BANDUNGMU.COM – Korupsi punya dampak yang sangat luar biasa bagi berbagai sektor kehidupan bangsa, tak terkecuali bidang kehidupan sosial. Siapa yang dirugikan? Tentu saja umat dan bangsa ini.
Seperti apa sesungguhnya dampak korupsi itu untuk kehidupan sosial? Bagaimana kita harus bersikap terhadap kejahatan tersebut?
Simak ulasan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) Prof Dadang Kahmad berikut yang dikutip dari majalah “Suara Muhammadiyah” edisi 09 tahun 2022.
****
Pernah terdengar tentang suatu bangunan sekolah atau jembatan yang baru saja selesai dibangun ambruk menewaskan dan mencelakakan beberapa orang yang ada di bawah bangunan tersebut atau orang yang sedang melintas di jembatan tersebut.
Aktivitas di kedua sarana tersebut praktis terhenti, banyak orang yang dirugikan oleh kejadian itu, murid yang tidak bisa sekolah, pedagang yang tidak bisa menjual barangnya, buruh yang terlambat karena harus mencari jalan yang lain, dan lalu lintas jadi terhenti akibat jalan satu-satunya itu terputus.
Kasus bangunan sekolah dan jembatan tersebut di atas hanyalah dua contoh dari beberapa kejadian serupa, baik dalam skala yang lebih kecil maupun dalam skala yang lebih besar lagi.
Kesalahan dalam kasus tadi, setelah diteliti, terletak dalam proses pembangunan keduanya yang tidak sesuai dengan perencanaan (bestek). Pemborong konstruksi membangun sekolah dan jembatan tersebut tidak berdasarkan kepada jumlah biaya yang seharusnya.
Namun, berdasarkan kepada sejumlah uang yang jauh berkurang karena telah dipotong untuk memenuhi kewajiban menyetor sejumlah uang kepada pihak-pihak tertentu yang telah “menolong” dia untuk memenangkan tender proyek tersebut. Karena jumlah uang “setoran” itu relatif besar maka ia tidak mengambil dari keuntungan proyek tetapi dibebankan kepada biaya proyek.
Korupsi atau penyalahgunaan wewenang oleh petugas negara adalah suatu penyakit masyarakat yang sudah lama menjangkit manusia. Biasanya ia tumbuh subur di masyarakat negara yang belum maju dalam sistem kemasyarakatannya karena kurang kuat kontrol terhadap cara kerja aparat negara.
Korupsi merupakan penyakit yang sulit diberantas jika administrasi negara tidak tertata secara baik, sistem pengawasan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Di Indonesia korupsi bisa ditemukan di mana-mana. Ia menyebar ke semua lapisan masyarakat, dari tingkat yang paling tinggi sampai ke tingkat aparat yang paling rendah.
Dalam bentuk yang paling rumit seperti pembesaran nilai proyek oleh aparat eselon satu sampai bentuk yang paling sederhana yaitu pungutan liar oleh aparat desa ketika membuat Kartu Tanda Penduduk. Masuk sekolah dan melamar kerja mesti memakai uang pelicin supaya urusannya lancar.
Dalam kasus seleksi penerimaan pekerja, terjadi suap menyuap sehingga orang yang seharusnya diterima karena prestasinya bagus jadi tidak bisa diterima karena tergeser oleh orang yang tidak berprestasi baik tetapi menyuap.
Yang paling berbahaya kalau hal itu menimpa dalam seleksi penerimaan tenaga guru. Dapat diabayangkan kalau calon guru yang pintar dapat “dikalahkan” oleh calon guru yang tidak pintar (bodoh) akibatnya murid akan menerima pelajaran dari guru yang tidak berkualitas. Hal tersebut akan berdampak luas bagi kualitas masa depan masyarakat itu sendiri.
Pantas saja Nabi Muhammad SAW bersabda: “Dilaknat Allah orang yang menyuap dan orang yang disuap” karena mengingat betapa bahayanya korupsi itu bagu kehidpan masyarakat.
Maka masyarakat yang membiarkan korupsi merajalela pertanda masyarakat tersebut akan segera mendapat laknat dari Allah berupa kekacauan dan ketidakstabilan, bahkan betapa tidak, masyarakat tersebut akan digantikan dengan masyarakat lain yang lebih beradab.
“Laki laki pencuri dan perempuan pencuri potonglah kedua tangannya, sebagai balasan dari kelakuan mereka dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Maha Bijaksana.”
__________________________
Sumber: Suara Muhammadiyah
Editor: Feri A












