Menjaga Husnuzan kepada Allah di Masa Pandemi dengan Panduan Nalar Sehat

oleh -
Ilustrasi (Foto: Unsplash).

BANDUNGMU.COM – Bagi muslim yang taat, dalam situasi dan kondisi apa pun harus mengedepankan sikap husnuzan. Termasuk dalam menghadapi pandemi covid-19 yang sedang berlangsung sekarang ini.

Budi Setiawan, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) PP Muhammadiyah menerangkan, pandemi jangan sampai melunturkan sikap husnuzan kepada Allah SWT. Namun, tidak bisa dimungkiri ada tren di masa pandemi ini yang menunjukkan menurunnya sikap husnuzan kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, penting bagi muslim menjaga sikap husnuzan di segala situasi dam kondisi. Namun, sikap husnuzan yang dimiliki tidak boleh lepas dari kesadaran yang dipandu oleh nalar sehat. Misalnya tidak boleh karena sikap husnuzan kemudian tidak bermasker sebab percaya dirinya dijaga Allah SWT.

Di sisi lain, menurut Budi, pandemi ini menimbulkan efek dilematis pada bidang kesehatan dan ekonomi. Pasalnya, upaya untuk menghambat penyebaran virus covid-19 telah menghambat kegiatan perekonomian dan berdampak pada semakin turunnya tingkat kesejahteraan masyarakat.

Hal ini jika tidak ditangani secara serius akan berdampak ganda. Sebab tidak bisa dimungkiri, fenomena pandemi covid-19 ini berdampak pada terkikisnya prasangka baik kepada Allah SWT bagi muslim. Mereka merasa diperlakukan tidak adil, baik oleh Tuhan maupun oleh kebijakan yang ambigu.

“Setelah menunjukkan pencapaian penurunan kemiskinan beberapa tahun belakangan ini, tingkat kemiskinan kembali meningkat setelah pandemi covid-19. Kalau kita lihat tidak sebanyak dulu orang ‘ngamen’ dengan segala bentuknya di sepanjang jalan,” ungkapnya.

Dalam Pengajian Rabu Pahing (08/09/2021) yang diadakan RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta ini, Budi menambahkan, dampak negatif terhadap keadaan sosial-ekonomi dari pandemi bisa menjadi jauh lebih buruk tanpa adanya bantuan sosial.

Budi memperinci, efek pada bidang sosial, masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki budaya kumpul-kumpul, di masa pandemi budaya itu seperti hilang.

Sebab diminta untuk berjarak, di rumah saja, dan kerapatan saf salat pun direnggangkan. Kemudian banyak kegiatan yang awalnya dilakukan luring, diganti menjadi daring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *