PMB UMbandung
Opini

Jadi Pembantu di Negeri Sendiri?

×

Jadi Pembantu di Negeri Sendiri?

Sebarkan artikel ini
PMB UMBandung

OLEH: ACE SOMANTRI — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

BANDUNGMU.COM — Bangsa Indonesia punya sejarah panjang menjadi bangsa yang terjajah. Watak dan karakter sosialnya terbentuk secara struktural.

Masyarakat yang kritis dihabisi tidak diberi ruang untuk hidup, kecuali para pengabdi pada kolonialis ketika itu. Tiga abad lebih secara politik bangsa Indonesia dicengkeram dalam kekuasaan Hindia Belanda.

Termasuk sistem ekonomi VOC yang berkuasa penuh dan menjadi penghisap darah masyarakat pribumi. Entah beberapa juta rakyat pribumi mati sia-sia karena darahnya habis dihisap oleh VOC Hindia Belanda.

Fakta sosial hingga saat ini penjajahan tidak berhenti. Jauh panggang dari api rakyat bahwa pribumi menguasai negeri. Malah yang ada semua orang yang katanya mengabdi pada negeri malah menjadi penghamba pada kekuasaan oligarki.

Dari dahulu hingga kini warga pribumi selalu disakiti. Namun lebih menyakitkan lagi ketika melihat para penghamba oligarki menghiasi bibirnya dengan janji manis tetapi bohong. Mereka menikmati hidup dari darah saudaranya sendiri.

Kebijakan demi kebijakan seolah-olah peduli pada negeri. Padahal itu hanya bumbu untuk kursi jabatan yang mereka ditunggangi. Mereka seolah-olah tidak peduli apakah kebijakan itu berpihak pada negeri atau oligarki.

Baca Juga:  Al Quran Pembedah Misteri Alam

Namun faktanya masyarakat pribumi tetap tidak berdaya dan selalu terperdaya oleh dampak dari kebijakan yang mempersulit. Jangankan bisa mandiri, untuk berdiri di atas kaki sendiri saja sulit.

Katanya ada kebijakan ekonomi kreatif untuk menumbuhkembangkan industri kecil dan menengah. Namun lagi-lagi itu hanya janji tidak yang tidak ada realisasi yang pasti.

Bahkan kebijakan itu seakan-akan dinikmati oleh kaki-kaki usaha oligarki. Pelaku usaha pribumi hanya tersenyum meringis kesakitan.

Ruang dan kesempatan mereka malah diisi oleh produk yang datang dari banjir bandang impor “negeri tirai bambu” yang dialirkan dari tuan-tuannya oligarki.

Soal mentalitas

Pasar Baru Tanah Abang Jakarta, Pasar Baru Kota Bandung, dan pasar-pasar induk lainnya yang menjadi pasar industri ekonomi kreatif, sudah penuh sesak oleh hasil produksi dari negeri yang katanya para tuan oligarki. Alasannya karena harga produk mereka lebih murah dibandingkan dengan harga produksi anak negeri.

Banjir bandang produksi impor telah membumihanguskan produksi warga pribumi yang semakin hari semakin memprihatinkan. Berbagai promosi dan sosialisasi gerakan ekonomi kreatif berbasis keumatan terus-menerus diselenggarakan dengan berbagai cara dan pendekatan.

Namun hasilnya tetap tidak mempengaruhi terhadap peningkatan ekonomi umat. Ekonomi kreatif yang berusaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat masih jauh dari harapan karena kebijakannya hanya behenti pada industri yang terikat dengan oligarki.

Baca Juga:  Kolaborasi: The Idea of Prosumer

Ada kebijakan tidak sampai kepada masyarakat yang seharusnya menerima manfaat. Karena semua instrumen banyak membuat masyarakat tidak siap, akhirnya tetap yang menikmati kebijakan tersebut hanya segelintir orang.

Sejatinya ekonomi kreatif menjadi solusi untuk sebagian masyarakat dalam mengimbangi kesejahteraan hidup. Namun ternyata banyak hal yang harus dipersiapkan, terutama mentalitas masyarakat, untuk survive menjadi petarung jalanan dalam mendesain hidup.

Mentalitas harus dipersiapkan dengan baik. Tentu saja tujuannya agar tidak menjadi masyarakat yang punya mentalitas penghamba yang menjilat sana-sini. Kemudian seraya berharap mendapat bagian dari tuan-tuan oligarki tanpa harus berjuang bercucur keringat dan darah dari hasil kerja keras mandiri.

Soal mentalitas sebagaian warga pribumi menjadi penghamba pada tuan sejatinya dibentuk sangat lama. Sejak kekuasaan Hindia Belanda pola pengabdian yang menghamba dengan perbedaan kelas sudah membudaya. Kenyataan yang ada yakni yang menjadi tuan (majikan) adalah para warga asing dan pembantunya warga pribumi.

Jangan jadi babu

Memang memprihatinkan dan berat. Harus dipahami juga bahwa budaya struktur sosial yang dibentuk penjajah dengan perbedaan kelas telah mendarah daging. Pada lain pihak untuk menjadi warga masyarakat yang benar-benar kreatif dan inovatif nyatanya butuh waktu panjang dalam penempaan dan perjuangan.

Baca Juga:  Socratic Method dalam Pendidikan Agama Islam

Kreativitas merupakan upaya untuk membentuk sikap dan mental mandiri, bukan mental buruh dan pekerja. Sangat disayangkan kebijakan pemerintah untuk membentuk mental kreatif sejak di bangku sekolah terlalu diberi mimpi-mimpi dunia kerja, bukan dunia wirausaha atau bisnis.

Bahkan tidak bisa menutup mata, faktanya hingga saat ini sebagian besar pemilik industri adalah orang asing, sedangkan para buruhnya orang pribumi.

Warga pribumi hanya menjadi pembantu rumah tangga, buruh kuli, buruh pabrik, satpam, cleaning service, staf admin, dan sedikit yang jadi supervisor. Selebihnya direksi dan CEO semua dipegang orang asing.

Oleh karena itu, benarlah kata banyak orang bahwa pribumi seakan-akan menjadi pembantu di negeri sendiri. Lebih menyayat dan mengiris hati, pemimpin negeri ini menjadi seolah-olah “penghamba” oligarki.

Harus ada upaya untuk mengakhiri semua kesan dan perkataan seperti itu. Kita jangan mau dijadikan sebagai pembantu di negeri sendiri. Semoga ini segera di akhiri.***

PMB UMBandung