UMBandung
Opini

Puasa Ramadhan dan Transformasi Kepribadian: Menuju Insan Bertakwa dan Tawadu

×

Puasa Ramadhan dan Transformasi Kepribadian: Menuju Insan Bertakwa dan Tawadu

Sebarkan artikel ini
Foto: muhammadiyah.or.id.

Oleh: Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

BANDUNGMU.COM — Puasa Ramadhan datang kembali. Marhaban ya Ramadhan.

Setiap muslim, betapapun kadang-kadang atau sering berbeda awal memulai puasa atau saum Ramadhan, jangan lupa tujuan berpuasa yakni menjadi insan yang semakin bertakwa.

Tidak perlu bertengkar karena perbedaan. Lebih-lebih yang berpotensi menghilangkan makna, hakikat, dan fungsi utama berpuasa. 

Sungguh merugi, bila berpuasa diwarnai perselisihan yang dapat merusak puasa itu sendiri. Bukankah setiap muslim diajari tasamuh atau toleransi dalam perbedaan.

Bila berbeda keyakinan beragama saja mampu bertoleran, kenapa dalam perbedaan praktik beribadah sesama muslim mesti berselisih yang mengarah konflik.

Jika muslim sedang berpuasa diajak bertengkar, bukankah Nabi mengajarkan agar menahan diri, “inni sha’imun”. Aku sedang berpuasa.

Bukankah perbedaan itu hikmah. Tapi ada tantangan bagi umat Islam sedunia. Bagaimana ke depan mencari ijtihad solutif bagi seluruh dunia muslim untuk memberi kepastian tentang disepakatinya kalender Hijriah Islam global tunggal.

Malu rasanya di era abad ilmu pengetahuan dan hadirnya kalender Masehi yang telah lama jadi rujukan pasti, kaum muslim sejagat masih berkutat pada ketidakpastian dalam penentuan kehadiran bulan baru.

Sungguh umat Islam masih belum beranjak maju ke tingkat peradaban tinggi berbasis ilmu pengetahuan yang memberi kepastian optimum. Seraya meninggalkan ketidakpastian dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Kembali ke puasa Ramadhan. Setiap tahun dia hadir bersama kaum muslimin. Adakah puasa rutin per tahun itu telah menjadikan insan muslim semakin bertakwa sebagaimana tujuan berpuasa “la’allakum tattaqun” (QS Al-Baqarah: 183).

Baca Juga:  Inilah Ketentuan Pembayaran Fidyah Bagi Ibu Hamil dan Menyusui Menurut Muhammadiyah

Orang bertakwa memiliki seluruh sifat kebaikan dan keutamaan, yang mengantarkan dirinya menjadi insan paling mulia di sisi Tuhan (QS Al-Hujarat: 13).

Puasa akan menjadi mikraj ruhani tertinggi menuju takwa bilamana puasanya menurut Imam Al-Ghazali mencapai tingkatan khawas al-khawas, yakni puas khusus bagi orang yang khusus. Itulah puasa tingkat istimewa.

Puasa istimewa mampu menaklukkan hawa nafsu dan segala keangkuhan diri yang merasa serba digdaya untuk tetap menjadi insan biasa.

Insan bertakwa itu tawadu atau rendah hati, tidak menjadi manusia yang angkuh diri, sebagaimana salah satu ciri hamba kekasih Tuhan (ibadurrahman).

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam” (QS Furqan: 63).

Tuhan melarang manusia angkuh diri atau sombong. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. ” (QS Luqman : 18).

Sombong itu perangi iblis, sebagaimana digambarkan Tuhan, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur maka ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS Al-Baqarah : 34).

Baca Juga:  Santri Virtual dan Konten Agama

Manusia sombong sabda Nabi, cirinya dua, yakni merasa diri paling benar dan suka merendahkan orang lain (HR Muslim).

Dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan relasi kemanusiaan semesta, mereka yang sombong merasa paling digdaya, paling benar, dan paling baik melebihi yang lain.

Pihak atau orang lain dianggapnya lemah, buruk, salah, sesat, dan sederet sifat negatif lainnya. Dalam beragama pun merasa “suci”, paling benar, dan suci sendiri.

Padahal Tuhan mengingatkan, “Maka, janganlah menganggap diri kalian suci, Dialah (Allah) yang paling mengetahui siapa yang paling bertakwa di antara kamu” (QS Al-Najm: 32).

Mereka yang angkuh atau sombong diri, sering dengan mudah menegasikan orang lain. Dirinyalah pejuang kebenaran sejati.

Orang lain termasuk sesama seiman dianggap pengecut, lembek, dan pengkhianat hanya karena berbeda pandangan dan cara dalam perjuangan kehidupan yang tidak sejalan dengan dirinya.

Pihak lain di luar dirinya diposisikan menjualbelikan kebenaran, bahkan kompromi dan membenarkan kemunkaran, karena tidak bersesuaian dengan pandangannya.

Dalil Al-Quran dan Hadis Nabi pun dengan mudah dipakai menstigma pihak lain. Tahta, harta, dan kedigdayaan dunia sering menjadikan manusia angkuh diri atau sombong.

Orang berilmu pun bisa terjangkiti kesombongan. Dirinya merasa paling benar dan paling tinggi ilmunya, yang lain dianggap bodoh dan rendah.

Orang berilmu kadang-kadang mudah mengkritik pihak lain dengan keangkuhan keilmuannya. Mereka yang berbeda pandangan dengan dirinya dianggap keliru, salah, dan nirkebenaran.

Baca Juga:  Bekerja di Lingkungan Muhammadiyah Adalah Panggilan Kekhilafahan di Muka Bumi

Karena angkuh diri, ketika dikritik akan muncul pertahanan diri (self-defense mechanism) yang tinggi, padahal dirinya terbiasa mengkritik orang lain.

Manusia yang angkuh diri sejatinya bertuhankan berhala dirinya yang merasa paling digdaya segala hal. Mereka yang  angkuh diri, karena kesombongannya yang membatu, maka hatinya dikunci Tuhan, “…demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS Al-Mukmin : 35).

Nasib yang angkuh diri, menurut sabda Nabi, ”Para penghuni neraka adalah orang-orang yang keras kepala, kasar lagi sombong.” (HR Bukhari dan Muslim).

Naudzubillahi min dzalika. Semoga kita kaum beriman dijauhkan dari petaka akibat congkak diri yang membawa prahara.

Puasa itu menaklukkan diri yang bermahkotakan hawa nafsu serba digdaya yang oleh Jalaluddin Rumi disebut “ibu dari semua berhala”.

Menahan makan, minum, dan pemenuhan nafsu biologis adalah penanda menaklukkan segala kuasa diri yang bersifat serba inderawi dan serba dunia.

Puasa dapat membebaskan diri dari segala sangkar besi kedigdayaan. Maka, jadikan puasa sebagai ruang refleksi tertinggi yang menembus jantung mata hati terdalam.

Agar terbentuk  karakter insan bertakwa yang autentik nan rendah hati. Dirinya hanya hamba biasa di bawah Kuasa Tuhan Yang Maha Segala.

Semoga dengan berpuasa menjadikan diri setiap insan Muslim siapapun dia,  makin rendah hati dan tidak terjangkiti virus angkuh diri.***

PMB UM Bandung