UMBandung
Edukasi

Tujuh Kiat Menulis Artikel Tembus Jurnal Ilmiah

×

Tujuh Kiat Menulis Artikel Tembus Jurnal Ilmiah

Sebarkan artikel ini

BANDUNGMU.COM, Bandung — Upaya meningkatkan gairah menulis di kalangan mahasiswa, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Workshop Penulisan Artikel Jurnal Ilmiah yang berlangsung di Aula FAH. Founder Kelas Menulis UIN Sunan Gunung Djati Bandung Wahyudin Darmalaksana menjadi pembicara utama bertajuk “Optimalisasi Penulisan Artikel Jurnal Ilmiah dalam rangka Peningkatan Kompetensi Mahasiswa” yang dipandu oleh Bunyamin Fasya (dosen dan sastrawan).

“Tujuannya agar mahasiswa jadi sarjana punya kelebihan. Beda dengan angkatan 1990-an atau 2000 awal, ketika disuruh buat artikel pasti keren-keren. Walaupun tidak punya buku, tetapi masih bisa baca di toko buku. Sekarang nyaris tidak punya pengunjung untuk toko buku. Dulu referensi yang tertulis, buku, toko buku jadi andalan. Saat ini membaca nyaris tidak menjadi hal yang menarik, daya beli, baca mahasiswa nyaris rendah. Sekarang ke Perpus kosong, paling buka skripsi yang paling banyak dicari,” jelasnya.

“Pada hari ini, dari kelemahan membaca, tradisi menulis yang pernah jaya, kita ingin membangkitkan girah menulis agar tidak luntur. Caranya dengan membaca artikel dan menulis jurnal. Kegiatan ini menjadi upaya alternatif untuk mempersiapkan skill pilihan. Harapannya dari artikel jurnal ilmiah ini bisa jadi pengganti skripsi. Mudah-mudahan dari adanya kelas menulis di lingkungan fakultas mampu melahirkan artikel dan terpublikasi di Sinta 2. Jadilah pelopor dalam menulis karya ilmiah sebagai pengganti skripsi,” tegasnya.

Baca Juga:  Dadang Kahmad Ajak Sivitas UM Bandung Banyak Membaca

Pengganti skripsi

Wakil Dekan III Dadan Firdaus melaporkan sebanyak 60 peserta mengikuti workshop penulisan artkel jurnal ilmiah ini. “Awalnya yang daftar ada 120 peserta, diseleksi jadi 60. Dari 60 peserta yang mengikuti workshop bengkel tulisan ini diharapkan dapat melahirkan 30 tulisan ilmiah yang dapat dipublikasikan pada Sinta 2 sebagai pengganti skripsi,” jelasnya.

Secara teknis, workshop bengkel tulisan dilakukan selama satu bulan lebih dengan melibatkan instruktur, pembimbing, dan pendamping dari dosen. “Untuk pembukaan dilakukan bersama ahli, dilanjutkan konsultasi dengan pembimbing pada grup whatsapp. Setelah konsultasi, proses bimbingan terus ditingkatkan, baik online maupun ofline. Selain Sinta 2, dari hasil tulisan ini diharapkan bisa publish di Sinta 3 dan Sinta 4. Ini target yang ingin dicapai pimpinan. Produk itu sangat penting dari workshop ini. Bukan hanya transformasi pengetahuan, melainkan tulisannya terpublikasi pada indeks Sinta sehingga budaya menulis tetap terjaga dan produktivitas karya ilmiah semakin meningkat,” papar Dadan.

Tiga pertanyaan kunci

Yudi, sapaan akrab narasumber, memulai materi dari tiga pertanyaan: apa itu artikel ilmiah? Apa itu jurnal ilmiah? Dan apa itu publikasi ilmiah? “Artikel ilmiah adalah tulisan hasil riset. Jurnal ilmiah adalah wadah tulisan hasil riset. Publikasi ilmiah adalah penyebarluasan tulisan hasil riset. Jadi, kita mau menulis hasil riset untuk dikirim ke jurnal ilmiah sebagai wujud publikasi ilmiah,” ujarnya.

Baca Juga:  Selain Jadi Pegawai Pajak, Ini 8 Prospek Kerja Lulusan Ekonomi Syariah UM Bandung

Menurut Yudi, publikasi ilmiah sangat penting sebagai informasi bagi masyarakat, peningkatan pengakuan kampus, dan bukti produktivitas riset yang dapat dilihat di Google Scholar.

“Orang biasanya mencari referensi di Google Scholar berupa artikel-artikel jurnal ilmiah. Google Scholar menyimpan ribuan artikel jurnal bereputasi. Kita masukan kata kunci materi yang dibutuhkan, maka setelah enter akan muncul artikel-artikel terkait. Uniknya Google Scholar juga menyediakan vitur kisaran tahun. Jadi, kita bisa menemukan hasil-hasil penelitian terbaru atau mutakhir di bidang atau seputar topik yang dibutuhkan,” jelasnya.

Yudi menegaskan bahwa peningkatan kompetensi mahasiswa dalam bidang penulisan karya ilmiah harus diawali dengan mengelola tiga kekuatan. Apa saja?

Pertama, jaga kesehatan. “Karena kesehatan itu mahal, apalagi gangguan kesehatan mental sedang marak terjadi,” ujarnya. Kedua, bikin seru. “Hari ini saya bahagia terpanggil untuk menemani teman-teman mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora pada bengkel menulis. Dengan seru-seruan kita giat latihan, submit, dan terbit. Menulis artikel jurnal ilmiah itu harus seru dan serius,” paparnya. Ketiga, jangan lupa bahagia. “Karena kebahagiaan secara esensial dari Allah, jadi tidak ada alasan untuk tidak bahagia,” tuturnya.

Tujuh rumus

Saat ini merupakan era penerbitan artikel mahasiswa jenjang sarjana. Tentu ada kiat untuk sukses di bidang ini. Kiat ini pasti berkembang di masa depan seiring dengan ditemukannya strategi yang lebih relevan.

Baca Juga:  Bambang Qomaruzzaman: Halalbihalal Kembali Jadi Manusia Bahagia

Berikut ini tujuh kiat yang tepat dan praktis dilakukan oleh mahasiswa di masa sekarang. Pertama, unduh modul atau template artikel dari jurnal. Kedua, pelajari bersama template tersebut. Tidak cukup share saja template artikel, tetapi bagian-bagian template mesti dipelajari bersama. Ketiga, sepakati bersama bagian yang akan dikerjakan pertama dari template itu. Ada baiknya mulai pertama setiap mahasiswa menentukan topik pembahasan.

Keempat, penulisan mengacu template sesuai dengan tahapan yang telah disepakti bersama. Kami biasanya mulai dari rumusan masalah dan tujuan penelitian. Pastinya menyusun tahapan penulisan pada bagian-bagian template merupakan bagian dari strategi penulisan. Kelima, jadikan kemajuan tahapan sebagai model bagi yang lain. Keenam, pastikan semua mahasiswa telah menuntaskan seluruh tahapan. Ketujuh, beri mereka apresiasi.

Tahapan penulisan memiliki arti penting dalam penerbitan artikel mahasiswa di jurnal ilmiah. “Semua mahasiswa pasti bisa terlebih dengan terus mendapat motivasi, pendampingan, dan memastikan mereka sukses. Terima kasih, selamat mencoba yakin berhasil!” pungkasnya.

Pembukaan workshop penulisan artikel jurnal ilmiah dihadiri oleh Wakil Dekan I FAH Rohanda, Wakil Dekan II FAH Samsudin, dan tenaga kependidikan di lingkungan FAH UIN Sunan Gunung Djati Bandung.***

PMB UM Bandung