BANDUNGMU.COM — Dalam “Nashaihul Ibad” karya ulama klasik dari Nusantara, Syekh Nawawi Al-Bantani, ada diriwayatkan hadis dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda mengenai tiga hal.
Pertama, siapa yang pada pagi harinya mengeluh kesulitan hidup maka dia sama saja dengan mengeluhkan Tuhannya.
Kedua, barang siapa yang pada pagi harinya bersedih karena urusan dunia maka dia pada pagi hari itu telah membenci ketetapan Allah SWT.
Ketiga, barang siapa yang merendahkan diri pada orang kaya karena kagum pada kekayaannya, sungguh telah hilang dua pertiga dari agamanya (ketaatannya).
Dijelaskan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani bahwa mengeluh pada orang lain atas nasib buruk yang menima termasuk pertanda tidak terima dengan ketetapan Allah. Kita tidak diperkenankan mengeluh, kecuali kepada Allah. Mengeluh kepada-Nya diperbolehkan karena itu merupakan bentuk doa.
Disebutkan dalam riwayat dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Maukah kalian aku ajarkan beberapa kalimat yang diucapkan oleh Nabi Musa AS ketika menyeberangi laut bersama Bani Israil?” Para sahabat menjawab, “Tentu mau wahai Rasulullah.”
Rasulullah SAW berkata, “Ucapkanlah allahumma lakalhamdu wa ilaikalmusytaka wa antalmusta’aanu wa laa haula wa laa quwwata illaa billahil’aliyul’adiim–Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu dan hanya kepada-Mu kami mengadu. Engkaulah Zat yang paling berhak dimintai pertolongan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Mahatinggi, Mahaagung.”
Al-A’Masy berkata, “Sejak aku mendengar doa tersebut dari saudar kandungku, Al-Asadi Al-Kufi–yang menerimanya dari Abdullah bin Mas’ud–aku tidak pernah meninggalkannya.”
Dia juga berkata, “Aku pernah bermimpi. Di dalam mimpi itu aku didatangi seseorang. Dia berkata, ‘Wahai Sulaiman, tambahkanlah pada doa tersebut kalimat berikut ini: wanasta’iinuka ‘ala fasaadinn fiinaa wanasaluka shalaa amrinaa kullihi–Kami memohon pertolongan kepada-Mu dari segala bencana kerusakan yang menimpa dan kami memohon kepada-Mu kebaikan dari segala urusan.’”
Sikap kedua, orang yang sedih karena urusan dunia berarti marah kepada Allah SWT. Dia tidak rida atas ketetapan-Nya dan tidak sabar atas cobaan yang diterima.
Dia tidak beriman kepada takdir-Nya karena setiap kajian di dunia ini sesungguhnya berdasarkan qadha dan qadar Allah SWT.
Pemuliaan terhadap orang itu harus berdasarkan kebaikan akhlak dan keilmuannya, bukan karena harta yang dimilikinya. Orang yang memuliakan harta di atas segalanya, berarti dia telah menghinakan ilmu dan akhlak mulia.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pernah mengatakan dalam nasihatnya:
“Seluruh sikap dab tingkah laku seorang mukmin itu harus mencerminkan tiga hal, yaitu menaati perintah Allah, meninggalkan larangan Allah, atau menerima ketetapan Allah. Sesederhana apa pun sikap dan tingkah lakunya, minimal mencerminkan satu dari tiga hal tersebut. Oleh sebab itu, hati harus selalu dijaga untuk menetapi tiga hal tesebut, menasihati diri sendiri untuk menjalankannya, serta mengarahkan seluruh anggota tubuh dalam segala sikap dan tingkahnya ke dalam tiga hal tersebut.”
Semoga kita sebagai muslim dan hamba Allah yang beriman bisa menghindari minimal tiga sikap di atas. Amin.***
_____________
Sumber: Nashaihul Ibad
Editor: Feri A







