UMBandung
Sosok

KH Ahmad Dahlan: Ulama Yang Beraksi, Bukan Hanya Bicara

×

KH Ahmad Dahlan: Ulama Yang Beraksi, Bukan Hanya Bicara

Sebarkan artikel ini
Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan (Foto: PWMU.CO)

BANDUNGMU.COM, Bandung — Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan (1868-1923), dikenal bukan hanya sebagai ulama, melainkan sebagai tokoh yang lebih banyak beraksi daripada berbicara. Jejak tulisannya memang tidak banyak, tetapi aksi dan amal nyata yang ditinggalkannya tidak bisa dipungkiri.

Meski demikian, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ayub, sebagaimana dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Jumat (07/06/2024), menilai bahwa Ahmad Dahlan bukanlah seseorang yang anti terhadap pertukaran pikiran.

KH Ahmad Dahlan aktif dalam berbagai debat, dialog, dan diskusi, baik dengan yang sepaham maupun yang berbeda pandangan. Bahkan, beliau sangat menganjurkan diskusi dengan mereka yang berbeda pendapat.

Salah satu wejangan KH Ahmad Dahlan yang dicatat oleh muridnya, Kiai Hadjid, menggambarkan sikap beliau yang sangat eksplisit terhadap pentingnya diskusi. Dawuh beliau berbunyi, “Kebanyakan manusia berwatak angkuh dan takabbur, mereka mengambil keputusan sendiri-sendiri.”

Baca Juga:  Samaun Bakri, Bung Karno, dan Jatuhnya Pesawat RI002

Kiai Hadjid menjelaskan bahwa gurunya heran mengapa pemimpin agama dan yang tidak beragama sering mengambil keputusan sendiri tanpa berdiskusi. Mereka hanya berdiskusi dengan orang-orang dekat, yang tentunya akan membenarkan pandangan mereka. KH Ahmad Dahlan mengajak untuk bermusyawarah dengan golongan lain untuk mencari kebenaran sejati.

Kiai Syujak, murid KH Ahmad Dahlan lainnya, menceritakan bagaimana sang ulama keturunan Walisongo ini menerapkan falsafahnya dalam tindakan nyata. Kiai Syujak mencatat bahwa KH Ahmad Dahlan pernah mengundang beberapa tokoh untuk berdiskusi di markas Muhammadiyah.

Salah satu peristiwa yang cukup berkesan adalah kunjungan tiga tokoh kunci ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereniging), cikal bakal PKI. Pertemuan tersebut diwarnai dengan paparan ideologi mereka di hadapan pimpinan dan warga Muhammadiyah.

Baca Juga:  Dosen Biologi UIN Bandung Ida Kinasih Raih Hak Paten dari Kemenkumham

Menurut Kiai Syujak, tutur Ayub, ada dua dampak penting dari pertemuan dengan ISDV tersebut. Pertama, beberapa priyayi dan pamong praja mengundurkan diri dari Muhammadiyah karena menganggap organisasi tersebut setuju dengan ISDV. Namun, menurut Kiai Syujak, hal ini biasa terjadi dan tidak perlu dikhawatirkan.

Kedua, dan yang lebih penting, semangat dakwah para mubalig Muhammadiyah semakin menyala setelah mendengar propaganda ISDV. Mereka semakin yakin bahwa Islam akan menang dalam perjuangannya karena menyadari bahwa ideologi ISDV yang remeh pun bisa menarik minat manusia. Apalagi Islam yang suci dan murni dari Allah.

KH Ahmad Dahlan memberikan motivasi kepada murid-muridnya dengan berkata, “Saudara-saudara para muballighin dan para muballigha yang mulia, dengan kemuliaan saudara-saudara itulah, saudara-saudara dititikberatkan menjadi pelopornya Agama Islam untuk menyampaikan wahyu Ilahi yang suci dan murni itu kepada umat manusia segala bangsa.”

Baca Juga:  Mengenal Jeihan Sukmantoro, Pelukis Indonesia Bergaya Ekspresionisme

Kiai Dahlan yakin dengan pendirian dan ajarannya, sehingga beliau terbuka untuk mengambil manfaat dari berbagai kelompok. Beliau belajar strategi dan semangat propaganda dari ISDV sebagai bahan studi banding para pendakwah.

Di kesempatan lain, beliau juga mengundang tokoh perempuan Sarekat Islam yang terpengaruh ideologi kiri untuk berceramah di depan jamaah ‘Aisyiyah. Hasilnya, para pemudi dan ibu-ibu ‘Aisyiyah menjadi lebih percaya diri berorasi di rapat-rapat umum.

Ayub kemudian menyimpulkan bahwa KH Ahmad Dahlan memang bukan hanya seorang ‘man of talk’, melainkan seorang ‘man of action’ yang percaya bahwa dialog dan diskusi, termasuk dengan mereka yang berbeda pandangan, adalah kunci untuk menemukan kebenaran dan memperkuat semangat perjuangan.***

PMB UM Bandung