Opini

Keunggulan dan Kriteria Kampus Muhammadiyah

Oleh: Ace Somantri, Ketua STAI Muhammadiyah Bandung 2011-2015

BANDUNGMU.COM — Sejatinya spirit bersama untuk membangun amal usaha perguruan tinggi Muhammadiyah yang unggul dan berdaya saing harus selalu ditumbuhkan. Persaingan di luaran sana harus menjadi pemantik untuk siap ambil bagian kemudian berkompetisi dengan perguruan tinggi negeri ataupun swasta yang unggul.

Keunggulan kampus Muhammadiyah ada pada sejauh mana berkontribusi membangun masyarakat demi meningkatkan kualitas hidupnya. Keunggulan itu bukan dilihat dari banyaknya melahirkan sarjana yang kadang-kadang justru berkontribusi pada meningkatnya pengangguran terdidik.

Bahkan lebih sadis lagi kampus seolah-olah hanya melahirkan sarjana yang menjadi “sampah” masyarakat yang terdidik. Tidak kreatif dan tidak ada kemauan untuk berkarya serta berubah.

Oleh karena itu, ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan dalam mengelola perguruan tinggi Muhammadiyah. Menurut Prof E.S.H, bahwa di antara catatan penting itu yakni leadership, kompetensi, integritas, dan disiplin. Poin-poin ini saya coba tafsirkan berdasarkan pemahaman dan pengalaman.

Leadership

Pemimpin dan kepemimpinan benar-benar menjadi kunci agresivitas dan akseleratif. Pada dasarnya semua orang pemimpin, tanpa dibeda-bedakan dan tidak boleh membedakan satu dengan yang lainnya, kecuali yang membedakan adalah kemampuan dan produktivitas hasil kerja.

Kepemimpinan bukan pada suka dan tidak suka, melainkan ada pada keahlian memobilisasi sumber daya yang berguna dan bermanfaat untuk pencapaian hasil kinerja lebih produktif. Kemudian mengorganisir potensi yang ada pada sebuah institusi atau organisasi.

Kriteria pemimpin yang memiliki track record gemilang menjadi hal yang penting, bukan malah yang turut dan manut pada kekuasaan demi melanggengkan posisi untuk berkali-kali menduduki kursi tertinggi pada institusi.

Oleh karena itu, leadership adalah soal mengelola dan seni mengambil sebuah keputusan dalam sebuah organisasi. Kreativitas dan mampu membaca arah masa depan juga sangat menentukan demi menunjang kecakapan leadership.

Kompetensi

Dalam pengelolan sebuah institusi pendidikan, termasuk tingkat perguruan tinggi, kompetensi menjadi harga mati. Akan mengalami turbulensi keras dan kerusakan fatal dalam sebuah institusi apabila pemimpinnya tidak memiliki kompetensi.

Ternyata tegas dalam ajaran Islam bahwa tunggulah kehancuran sebuah institusi jika kepemimpinannya diberikan atau diamanahkan kepada orang yang bukan ahlinya.

Kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman yang disertai keterampilan (skill) dalam sebuah kepemimpinan wajib dimiliki dengan ditunjang juga dengan komunikatif dan negosiatif.

Kemasan kepemimpinan yang ditonjolkan yakni yang berjiwa petarung. Kepemimpinan yang terus meretas tanpa batas. Namun, dengan catatan harus diiringi dengan sabar dan tawakal apapun yang terjadi seraya terus melakukan perbaikan secara simultan.

Integritas

Karakter kepemimpinan dalam manajemen pengelolaan harus berorientasi pada tuntutan moral. Kemudian punya ketersambungan antara yang seharusnya dengan apa yang dijalankan. Keduanya saling terikat.

Dengan demikian, seorang pemimpin yang berintegritas bisa muncul, dia punya sikap tetap konsisten. Dia tidak terpengaruh oleh bisikan-bisikan yang merusak sikap kepemimpinannya.

Integritas bukan karakter kepribadian individu tertutup yang tidak memancarkan kebaikan. Sebaliknya, integritas merupakan karakter kepribadian terbuka yang mampu menginspirasi dan membangun spirit pada tim manajemen yang dikoordinasikannya.

Disiplin

Setiap orang harus pandai memanfaatkan waktu dan punya target kerja yang cepat, tepat, dan jelas. Semua itu hanya bisa dilakukan dengan disiplin yang tegas. Kedisiplinan terletak pada konsistensi semua pihak yang terlibat tanpa kecuali. Termasuk di dalamnya mentaati segala kesepakatan atau konsensi institusi secara menyeluruh.

Tuntutan untuk mentaati aturan tidak hanya pada posisi dan level bawah, tetapi sejatinya di semua level. Namun, harus diingat pula bahwa kadang-kadang para pemegang kebijakan juga tidak menyadari dirinya berbuat kurang tepat dengan melanggar aturan.

Ketika hal itu terjadi siapa yang harus mengingatkan dia? Tentu semua pihak, meskipun nyaris sulit dibantah perbuatan salah tersebut sering terjadi. Pada sisi lain pegawai dan karyawan status level bawah ditekan untuk taat, tetapi atasannya kurang bersahabat dengan komitmen yang telah dibuat. Dia tidak disiplin dalam aturan.

Siapa pun berhak untuk saling mengingatkan, memberikan saran, masukan, dan wejangan tanpa ada sekat yang saling membedakan. Sesama umat Islam memiliki tanggung jawab untuk sama-sama menjaga marwah sebuah institusi.

Kehebatan seseorang bukan karena status sosial, gelar, dan jabatannya. Posisi apa pun pada sebuah organisasi dan institusi bukan ajang untuk mempertontonkan keakuan dan ke keangkuhan yang padahal itu hanya sementara.

Namun, posisi dalam organisasi harus dijalankan dengan maksimal untuk tujuan kesejahteraan dan kemajuan organisasi itu sendiri. Harus dicatat pula bahwa leadership, kompetensi, integritas, dan disiplin merupakan poin penting untuk kemajuan organisasi. Lebih khususnya lagi kemajuan lembaga pendidikan atau kampus yang bernaung di bawah Muhammadiyah.

Empat poin tersebut merupakan kriteria sekaligus kunci bahwa kampus Muhammadiyah itu sudah maju ataukah belum. Semoga kita bisa mempraktikkan keempat modal di atas.***

Exit mobile version