Haedar Nashir.
Kepemimpinan profetik merupakan kepemimpinan kenabian yang berorientasi pada nabi. Proyeksi dari ukhuwah yakni proyeksi dari apa yang dilakukan Nabi dalam memimpin dunia.
Haedar juga menjelaskan bahwa ada dua substansi dalam hal tersebut. Pertama, dalam menegakkan nilai-nilai Islam. Ada nilai metafisik dan nilai agama yang punya potensi habluminallah dan habluminannas.
Kemudian ada nilai pola perilaku yakni bagaimana seseorang bertindak yang terpuji dan baik serta tidak berkata yang bersifat mudarat.
Nilai ini mampu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga agama bukan hanya dogma ajaran, melainkan mengaktual juga. Nabi membuktikan dengan menerapkan nilai-nilai agama Islam.
Yang kedua, yakni dimensi duniawi. Kepemimpinan profetik juga mengurus muamalah. Tidak benar ketika pengurus muslim menjadi antidunia, harus diseimbangkan.
Namun caranya berbeda dengan orang yang hanya berorientasi pada dunia. Harus memadukan urusan dunia dan akhirat. Kuncinya adalah sidiq, smanah, tabligh, dan fatanah.
“Setiap pemimpin itu harus belajar termasuk belajar dari kesalahan dan harus membaca. Sebagai pemimpin perguruan tinggi ikuti perkembangan berita dari media sosial, dari buku, hasil penelitian, dan sebagainya untuk bahan belajar. Kepemimpinan profetik dimulai dari hal kecil sampai hal besar,” tutupnya.***












