PMB UMbandung
News

Jurnalisme Filantropi, Konsep Baru yang Menjadikan Dampak Lebih Penting daripada Viralitas

×

Jurnalisme Filantropi, Konsep Baru yang Menjadikan Dampak Lebih Penting daripada Viralitas

Sebarkan artikel ini
PMB UMBandung

BANDUNGMU.COM, Jakarta – Perubahan lanskap media digital menuntut lahirnya pendekatan baru dalam praktik jurnalistik.

Menjawab tantangan tersebut, dosen Prodi Ilmu Komunikasi UM Bandung Roni Tabroni memperkenalkan konsep jurnalisme filantropi melalui buku terbarunya, “Jurnalisme Filantropi: Media dan Visi Kesejahteraan”, yang diterbitkan Penerbit Suara Muhammadiyah.

Buku tersebut diluncurkan dan dibedah dalam forum yang diselenggarakan Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Penerbit Suara Muhammadiyah di Aula Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (29/07/2026).

Dalam pemaparannya, Roni menjelaskan bahwa buku itu lahir dari kegelisahan akademik atas dua fenomena yang berkembang secara terpisah.

Baca Juga:  Semakin Bangga Ngampus di UIN Bandung Yang Raih 3 Penghargaan JDIHN dan LDCC Award 2023

Di satu sisi, jurnalisme tengah menghadapi tekanan akibat disrupsi teknologi dan banjir informasi. Di sisi lain, masyarakat Indonesia memiliki tradisi filantropi yang kuat, tetapi belum terhubung secara optimal dengan dunia jurnalistik.

Menurutnya, derasnya arus informasi belum tentu mampu melahirkan perubahan sosial.

Selama ini, jurnalisme lebih banyak menjalankan fungsi menyampaikan informasi dan kontrol sosial, tetapi belum cukup efektif menggerakkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi menyelesaikan berbagai persoalan publik.

“Buku ini digagas untuk menjembatani dua potensi besar tersebut. Melalui konsep jurnalisme filantropi, saya menawarkan sebuah disiplin keilmuan baru yang bersifat interdisipliner dan melahirkan paradigma serta konsep baru dalam bidang jurnalisme,” ujar Roni.

Baca Juga:  UM Bandung - Baznas Sepakati Kerja Sama Penelitian Potensi Zakat Hingga Muzaki dan Mustahik

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menegaskan, jurnalisme filantropi tidak berhenti pada aktivitas memberitakan persoalan sosial atau sekadar menggambarkan penderitaan masyarakat.

Sebaliknya, media harus mampu mengawal isu hingga mendorong lahirnya aksi nyata melalui mobilisasi kedermawanan dan partisipasi publik.

Ia menilai, media memiliki peran strategis sebagai penghubung antara informasi dan tindakan.

Oleh karena itu, pemberitaan tidak boleh berhenti ketika sebuah peristiwa dipublikasikan, melainkan terus dikawal hingga menghadirkan solusi dan menghasilkan perubahan sosial yang nyata.

Baca Juga:  Majelis Dikdasmen-PNF PP Muhammadiyah Sukses Gelar Rakornas Calon Sekolah Unggulan di Depok

Menurut Roni, keberhasilan jurnalisme filantropi tidak diukur dari banyaknya berita yang diproduksi ataupun tingginya angka pembaca dan viralitas.

Ukurannya adalah sejauh mana pemberitaan mampu memberikan dampak, menyelesaikan persoalan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Ukuran keberhasilan jurnalisme filantropi bukan pada banyaknya berita atau seberapa viral sebuah pemberitaan, melainkan pada seberapa besar dampaknya bagi kehidupan sosial masyarakat. Jurnalisme filantropi memiliki keberpihakan yang tegas, yaitu pada kebenaran, kemanusiaan, dan kesejahteraan sosial,” pungkas Roni.***(FA)

PMB UMBandung