IslampediaNewsSosbud

Kurban dan Kepekaan Sosial

×

Kurban dan Kepekaan Sosial

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (media.istockphoto)

BANDUNGMU.COM — Kurban merupakan ritual umat Islam yang sangat lama usianya. Pada momentum sakral ini, umat Islam yang mampu secara ekonomi diharuskan berkurban, baik domba/kambing maupun sapi/unta, baik perseorangan maupun berkelompok (misalnya 1 sapi untuk 7 orang).

Untuk teknis dan tata cara kurba, saya kira umat Islam sudah khatam dengan semua itu. Hal yang harus menjadi perhatian yakni hikmah dan pemahaman atas ritual kurban tersebut yang masih dianggap sebagai ritual tahunan tanpa arti.

Maksudnya yakni masih ada sebagian orang menganggap bahwa kurban hanya dipandang sebagai kegiatan motong sapi, bagi-bagi daging, dan selesai sudah. Kenapa pemahaman atas hakikat kurban itu sangat penting? Karena berkaitan dengan akhlak dan kepekaan sosial kita terhadap sesama umat manusia–tanpa harus yang seiman.

Baca Juga:  Wamendikdasmen Fajar Riza Ulhaq Apresiasi Peran Strategis Muhammadiyah

Kurban adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menajamkan kepekaan sosial kita terhadap kemanusiaan. Pemahaman teks agama soal kurban, saya kira mudah dipahami, tetapi soal kepekaan sosial dari ibadah kurban itu sangat sulit.

Andai saja orang yang berkecukupan itu semuanya berkurban dan berbagi kebahagiaan dengan daging kurban itu kepada sesama, niscaya kebahagiaan yang hakiki akan didapatkan. Yakin betul saya dengan timbal balik ini. Pasalnya Allah dan Rasul-Nya yang menjamin itu.

Jadi, sejatinya ibadah kurban harus jadi momentum yang tepat untuk memupuk dan menajamkan kepakaan sosial umat Islam dengan saudaranya tanpa memandang sekat dan kasta. Saatnya berbagi kebahagiaan. Saatnya berbagi energi positif.

Baca Juga:  Inilah Dua Energi yang Menjadikan Muhammadiyah Kokoh Berdiri Sampai Saat Ini

Sifat kebinatangan

Allah Sang Khalik menegaskan dalam Al Quran bahwa manusia itu kadang-kadang kelakuannya melebihi sifat binatang. Kadang-kadang juga sifat binatang itu melekat, tidak mau dihilangkan, terus dipakai, padahal hakikat manusia yang beriman tidak demikian.

Oleh karena itu, simbol kurban yakni memotong/membuang sifat-sifat kebinatangan yang seringkali beringas dan tidak tahu malu.

Andai manusia paham dengan filosofi ini, niscaya orang yang mengaku Islam tidak akan ditangkap aparat penegak hukum karena korupsi.

Andai manusia paham bahwa sifat kebinatangan itu bukan akhlak keseharian manusia beriman, tidak akan ada orang yang mengimani Al Quran bertindak asusila di tempat-tempat pendidikan.

Andai manusia paham bahwa sifat kebinatangan apabila dipakai akan membuat si pemakai merugi, tentu tidak akan ada pejabat yang zalim dan menindas rakyat kecil.

Baca Juga:  Gelar Apel Akbar di UM Bandung, KOKAM Teguhkan Komitmen Menjaga Aset dan Marwah Muhammadiyah

Antara ritual privasi kepada Allah dan ritual sosial dengan sesama manusia sejatinya bersatu padu. Bila keduanya tidak bisa dipahami dan dipraktikkan atau malah hanya salah satunya saja yang dipraktikkan, maka ibadah kita hanya cangkang saja. Ibadah yang polos tanpa isi.

Ayo tingkatkan kualitas kurban kita dengan pemahaman dan praktik yang baik. Ayo tingkatkan juga sisi kamanusiaan diri kita agar bisa memantaskan diri di hadapan Allah kelak di akhirat. Dan ayo buang sifat kebinatangan yang masih ada di dalam diri kita.***

By redaksi