Anak muda, khususnya generasi Z yang masih bersekolah, berkuliah, atau baru mulai bekerja, kini semakin sering mengalami burnout. Keluhan seperti lelah emosional, sulit fokus, hingga hilang motivasi banyak muncul di media sosial. Fenomena ini bukan sekadar tren. Burnout sudah menjadi masalah nyata yang memengaruhi kesehatan mental dan produktivitas.
Seorang pengamat psikologi menjelaskan bahwa tekanan yang terus menumpuk dapat memicu kelelahan mental.
“Anak muda sekarang tidak hanya bersaing di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital. Perfeksionisme sosial ini membuat mereka merasa tidak pernah cukup,” ujarnya.
Selain tekanan sosial, kecemasan tentang masa depan juga menjadi penyebab besar. Biaya hidup semakin tinggi, persaingan kerja semakin ketat, dan perubahan teknologi terjadi sangat cepat. Semua faktor tersebut membuat banyak anak muda merasa hidup tidak stabil. Ketidakpastian ini memperbesar risiko burnout.
Meski sering terjadi, kita tetap bisa mencegah burnout. Kita dapat melakukannya dengan memberi tubuh waktu istirahat, membatasi konsumsi media sosial, menetapkan batasan (boundaries), membangun rutinitas sehat, serta mencari bantuan profesional bila diperlukan. Dengan menjalankan langkah-langkah sederhana secara konsisten, kita dapat menjaga kesehatan mental di tengah tekanan yang terus berkembang. ***(IK22/Resna)






