Islampedia

Zaman Berubah dengan Cepat, Begini Strategi Dakwah Muhammadiyah

Ilustrasi (Istock)

BANDUNGMU.COM — “Media Masyarakat Digital dan Dakwah Muhammadiyah” menjadi tema yang penting untuk diperbincangkan. Hal itu penting mengingat isu ini adalah isu terkini dalam masyarakat yang sangat aktual.

Tema yang banyak diperbincangkan orang dan sedang terjadi dalam masyarakat serta melahirkan tantangan baru di berbagai hal termasuk juga tantangan baru di Muhammadiyah.

“Tantangan Muhammadiyah di abad ke-2 ini jauh lebih berbeda dengan tantangan dakwah di abad pertama. Alhamdulillah di abad pertama sudah bisa berprestasi dengan baik maka kita dalam abad ke-2 ini perlu mengambil peran yang sangat signifikan untuk bisa bermain dan berjuang menjadi yang terbaik dan untuk kemaslahatan umat,” ujar Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dadang Kahmad, dalam Seminar Pra-Muktamar secara blended di Universitas Ahmad Dahlan, seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Jumat (11/03/2022) pagi.

Dengan munculnya internet, maka sekaligus dimulainya revolusi industri 4.0 yang membawa perubahan bagi masyarakat. Dari perubahan tersebut, menurut Dadang, berakibat pada terjadinya perubahan bagi masyarakat di seluruh dunia.

Selain itu, lahir juga dunia digital dan masyarakat digital. Adanya dunia digital itu, kata Dadang, mengubah cara pandang dan sikap terutama pada saat ini.

Perubahan-perubahan yang dirasakan, kata Dadang, berimplikasi bukan hanya pada budaya teknologi, melainkan juga pada aspek kehidupan manusia, lebih-lebih hubungan pribadi.

Belum lagi implikasi pada tataran ibadah keagamaan yang dilakukan masyarakat. Sebagai contoh lahirnya salat Jumat online, ibadah haji metaverse, silaturahmi virtual, perkawinan jarak jauh, dan sebagainya.

Kurang tertarik pada agama

“Tentunya perubahan itu membawa dampak juga pada kehidupan dan generasi masa kini. Di antara dampak perubahan itu adalah minimnya perhatian anak muda pada agama,” katanya.

Mengutip hasil penelitian di Eropa pada 2016 bahwa dari 12 negara di Eropa, generasi milenial mengaku tidak menganut agama apa pun. Sementara dari data penelitian yang dilakukan di Indonesia, perhatian anak-anak di Kota Bandung terhadap agama sangat rendah. Perhatian kepada agama ada di peringkat lima setelah perhatian kepada hal lain.

Penelitian lainnya di Bekasi menyatakan bahwa anak-anak sekarang tidak lagi mengenal organisasi-organisasi keislaman seperti Muhammadiyah dan NU. Mereka lebih mengenal ustad-ustad di media sosial.

Oleh karena itu, ditegaskan Dadang, Muhammadiyah harus dengan serius menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, Muhammadiyah perlu menghasilkan sistem baru dalam pendidikan dan kesehatan. Misalnya ruang guru, telemedicine, marketplace, dakwah digital, dan lainnya.

Muhammadiyah sendiri sebenarnya telah punya beberapa rintisan. Seperti adanya Universitas Siber Muhammadiyah yang mengacu pada teknologi. “Muhammadiyah harus merespons perubahan ini dengan tigal hal, yaitu antisipasi, adaptasi, dan inovasi,” ujarnya.

“Saya berharap seminar ini menghasilkan output yang penting. Mengingat pesan Ahmad Dahlan bahwa Muhammadiyah sekarang berbeda dengan yang akan datang. Oleh karena itu, harus beradaptasi dan mengadakan perubahan strategi dan mengusahakan Islam berkemajuan,” pungkasnya.***

Exit mobile version