Webinar Hima Agribisnis UMBandung Ungkap Strategi Pemasaran Produk di Media Sosial

oleh -
Suasana webinar yang digelar Hima Agribisnis UMBandung, Jumat (27/08/2021) yang lalu. (Foto: Dokumentasi Hima Agribisnis UMBandung).

BANDUNGMU.COM – Harus diingat, fungsi media sosial yang utama bukan tempat untuk berjualan sebuah produk tertentu, melainkan media promosi atau branding. Sebabnya, orang-orang bermain media sosial itu untuk mencari hiburan, bukan belanja.

Itulah salah satu benang merah yang disampaikan dosen Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) Tri Hanifawati, M.Sc. dalam webinar bertema ”Strategi Pengelolaan Sosial Media Facebok pada Pemasaran Produk Agri-food” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa (Hima) Agribisnis UMBandung, Jumat (27/08/2021) yang lalu.

Dalam webinar yang dimoderatori Dhafa Fathurohman Sidiq ini, Tri mengatakan bahwa pengguna media sosial aktif di Indonesia menurut ”We Are Social” pada Januari 2021 mencapai 170 juta dari total 240 juta orang, artinya penetrasinya mencapai 61,8 persen.

”Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki interaksi aktif yang tinggi dengan media sosial, baik untuk memposting, menyukai, menonton, membagikan, maupun mengomentari sebuah konten,” ucapnya.

Tri menyampaikan, waktu rerata penggunaan internet masyarakat Indonesia adalah 8 jam 52 menit yang bahkan lebih tinggi dari rata-rata dunia yaitu sekitar 7 jam. Kecenderungan pengguna internet akan selalu ada, bahkan trennya terus meningkat, apalagi sejak kondisi pandemi seperti saat ini.

Terkait umur produktif pengguna sosial media yang digunakan berdasarkan data jangkauan iklan di Indonesia, Tri menerangkan, masih didominasi oleh generasi Z dan Y dengan rentang usia 18-24 dan 25-34 tahun.

”Namun dalam perilaku belanja online saat ini, semua kategori umur menunjukkan persentase yang hampir sama, artinya jika dulu perilaku belanja online lebih didominasi oleh generasi muda, sekarang generasi tua pun sudah banyak yang bermigrasi berbelanja di platform online,” tuturnya.

”Ini dibuktikan sebanyak 78,2 persen pengguna internet telah menginstal shopping apps dan 93 persen penggunaanya memanfaatkan internet untuk mencari produk atau layanan yang ingin dibeli. Sebanyak 87,3 persen akan mengunjungi ritel online untuk mengetahui detail informasi produk yang ingin mereka beli, dan sebanyak 87,1 persennya memutuskan pembelian pada ritel online tersebut,” paparnya.

Lima platform

Tri memaparkan, terdapat lima platform media sosial yang menurut ”We Are Social” paling banyak digunakan dengan persentase umur pengguna 16 hingga 64 tahun, yaitu Youtube, Whatsapp, Instagram, Facebook, dan Twitter.

”Integrasi multichannel dalam bisnis itu akan sangat menguntungkan, sebagaimana integrasi antara Facebook, Whatsapp, dan Instagram dimana user dapat mengakses ketiga saluran tersebut hanya dengan menggunakan salah satu platform. Jangkauan pengguna potensial Facebook saat ini mencapai 140 juta orang atau 65,7 persen, jauh lebih tinggi daripada potensi jangkauan pengguna pada media sosial lainnya,” terangnya.

Alumnus Universitas Gadjah Mada ini menambahkan, pertumbuhan penjualan produk dan personal care pada Januari 2021 adalah yang tertinggi dibandingkan dengan kategori produk lainnya. Alasannya karena respons dari situasi pandemi covid-19 yang membatasi dinamika interaksi sosial sehingga food delivery menjadi pilihan.

Selain itu, tren pembelian produk segar, produk lokal, frozen food, dan makanan kemasan online juga mengalami peningkatan signifikan.

”Media sosial memungkinkan konsumen untuk menemukan dan mengenal berbagai merek baru dengan strategi awareness building yang efektif. Fungsi saluran tersebut ada berbagai macam, di antaranya untuk promosi, branding, menjual produk, bahkan membangun hubungan yang lebih erat dengan pelanggan,” tandasnya.

Selain itu, masyarakat menurut Tri, khususnya yang bergerak dalam penjualan di media sosial atau digital, harus memahami beberapa saluran, yaitu single channel, multichannel, cross channel, dan omni channel dimana omni-channel saat ini sedang menjadi topik hangat.

Saluran ini, kata Tri, merupakan upaya dari penjual untuk dapat mengakses konsumen yang lebih banyak. Perbedaan keempat tipe tersebut dillihat berdasarkan interaksi antar-salurannya.

Empat strategi

Strategi dasar mengelola pemasaran di media sosial terbagi menjadi empat, yaitu konten, time post, interaksi, dan variasi program pemasaran.

Konten video dan gambar menurut Tri justru lebih efektif untuk dapat meningkatkan popularitas merek. Terlebih ketika produk tersebut jenis makanan karena mampu membangkitkan emosional konsumen.

”Selain itu juga konten promosi berupa gambar dapat meningkatkan daya ingat konsumen, bahkan ketika pada kasus e-commerce, gambar dinilai sangat penting. Terakhir adalah pesan konten dapat dibuat lebih variatif yang meliputi edukasi, hiburan, informasi, promo, story-telling, ataupun virtual reality,” katanya.

Mengenai ide promosi, Tri menjelaskan, sebetulnya dapat ditemukan dari mana pun bahkan dari konten yang telah ada. Namun, perlu diperhatikan aspek kreativitasnya.

”Sumber gambar atau video pada konten sebaiknya menggunakan milik sendiri. Meskipun begitu terdapat beberapa platform yang menyediakan gambar secara gratis, seperti freepik, pexels, pixabay, atau unplash,” paparnya.

Promosi suatu produk di media sosial, menurut Tri, sejatinya tidak asal posting untuk kemudian menunggu respons calon pembeli. Urutan dan caranya bukan seperti itu, tetapi ada waktu serta cara pengelolaannya.

”Misalnya konsistensi waktu posting kemudian membangun komunikasi dua arah, artinya jika konten kita dikomentari, berikan balasan, itu akan membuat konsumen merasa lebih dihargai. Hal yang harus menjadi catatan lainnya, yakni memposting pada weekday menurut penelitian ternyata lebih efektif dibandingkan dengan saat weekend, ini diukur dari tingkat engagement-nya,” ungkapnya.

Pemasar atau bisnis bisa memanfaatkan Facebook Business Suite (FBS) untuk mengelola banyak saluran. Platform ini banyak keuntungannya, misalnya ada fitur content scheduler untuk mengatur jadwal posting konten, terintegrasi dengan Instagram, Facebook, dan website, membalas pesan pelanggan di ketiga platform lainnya dapat dilakukan dengan menggunakan fitur messaging di FBS.

Kemudian di FBS juga dapat membuat video dengan gambar menggunakan template serta insight report yang lebih detail.

”Pembuatan iklannya pun lebih memudahkan pengguna karena memiliki fitur dengan tujuan yang jelas dan spesifik,” ucapnya.

Terakhir, Tri menegaskan bahwa strategi pemasaran haruslah mengikuti perubahan lingkungan eksternal, terutama tren teknologi dan pasar yang ini juga akan berpengaruh terhadap perilaku konsumen.

”Sehingga dalam kondisi turbulensi lingkungan bisnisnya tinggi seperti pandemi saat ini, strategi pemasaran dinamis atau adaptif perlu menjadi prioritas untuk menjaga keberlanjutan bisnis, dengan kata lain bertransformasi adalah kunci,” pungkasnya. (Rafi/Feri). ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *