PMB UMbandung
News

Penghasilan Besar Belum Tentu Cukup, Begini Cara Membangun Kemandirian Ekonomi Keluarga

×

Penghasilan Besar Belum Tentu Cukup, Begini Cara Membangun Kemandirian Ekonomi Keluarga

Sebarkan artikel ini
Sumber: Humas UM Bandung).
PMB UMBandung

BANDUNGMU.COM, Bandung — Punya penghasilan besar belum tentu membuat sebuah keluarga bebas dari masalah keuangan.

Jika uang terus habis untuk belanja atau digunakan menutup utang, pendapatan sebesar apa pun bisa terasa tidak pernah cukup.

Oleh karena itu, kemandirian ekonomi keluarga sebenarnya tidak selalu dimulai dari mencari penghasilan tambahan.

Menurut Dosen Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Yudi Haryadi SE MM, langkah awalnya justru bisa dimulai dari cara seseorang mengelola uang yang sudah dimiliki.

Hal tersebut disampaikan Yudi saat menjadi pembicara dalam Sosialisasi Ekonomi Syariah di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Bandung, belum lama ini.

Yudi mengajak masyarakat melihat kembali kebiasaan setelah menerima penghasilan.

Selama ini, tidak sedikit orang yang memilih belanja terlebih dahulu, membayar berbagai kewajiban, kemudian baru berpikir untuk menabung jika masih ada uang tersisa.

Menurutnya, kebiasaan tersebut perlu diubah. Menabung atau berinvestasi sebaiknya tidak menunggu uang bersisa, tetapi justru menjadi salah satu prioritas sejak awal menerima pendapatan.

“Jangan menunggu ada sisa untuk menabung. Justru tabungan atau investasi harus menjadi salah satu prioritas sejak awal menerima pendapatan,” ujar Yudi.

Baca Juga:  UM Bandung Kirim Mahasiswa KKN ke Luar Luar Pulau dan Luar Negeri

Ia kemudian menawarkan pola sederhana yang bisa diterapkan keluarga dalam mengatur pendapatan.

Setelah menerima penghasilan, uang terlebih dahulu disisihkan untuk tabungan atau investasi, kemudian digunakan untuk membayar utang dan kebutuhan lainnya.

Yudi juga memberikan formula yang bisa menjadi acuan awal, meski tetap perlu disesuaikan dengan kondisi setiap keluarga.

Ia menyarankan minimal 10 persen pendapatan dialokasikan untuk tabungan atau investasi, cicilan atau utang maksimal 30 persen, pengeluaran rutin maksimal 50 persen, dan kebutuhan pribadi maksimal 10 persen.

Pola tersebut, kata Yudi, bukan sekadar soal membagi uang ke dalam beberapa pos.

Lebih jauh, kebiasaan menyisihkan pendapatan secara rutin dapat membantu keluarga membangun cadangan keuangan, menghadapi kebutuhan mendesak, sekaligus mempersiapkan masa depan.

Dengan kondisi keuangan yang lebih tertata, keluarga juga memiliki peluang lebih besar untuk mengurangi ketergantungan pada utang.

Perencanaan kebutuhan pun bisa dilakukan dengan lebih tenang karena setiap pengeluaran memiliki pos dan tujuan yang jelas.

“Jadi, kemandirian ekonomi bukan semata-mata tentang bagaimana meningkatkan penghasilan, tetapi bagaimana kita mampu mengendalikan dan mengarahkan uang sesuai dengan tujuan hidup,” kata Yudi.

Baca Juga:  PC Aisyiyah Sukajadi Pertajam Pilar Ekonomi Umat pada Musypimcab ke-2

Pembahasan tidak berhenti pada cara mengatur pendapatan.

Yudi juga mengajak masyarakat mengenal lembaga keuangan syariah, termasuk Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) dan Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS).

Pengetahuan ini menjadi penting ketika keluarga membutuhkan pembiayaan, baik untuk kebutuhan tertentu maupun mengembangkan usaha.

Dalam prinsip syariah, pembiayaan tidak semestinya dipandang sebagai jalan cepat mendapatkan uang.

Namun, perlu mempertimbangkan akad, kemampuan membayar, risiko, kebutuhan, dan manfaatnya.

Literasi keuangan syariah juga dapat menjadi bekal agar masyarakat lebih waspada terhadap praktik rentenir maupun pembiayaan yang justru menambah beban.

Dengan pemahaman yang cukup, masyarakat dapat membedakan mana keputusan keuangan yang produktif dan mana yang berpotensi menimbulkan persoalan baru.

Bagi Yudi, literasi keuangan pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana seseorang mendapatkan uang.

Yang tidak kalah penting adalah memahami untuk apa uang tersebut digunakan dan bagaimana mengelolanya agar memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, kemandirian ekonomi keluarga sebenarnya bisa dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Baca Juga:  Liverpool Libas Manchester United 7 Gol Tanpa Balas

Menyisihkan pendapatan, mengendalikan utang, merencanakan pengeluaran, hingga memilih investasi dan pembiayaan yang sesuai merupakan bagian dari proses tersebut.

Dalam perspektif ekonomi syariah, pengelolaan keuangan juga tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadi.

Nilai ta’awun, ukhuwah, amanah, dan keadilan menjadi landasan agar aktivitas ekonomi tidak sekadar membuat keluarga lebih kuat secara finansial, tetapi menghadirkan kemaslahatan bagi lingkungan sekitar.

Pada akhirnya, kemandirian ekonomi tidak harus menunggu penghasilan menjadi besar.

Ia bisa dimulai dari kebiasaan sederhana: menentukan tujuan, menyisihkan uang lebih dulu, mengendalikan utang, lalu membelanjakan sisanya dengan bijak.

Sebab, ketika kita mampu mengatur uang dengan baik, uang tidak lagi sekadar habis untuk memenuhi kebutuhan hari ini. Namun, bekerja untuk menyiapkan kehidupan di masa depan.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Komisi Ekonomi MUI Jawa Barat dan Program Pengabdian Dosen Prodi Ekonomi Syariah UM Bandung.

Acara ini diikuti oleh puluhan ibu-ibu anggota Forum Silaturahmi Majelis Taklim (FSMT) Kelurahan Cipadung Kidul.***(FA)

PMB UMBandung