BANDUNGMU.COM, Bandung — Memilih sekolah untuk anak tidak semestinya hanya didasarkan pada label favorit, kelengkapan fasilitas, atau reputasi yang melekat pada sebuah lembaga pendidikan.
Lebih dari itu, pendidikan yang berkualitas harus mampu membangun keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, karakter, dan akhlak.
Pada saat yang sama, keberhasilan pendidikan anak juga sangat ditentukan oleh motivasi belajar serta dukungan keluarga.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua BPH Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dadang Kahmad dalam program Catatan Akhir Pekan TV-Mu belum lama ini.
Menurut Dadang, pendidikan ideal tidak berhenti pada pencapaian akademik.
Anak perlu dibekali kemampuan untuk berkolaborasi, berkomunikasi, berpikir kreatif, memiliki empati, serta mampu menghadapi perubahan kehidupan.
“Pendidikan itu tidak hanya memberikan hard skill, tetapi soft skill. Anak harus memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga harus memiliki karakter dan akhlak yang baik,” ujar Dadang.
Sekolah Favorit Bukan Satu-Satunya Ukuran
Dadang mengingatkan para orang tua agar tidak menjadikan label sekolah favorit sebagai satu-satunya ukuran ketika menentukan tempat pendidikan bagi anak.
Menurutnya, sekolah dengan fasilitas lengkap dan reputasi tinggi memang dapat memberikan lingkungan belajar yang baik.
Namun, faktor tersebut tidak otomatis menjamin seorang anak akan berhasil.
“Sekolah favorit itu bukan jaminan bahwa anak pasti berhasil. Yang paling penting adalah bagaimana anak memiliki motivasi untuk belajar, kemudian ada guru yang baik dan orang tua yang memberikan dukungan,” katanya.
Oleh karena itu, orang tua perlu melihat kebutuhan dan karakter anak sebelum menentukan sekolah.
Setiap anak memiliki kemampuan, minat, dan gaya belajar yang berbeda sehingga pendekatan pendidikan tidak dapat diseragamkan.
Dadang menilai motivasi belajar menjadi salah satu modal penting bagi keberhasilan pendidikan.
Sekolah dapat menyediakan fasilitas dan guru terbaik, tetapi proses belajar akan sulit berkembang apabila anak tidak memiliki dorongan untuk belajar.
Guru Memegang Peran Penting
Selain anak dan keluarga, guru juga memiliki posisi strategis dalam menentukan kualitas pendidikan.
Guru yang berdedikasi tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran.
Namun, membangun suasana belajar yang menyenangkan dan mendorong siswa untuk aktif berpikir.
“Guru itu harus mampu membangkitkan motivasi anak. Materinya juga harus menarik, sehingga anak tidak merasa belajar sebagai sesuatu yang membosankan,” tutur Dadang.
Menurutnya, pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari akan membuat anak lebih mudah memahami manfaat ilmu yang mereka pelajari.
Oleh karena itu, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa lengkap fasilitas sekolah.
Namun, oleh kualitas interaksi antara guru dan siswa di dalam proses pembelajaran.
Orang Tua Jangan Lepas Tangan
Dadang juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua. Pendidikan, menurutnya, tidak selesai ketika anak meninggalkan ruang kelas.
“Jangan sampai sekolah itu hanya menjadi tempat menitipkan anak. Pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan orang tua,” ujarnya.
Orang tua memiliki peran dalam membangun kebiasaan belajar, mendampingi perkembangan anak, memberikan motivasi, serta menanamkan nilai-nilai tanggung jawab di lingkungan keluarga.
Sinergi antara sekolah dan keluarga menjadi semakin penting dalam pembentukan karakter.
Nilai yang diajarkan di sekolah perlu diperkuat melalui kebiasaan yang diterapkan di rumah.
“Kalau sekolah dan orang tua bisa bekerja sama dengan baik, anak akan mendapatkan lingkungan pendidikan yang lebih kuat. Jadi, tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah,” kata Dadang.
Pendidikan Harus Melahirkan Manusia Unggul
Dalam perspektif Muhammadiyah, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik.
Pendidikan juga harus melahirkan manusia yang memiliki iman, akhlak, keterampilan, dan kepedulian sosial.
Dadang menilai keseimbangan antara hard skill dan soft skill semakin penting di tengah perubahan dunia kerja dan kehidupan sosial yang berlangsung cepat.
“Anak-anak kita harus mempunyai kemampuan beradaptasi, mampu bekerja sama, mampu berkomunikasi, kreatif, inovatif, dan memiliki empati. Itu bagian dari pendidikan yang tidak kalah penting dari kemampuan akademik,” jelasnya.
Dengan kemampuan tersebut, anak diharapkan tidak hanya mampu memperoleh pekerjaan, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menciptakan peluang dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Tantangan Pendidikan Indonesia
Dadang juga menyoroti masih adanya persoalan pendidikan di Indonesia, mulai dari anak yang tidak melanjutkan sekolah hingga lulusan pendidikan yang belum sepenuhnya terserap dunia kerja.
Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan tidak cukup hanya memperluas akses.
Kualitas pembelajaran dan relevansi kompetensi juga harus terus diperkuat.
“Pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan zaman. Jangan sampai anak sudah bersekolah lama, tetapi ketika selesai tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan masyarakat dan dunia kerja,” ungkapnya.
Oleh karena itu, pendidikan perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, perubahan dunia kerja, dan kebutuhan sosial masyarakat.
Ikhlas dan Ihsan sebagai Nilai Pendidikan
Dalam pendidikan Muhammadiyah, pengembangan ilmu juga perlu disertai dengan nilai ikhlas dan ihsan.
Ikhlas berarti menjalankan pendidikan dengan niat yang baik dan tidak semata-mata mengejar kepentingan material.
Sementara itu, ihsan mendorong setiap orang untuk memberikan hasil terbaik dalam menjalankan tanggung jawabnya.
“Kalau pendidikan dilakukan dengan ikhlas dan ihsan, maka kita tidak hanya mengejar hasil secara duniawi, tetapi berusaha memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi orang lain,” ujar Dadang.
Nilai tersebut, menurutnya, penting diterapkan oleh seluruh ekosistem pendidikan, mulai dari guru, siswa, orang tua hingga pengelola lembaga pendidikan.
Muhammadiyah Perluas Akses Pendidikan
Muhammadiyah selama ini membangun jaringan pendidikan yang luas di berbagai wilayah Indonesia.
Ribuan sekolah Muhammadiyah menjadi bagian dari upaya membuka akses pendidikan bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Dadang menegaskan bahwa kesempatan memperoleh pendidikan tidak semestinya terhambat oleh persoalan ekonomi maupun gengsi lembaga pendidikan.
“Jangan sampai anak tidak sekolah hanya karena orang tuanya merasa tidak mampu. Muhammadiyah mempunyai banyak sekolah yang bisa menjadi pilihan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, keberadaan jaringan pendidikan Muhammadiyah merupakan bagian dari komitmen persyarikatan untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
Pada akhirnya, Dadang mengingatkan orang tua agar tidak terjebak dalam persaingan memilih sekolah hanya berdasarkan nama besar.
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu membantu anak menemukan potensinya, membangun karakter, menguasai ilmu, serta memiliki kemampuan untuk hidup dan bekerja sama dengan orang lain.
“Yang paling penting bukan gengsi sekolahnya, tetapi bagaimana anak itu tumbuh menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan bermanfaat,” pungkas Dadang.
Pendidikan dengan demikian bukan sekadar perjalanan memperoleh nilai dan ijazah.
Ia merupakan proses panjang untuk membentuk manusia yang memiliki pengetahuan, karakter, kepekaan sosial, dan kesiapan menghadapi masa depan.
Sekolah memberikan ruang untuk belajar. Guru memberikan arah. Orang tua memberikan dukungan. Dan anak sendirilah yang harus terus menumbuhkan kemauan untuk berkembang.***















