Opini

Strategi Dakwah Muhammadiyah Melalui Seni dan Budaya

×

Strategi Dakwah Muhammadiyah Melalui Seni dan Budaya

Sebarkan artikel ini
Ace Somantri

BANDUNGMU.COM — Sejak awal pendiriannya hingga saat ini di era global digital, Muhammadiyah tetap konsisten dalam beragam gerakan sosial keislaman, meliputi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat yang terjadi.

Ajaran Islam menjadi sumber acuan dan kebijakan bagi gerakan Muhammadiyah, termaktub dalam Al-Quran dan As-Sunnah sahihah maqbullah.

Perjalanan panjang gerakan Islam modern di Indonesia tidak lepas dari keberadaan Kiai Dahlan yang erat dengan Muhammadiyah.

Perjuangannya penuh rintangan, menembus tradisi adat yang kuat dalam masyarakat.

Kehadiran pola kepercayaan yang kental terhadap hal-hal yang dianggap keramat mendominasi keberagaman keseharian.

Sebelum masa kemerdekaan Indonesia dari penjajahan, masyarakatnya banyak mengamalkan keyakinan yang jauh dari konsep kehidupan pencerahan dan kemajuan peradaban.

Baca Juga:  Ibadah Shaum Membentuk Kemampuan Kognitif, Afektif, dan Konatif

Animisme dan dinamisme menjadi sumber ajaran keberagamaan yang dikenal.

Banyak sejarawan menyampaikan bahwa Islam dibawa oleh pedagang Arab secara tidak langsung melalui perkawinan dan sistem perdagangan, membawa misi keagamaan (dakwah islamiyah) di Nusantara.

Kiai Dahlan, di tengah kekuasaan Hindia Belanda, menjadi sumber cahaya dalam kegelapan, menghadapi tradisi adat yang kuat namun tetap tegar dalam pendiriannya.

Daya kritisnya tidak terbendung, menghadapi tantangan lingkungan keluarga dan pemerintah Belanda.

Sejak muda, Kiai Dahlan sangat kritis terhadap realitas sosial, politik, dan ekonomi, dengan tindakan dan perbuatannya yang penuh resiko, namun membawa harapan dan cita-cita membangun bangsa.

Pendekatan rasionalitas dan penggunaan seni sebagai alat pengantar ajaran Islam oleh Kiai Dahlan menjadikan pemahaman agama tersebut cepat diterima masyarakat, khususnya generasi muda.

Baca Juga:  Pemilu Serempak Terlihat Sepi dan Sunyi, Apa Penyebabnya?

Pemahaman bahwa dakwah harus dilakukan dengan cara yang menarik dan meyakinkan menjadi fokus, sejalan dengan usaha nabi dan rasul dalam menyebarkan risalah.

Seni budaya menjadi instrumen kemanusiaan sejak zaman Nabi Adam AS diciptakan.

Nalar seni terletak pada daya imajinasi kreatif yang menjadi bagian esensial dari manusia.

Kiai Dahlan dengan simbol alat musik biola memberi pesan bahwa gerakan Muhammadiyah harus dijalankan dengan menggunakan nalar dan narasi seni dan budaya.

Dalam literatur, penyebaran Islam di Nusantara menggunakan media yang erat dengan seni dan budaya, seperti pagelaran wayang yang membawa pesan ajaran Islam.

Seni dan budaya merepresentasikan jiwa manusia yang berhubungan dengan rasa dan perasaan sehingga sulit untuk menyembunyikan kejujuran dalam batin.

Baca Juga:  Ikhtiar Akhiri Pandemi Covid-19, MCCC Kota Bandung Gelar Vaksinasi Massal

Terkait dengan penyebaran pemahaman Islam yang dikembangkan oleh Muhammadiyah, pendekatan seni budaya sangat diperlukan.

Strategi dakwah yang masih terkesan monoton dan lambat merespons perlu direformasi agar dapat menstimulasi gerakan dakwah ke depan dengan lebih menarik.

Hal ini menjadi penting mengingat usia Muhammadiyah yang telah lebih dari 111 tahun.

Namun, strategi dakwahnya masih terbilang monoton dan terkungkung dalam lingkaran kelompok masyarakat tertentu.

Contohnya, dalam suatu acara besar di lingkungan Muhammadiyah, sejumlah mahasiswa memberikan tanggapan bahwa materi yang disampaikan membuat mereka merasa bosan.

Fenomena ini, jika tidak disadari dan diperbaiki, akan membuat Muhammadiyah kesulitan mencapai tujuan utamanya.***