Zikirnya Orang Muhammadiyah Melahirkan Tindakan Membantu Sesama

oleh -
Foto: ilustrasi (muhammadiyah.or.id)

BANDUNGMU.COM – Gerakan zikir atau dzikrul al jawarih yang dilakukan oleh Muhammadiyah mewujud dalam bentuk bantuan dan gotong royong yang dilakukan warga persyaraikatan untuk membantu meringankan kesusahan orang lain.

Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Syamsul Hidayat, menjelaskan zikir atau menginggat Allah bisa dilakukan dengan tiga cara, yaitu menginggat Allah dengan hati (dzikrul qalbi), lisan/ucapan (dzikrul lisan), dan tindakan (dzikrul al jawarih).

Muhammadiyah dalam mengontekstualisakan zikir di masa bencana yang terjadi di Indonesia sekarang ini, diwujudkan dalam bentuk bantuan kepada orang yang tertimpa musibah.

”Sekarang ini banyak musibah terjadi. Kita mengerakkan tangan dan kaki mengumpulkan bantuan, infak, dan sedekah untuk membantu saudara kita yang memerlukan bantuan, itu juga bagian dari dzikrul bil jawarih,” ungkapnya dalam pengajian yang diadakan oleh Pemuda Muhammadiyah Kudus, Senin 21 Februari 2021.

Baca Juga:  Islam dan Kiprah Muhammadiyah di Negara Kanguru, dari Dilempari Telur Hingga Dirikan Sekolah

Syamsul meminta kepada Pemuda Muhammadiyah dan semua elemen persyarikatan dalam melakukan kegiatan kemanusiaan harus didasari niat murni karena Allah SWT. Hal ini harus dipatri kuat-kuat pada hati setiap warga persyarikatan dalam penanganan bencana.

Tali Allah

Pada setiap dimensi ruang dan waktu, Syamsul berpesan kepada warga persyarikatan untuk senantiasa berpegang teguh kepada tali Allah (wa’tasimu bihablillah jami’an). Dalam Terjemah Tafsir Al Muyassar, tali Allah bisa dimaknai sebagai kitab Allah dan sunnah rasul atau petunjuk rasul.

Baca Juga:  Sektor Farmasi Bisa Ikut Pulihkan Ekonomi

Al-Quran Surah Ali Imran ayat 103 tersebut memiliki sambungan wala tafarraqu’ yang artinya jangan bercerai berai/berpecah belah.

”Pecah belah di sini bermaksud larangan supaya tidak berbuat suatu tindakan, baik hati, lisan, maupun tindakan yang mengarahkan kepada cerai berai/pecah belah,” jelas Syamsul.

Lebih jauh ia menjelaskan, dahulu sebelum Islam datang di bawah oleh Nabi Muhamamd SAW, orang-orang yang hidup di Jazirah Arab bercerai berai dan saling bermusuhan. Kemudian Islam datang menyatukan mereka menjadi saudara.

Baca Juga:  Kepercayaan Mistik Masyarakat Masih Kuat, Dakwah Muhammadiyah Tak Boleh Kendor

Persaudaraan yang dimaksud dalam Ali Imran 103 tersebut adalah hubungan saudara yang dibangun atas dasar keimanan dan akidah yang sama. Bahkan, melebihi kedekatan saudara kandung.

”Maka di ayat yang ke 104, ini yang diamalkan oleh Kiai Ahmad Dahlan, dengan mendirikan Muhammadiyah yang sampai sekarang sudah berusia 108 tahun lebih,” imbuh Syamsul.

Ikatan yang dilandasi oleh iman dan akidah sesuai dengan perintah Allah, menjadikan persaudaraan yang dibangun oleh Muhammadiyah langgeng sampai berusia lebih dari satu abad, baik dalam hitungan masehi maupun hijriah.

Diolah dari muhammadiyah.or.id

 

No More Posts Available.

No more pages to load.