Opini

Loss Democration

Oleh: Nurbani Yusuf*

Mungkin itu hikmahnya kenapa Tuhan tidak bisa dilihat. Betapa repotnya Tuhan mengabulkan miliaran kehendak dan keinginan dari hamba hamba-Nya jika bisa dilihat.

Dengan 207 juta kepala yang punya hak memilih dan dipilih, kira-kira sistem apa yang paling cocok dan sesuai untuk memerintah? Alih-alih hidup makmur, adil, dan sejahtera, bukankah demokrasi tidak didesain untuk itu?

Namun, sebaliknya, memangkas kehendak ratusan juta orang agar tak banyak berkata, diringkas dalam satu gambar yang dipilih kemudian diberi mutlak berkuasa.

Jadi, siapa sebenarnya yang bikin tiran? Demokrasi adalah ikhtiar memutus mata rantai kekuasaan agar tidak memanjang dan meluas, tetapi diringkas agar simpel dan efisien.

Jadi, demokrasi itu bukan tujuan, melainkan hanya salah satu alat atau media untuk mudah berkuasa. Belum ada kajian apakah ada korelasi antara demokrasi dengan hidup susah, ketidakadilan, atau berbagai kezaliman.

Seorang ulama datang menghadap kepada Khalifah Harun Al-Rasyid. Ia berkata akan memberikan nasehat dengan keras sehubungan dengan berbagai kezaliman dan kesengsaraan yang menimpa rakyat kebanyakan.

Sebelum ulama bernasihat, Khalifah Harun Al-Rasyid balik bertanya: “Di dunia ini apa ada raja selalim Firaun yang mengaku dirinya Tuhan, berkuasa sewenang-wenang tanpa batas dan menyengsarakan rakyat banyak?” “Tidak ada,” jawab ulama itu tegas,

“Kepada Firaun yang lalim saja Tuhan memerintahkan Musa dan Harun untuk mengedepankan adab, berkata sopan, dan lemah lembut. Bahkan Tuhan pun mendoakan kepada Firaun, raja lalim itu, supaya takut dan ingat. Berarti aku lebih berhak mendapat perlakuan baik dan sopan, lebih dari si lalim Firaun,” jawab khalifah. Sontak ulama tadi beringsut mundur tak jadi bernasihat karena kalah alim.

Loss democration menyediakan ketersediaan ruang publik bagi khalayak untuk menyampaikan aspirasi dan kehendak. Semua bicara bahkan yang seharusnya tidak bicara—aspirasi tanpa batas, kritik tanpa adab.

Jika rakyat dan penguasa saling curiga, tentu akibatnya fatal. Jadi, jelas mana yang harus diubah, sistemnya atau orang-orangnya yang berkuasa.

Bukankah pemimpin adalah cermin–kata Al-Mawardi. Pemimpin baik lahir dari masyarakat baik. Pemimpin culas lahir dari masyarakat culas. Tesis ini begitu gamblang menggambarkan realitas.

Dalam diskursus politik kekuasaan modern, hampir semua sepakat bahwa demokrasi adalah cara memerintah terbaik dibandingkan dengan kerajaan, monarki, bahkan khilafah sekalipun. Jadi, apa yang sebenarnya kita inginkan? Perubahan sistem atau orang?

Mungkin saja seorang khalifah, raja, presiden, atau emir ditakdirkan menjadi “wakil Tuhan” di bumi yang bisa dilihat. Dengan begitu semua kehendak dan harapan tumpah. Termasuk sumpah-serapah akibat kesal.

Di saat itulah kekuasaan menemukan makrifatnya dalam ketenangan dan kesahajaan di tengah amuk massa karena penderitaan dan ketidakadilan. Wallahu taala a’lm.

*Komunitas Padhang Makhsyar

Exit mobile version