Psikolog: Kecerdasan Anak Dapat Diasah Lewat 4 Aktivitas Makan

oleh -
Ilustrasi bayi makan. /Freepik.com.

BANDUNGMU.COM – Seluruh aspek perkembangan anak tentu saja membutuhkan stimulasi, baik motorik maupun sensoriknya.

Psikolog Anggi Anggraeni, M.Psi. menyatakan, stimulasi ini perlu diberikan sesuai dengan tahap usia anak, sehingga kemampuan yang semestinya berkembang di usia tertentu dapat berkembang optimal dan mendukung kemampuannya di tahapan usia selanjutnya.

Menurut Anggi Anggraeni yang juga Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Bandung ini, kemampuan dan kecerdasan ini juga dapat diasah lewat aktivitas makan.

“Kegiatan motorik bisa diartikan sebagai kemampuan gerak di mana anak mudah bergerak, mudah mengkoordinasikan otot dan anggota tubuhnya dalam aktivitas sehari-hari sehingga perkembangan motoriknya sesuai dengan tahap usianya,” katanya, Rabu, 2 Juni 2021.

Lebih lanjut dia mengatakan, kegiatan makan tujuannya tidak hanya membuat anak kenyang. Namun banyak sekali proses pembelajaran yang terjadi di dalam aktivitas makan, di antaranya:

Duduk

Untuk bisa duduk tenang, butuh integrasi refleks dan kontrol postural, yang merupakan hasil dari brain maturity (kematangan otak). Ketika anak mampu untuk duduk tenang dalam waktu yang lama anak akan dapat memusatkan perhatiannya. Ketika anak telah mampu untuk memusatkan perhatian, akan berpengaruh juga terhadap kemampuan untuk fokus dalam menyelesaikan tugasnya.

Memegang makanan

Memegang makanan dapat menstimulasi perkembangan morotik halus anak. Keterampilan motorik halus adalah keterampilan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata tangan. Perkembangan motorik halus biasanya mulai berkembang seiring tubuh anak menjadi lebih stabil saat bergerak.

Hal ini merupakan bagian penting dari perkembangan motorik anak karena anak perlu belajar menggunakan tangannya dengan baik untuk dapat mengontrol objek dan memperoleh kemandirian seperti saat makan ataupun berpakaian.

Keterampilan motorik halus pada anak perlu mendapat perhatian agar dalam beraktivitas khususnya menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan penggunaan otot-otot kecil tidak mudah lelah dan lebih luwes.

Ketika anak makan (apalagi makanan yang memiliki ukuran kecil), ia menggenggam makanan, otot-otot kecilnya menjadi aktif dan terstimulasi. Keterampilan motorik halus yang optimal secara tidak langsung akan membuat anak menjadi lebih mandiri.

Anak jadi mampu untuk mengenakan pakaian berkancing, mampu makan sendiri, mampu menalikan sepatu yang bertali. Lebih jauh, ketika anak sekolah dia akan lebih luwes ketika menulis, mewarnai, melipat, menggunting kertas.

Selain itu, dengan memegang makanan, maka akan menstimulasi indera perabaan atau tactile. Taktil bertugas memberikan informasi kepada seseorang melalui apa yang disentuh, apa yang menyentuh, juga informasi mengenai tekanan, suhu, serta rasa sakit.

Taktil merupakan indera terbesar yang dimiliki oleh manusia, karena dari ujung rambut hingga ujung kaki manusia adalah reseptor. Adanya gangguan pada taktil akan menimbulkan mispersepsi terhadap informasi yang diberikan melalui sentuhan.

Biasanya, jika seorang anak mengalami hipersensitif pada indera perabanya anak cenderung tidak suka disentuh, menghindari menyentuh, menolak makan makanan dengan tekstur tertentu, menolak memakai baju dari bahan-bahan tertentu.

Namun sebaliknya, jika seorang anak mengalami hiposensitif anak memiliki kadar sensitif yang sangat rendah terhadap suhu, misalnya, anak bisa dengan entengnya menyentuh panci yang panas tapi ia tidak merasakan panas sama sekali, hal ini bisa berakibat sangat fatal yakni terjadi luka bakar pada anak.

Memasukkan makanan

Memasukkan makanan ke dalam mulut memerlukan koordinasi antara mata, tangan, dan mulut. Menurut Encyclopedia of Children’s Health, koordinasi mata dan tangan adalah kemampuan sistem visual untuk memproses informasi yang diterima oleh mata, sehingga anak bisa mengendalikan dan mengarahkan tangan untuk melakukan suatu tugas dengan baik.

Sebenarnya koordinasi mata dan tangan pada anak balita merupakan proses neurologis yang rumit, sehingga harus terus dilatih sedini mungkin. Salah satunya dengan makan.

Mengunyah

Salah satu masalah yang sering dihadapi orang tua adalah anak yang susah makan, bahkan menolak makan. Penolakan ini bisa jadi disebabkan oleh gangguan mengunyah pada anak. Pada anak yang menolak untuk makan mungkin mengalami gangguan pada organ tubuhnya, yang biasa disebut oromotorik, atau oral motor.

Gangguan oromotorik ini juga dapat menyebabkan anak menjadi susah makan. Kemampuan oromotorik atau oral motor merupakan sistem gerak otot yang mencakup area rongga mulut, termasuk rahang, gigi, lidah, langit-langit, bibir, dan pipi. Adanya gangguan oromotorik menyebabkan anak mengalami masalah dengan otot-otot dan saraf sehingga menyebabkan kesulitan mengunyah.

Mengunyah, sebenarnya tidak sesederhana yang dipikirkan orang. Kegiatan mengunyah membutuhkan rahang yang simetris dan gerakan lidah yang mampu bergerak bebas ke kanan, kiri, depan, dan belakang.

Dengan makan dan mengunyah, akan menstimulasi otot dan saraf-saraf yang berada di dalam mulut. Selain itu, orangtua juga harus memperhatikan tekstur makanan. Orangtua jangan selalu menghidangkan makanan yang lembut karena bisa jadi anak akan menolak makan nasi, atau makanan yang harus dikunyah lainnya.

Mereka hanya mau makanan yang lumat, lembut dan berkuah, agar mereka bisa langsung menelannya. Stimulasi yang tepat pada oromotor juga sangat erat kaitannya dengan perkembangan keterampilan makan anak sejak usia dini. Selain itu, perkembangan oral motor yang optimal ini juga diperlukan untuk mendukung kemampuan berbicara pada anak.

Untuk merangsang keterampilan mengunyah berbagai jenis makanan, orangtua perlu mengenali perkembangan oral motor sesuai usia serta makanan yang tepat, untuk melatih otot-otot mulut sehingga lebih kuat dan mampu digunakan untuk makan dan bicara.

Setelah ASI diberikan sampai anak berusia 6 bulan, makanan pendamping ASI yang pertama kali diberikan adalah yang paling mudah dikunyah dan lebih cair.

Ketika memasuki usia 7 sampai 9 bulan, mulai berikan makanan yang semipadat dan lebih bertekstur sehingga membutuhkan proses mengunyah. Ketika anak memasuki usia 9 sampai 12 bulan, keterampilan mengunyahnya semakin baik, dan mereka sudah mulai bisa memegang makanannya sendiri, sehingga bisa diberikan finger food.

Akhirnya di usia 1 sampai 3 tahun, anak akan berusaha makan sendiri, dan stimulasi ini membantu kemandirian anak.

Itulah aktivitas yang dapat menstimulasi aspek-aspek perkembangan anak melalui makan. Sehingga diharapkan orangtua tidak hanya membuat anak kenyang ketika memberikan makan kepada anak.

Sumber: Pikiran-rakyat.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *