Opini

1 Syawal Bukan Akhir Ramadhan

×

1 Syawal Bukan Akhir Ramadhan

Sebarkan artikel ini

OLEH: ACE SOMANTRI — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

BANDUNGMU.COM — Sebulan penuh tidak terasa, puasa ramadhan berakhir kecuali bagi yang memiliki beban hutang yang belum terpenuhi. Biasanya para wanita dengan alasan datang bulan (haid), orang sakit, musafir, dan alasan lainnya.

Setelah berakhir, diawali dengan hari kebahagiaan atau kemenangan yang sering di sebut hari fitri. Ada tradisi dan budaya bagi masyarakat muslim Indonesia karena negara kita terkenal kaya budaya sehingga idul fitri pun penuh dengan pernak-pernik budaya yang dijadikan hiasan dan kemasan menarik.

Simbol kemenangan dan kebahagiaan salah satu bagian bentuk dari terima kasih atau syukur pada Sang Pencipta. Memang sebagian masayarakat umum menganggap bahwa idul fitri itu akhir dari Ramadhan. Namun, sebenarnya idul fitri itu hakikatnya awal dari bulan syawal yang seharusnya masyarakat muslim mempersiapkan hal yang lebih baik dari sebelumnya.

Perlu ditanamkan dalam cara pandang masyarakat muslim bahwa konsistensi ibadah ritual harus linear dengan efek atau dampaknya. Hal itu penting dipahami karena menjadi indikator dari nilai dan keberhasilan dari ibadah tersebut.

Baca Juga:  IMM Bandung Timur Gelar Halalbihalal dan Resmikan Sekretariat Baru

Ketika kita beramal sesuai dengan kaidah dan kaifiyat selama proses adalah sebatas memenuhi syarat ritual wajib dan wajar, tetapi sangat penting value added bagi diri dan orang lain apakah ada peningkatan kebaikan dan produktifitas hasil?

Pertanyaan tersebut harus disadari semua umat Islam. Pasalnya keumuman masyarakat muslim berhenti dalam proses, konsistensi, dan kontinuitasnya tidak berjalan dengan semestinya.

Bahkan yang lebih menyedihkannya lagi proses ritual ibadah dan ibadah pendukungnya untuk mengumbar ria, ujub, dan sombong dengan kemasan yang soft (lembut).

Simbol bermaaf-maafan di hari fitri, tradisi sangat baik untuk saling membebaskan dari kesalahan pada sesama. Namun juga penting bermaafan tidak berhenti pada berjabat tangan dan capaka-cipiki antar-sesama semata.

Kesadaran yang terbuka dan keluasan hati yang dalam harus menjadi spirit untuk tidak melakukan kesalahan kembali. Cukup berat memang mengakui kesalahan terbuka karena butuh jiwa yang besar. Hanya momentum idul fitri merupakan situasi dan kondisi yang tepat karena semua umat muslim serentak bersama-sama berusaha membuka mata dan hati.

Baca Juga:  Pimpinan Cabang Istimewa: Duta Besar Muhammadiyah

Berbagai ungkapan lisan ataupun tulisan bertebaran di berbagai media komunikasi dan informasi. Terlebih di media sosial kadang-kadang membacanya hingga cukup membosankan.

Awal kebahagiaan

Idul fitri awal kebahagian seperti halnya awal ramadhan yang disambut dengan suka cita. Suasananya harus lebih kreatif dan inovatif karena selama satu bulan penuh jiwa dan raga diisi dengan nilai-nilai spiritualitas.

Satu bulan berpuasa bukan sebentar, mengubah kebiasaan makan dan minum, menahan haus, dahaga dan lapar dalam waktu yang panjang, menahan hawa nafsu amarah dan berusaha untuk meningkatkan ibadah ritual secara konsisten.

Tidak setiap umat manusia mampu melakukan hal tersebut. Penetrasi nilai-nilai keimanan umat Islam di berbagai belahan dunia dengan spirit yang kuat dan tangguh hingga bertahan satu bulan penuh itu sangat luar biasa.

Akan lebih luar biasa lagi, ketika setelah ramadhan umat Islam menunjukkan kualitas kreativitas dan inovasinya dalam beramal kebaikan. Sikap atau attitude yang dipertahankan secara simultan dan meningkat secara kuantitatitas dan kualitas, butuh usaha keras, cerdas, iklhas, serta tuntas.

Baca Juga:  Membangun Pendidikan Yang Memajukan

Satu bulan penuh ramadhan bukan kali ini, melainkan setiap tahun umat Islam dipertemukan kembali. Banyak yang terlupakan oleh masyarakat Islam bahwa ada sesuatu hal yang penting diketahui yakni ketersambungan bulan ke bulan selama 12 bulan yang terus berulang dan berputar.

Namun faktanya perkembangan kualitas amanah kita cenderung statis dan jalan di tempat. Tidak dinamis. Malahan ada yang mundur dan menurun drastis kualitasnya.

Artinya ada hal yang salah atau tidak tepat dalam proses edukasi diri. Kesalahan yang disadari segera diperbaiki, bukan diulangi lagi. Diakui atau tidak, faktanya dari tahun ke tahun setiap usai bulan ramadhan semua orang kembali ke aktivitas sebelum ramadhan.

Kesedihan ditinggal orang-orang dicintai sudah tidak cukup beberapa hari, apalagi merasa bersalah hanya sesaat. Selebihnya semua orang hanya butuh tiga hari puncak kebahagian idul fitri. Akhirnya saya beserta keluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.***