Patung Persib atau Patung Adjat? Inilah Kisah Patung Bola di Jalan Tamblong

oleh -
Patung Bola di bilangan Jalan Lembong – Tamblong dan Veteran ini masih berdiri kokoh dan tak lekang ditelan zaman./Arief NK

BANDUNGMU.COM – Ada sejarah pasti ada kisah yang terselubung di dalamnya. Begitu pula dengan Patung Bola yang berdiri kokoh di bilangan Jalan Lembong – Tamblong dan Veteran di Kota Bandung ini.

Tepatnya pada 8 Mei 1990 pendirian Patung Bola diresmikan keberadaannya. Patung Bola didirikan atas inisiatif Walikota Bandung yang juga Ketua Umum Persib, Ateng Wahyudi, ketika itu.

Pendirian Patung Bola ini bukan tanpa alasan. Pendiriannya bertepatan dengan menjulangnya prestasi Persib di mana pada 1986 dan 1990 adalah masa keemasan Persib setelah meraih gelar juara Kompetisi Perserikatan.

Saat itu, Persib begitu fenomenal sejak berada di bawah kepemimpinan Ateng Wahyudi sebagai ketua umumnya. Persib menjadi bahan pembicaraan warga Bandung dari mulai warung kopi hingga ke kantor-kantor.

Prestasi Persib sendiri yang sejak 1983 sampai 1990, itulah yang terus menerus bergeliat. Terutama, sejak menembus Stadion Utama Senayan Jakarta (SUGBK) saat menghadapi PSMS Medan di partai final Kompetisi Perserikatan 1983/84.

Kala itu, Persib kalah dalam adu penalti. Hal yang sama terulang kembali pada Kompetisi Perserikatan 1984/85. Barulah pada 1986 dan 1990 Persib meraih gelar juara.

Ketika itu, Stadion Utama Senayan seperti kandang Persib. Sejak 1983 sampai 1990 tersebut, Persib tak pernah absen tampil di Senayan. Begitu pula bobotoh berbondong–bondong ke stadion yang sekarang bernama Stadion Utama Gelora Bung Karno itu. Hingga jumlah penonton mencapai rekor tertinggi sebanyak 150 ribu penonton yang memadati Stadion Senayan.

Peran Ateng Wahyudi

Seperti biasa, setelah fase wilayah berakhir, kompetisi perserikatan dilanjutkan kepada babak delapan besar di SUGBK. Saatnya bobotoh bergerak dan menyaksikan Persib berlaga.

Tidak berpikir kepada ongkos Bandung–Jakarta. Tak memikirkan berapa harga tiket dan tidak memikirkan rasa takut akan suporter lain dan tidak pula memikirkan akan kalah. Kapan saja Persib tampil, bobotoh pasti akan datang ke Senayan.

Nah, menyaksikan prestasi Persib yang semakin hari semakin meningkat, antusiasme bobotoh juga yang semakin besar, Ateng merasa perlu untuk membuat sebuah monumen  kebangkitan Persib. Harapannya kelak monumen Patung Bola tersebut  akan menjadi sebuah patung yang akan dikenang oleh warga  Bandung, khususnya bobotoh bahwa pada dekade itu Persib telah bangkit.

Ya, memang telah bangkit setelah 25 tahun sejak 1960 sampai 1985 tanpa gelar. Sejak diurus oleh Ateng Wahyudi dan dilakukan pembenahan dari sisi pembinaan dan kepengurusan, alhasil Persib bisa kembali kepada massa keemasannya.

Meski demikian, masih simpang siur untuk menyebut monumen patung  yang juga merupakan persembahan PT Djarum tersebut. Disebut Patung Bola sangat wajar karena memang ia sedang mengolah bola.

Lalu, sebutan berikutnya adalah Patung Persib. Ini karena warga Bandung tahu kalau pendirian patung tersebut oleh Ateng Wahyudi bertepatan dengan kebangkitan, kejayaan, dan gemilangnya prestasi Tim Maung Bandung.

Sebutan Unik

Sebutan yang ketiga ini cukup unik dan menggelitik. Warga Bandung lain kerap menyebutnya Patung Adjat. Kenapa demikian? Seiring dengan menjulangnya prestasi Persib mencuat juga nama Adjat Sudrajat, seorang striker yang sangat menonjol, bahkan paling fenomenal ketika itu.

Kalau sudah berbicara Persib, disinggung sosok pula Adjat Sudrajat. Saking mengentalnya Persib dan Adjat Sudrajat, mereka yang menamakan bobotoh Persib menyebut patung tersebut adalah Patung Adjat.

Ketika itu, hanya Persib satu-satunya persatuan sepak bola yang dibuatkan monumen oleh pemerintah daerahnya. Ikut pula meresmikan patung tersebut adalah Ketua Umum PSSI Kardono bersama Walikoa Bandung Ateng Wahyudi pada 8 Mei 1990.

Diolah dari top.skor.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *