PMB UMbandung
Edukasi

Mengatasi Kelelahan Digital Mahasiswa: Solusi Kesehatan Mental di Era Teknologi

×

Mengatasi Kelelahan Digital Mahasiswa: Solusi Kesehatan Mental di Era Teknologi

Sebarkan artikel ini
sumbesr: Freepik
PMB UMBandung

BANDUNGMU.COM, Bandung – Mahasiswa Generasi Z kini hidup dalam arus digital yang tiada henti. Mereka terhubung dengan email kampus, mengerjakan tugas di Google Classroom, mengikuti pertemuan organisasi di Zoom, hingga menonton TikTok setiap hari. Teknologi yang awalnya mempermudah hidup mereka kini justru menambah rasa lelah, hal ini yang orang kenal sebagai kelelahan digital.

Dampak Buruk Paparan Layar yang Berlebihan

Generasi Z menghabiskan waktu di depan layar antara 6 hingga 9 jam per hari, belum termasuk waktu untuk tugas akademik dan aktivitas organisasi. Paparan layar yang berlebihan ini memicu penurunan perhatian, kelelahan mental, gangguan tidur, stres, dan isolasi sosial, yang semuanya saling berkaitan.

Baca Juga:  Inilah 12 Ungkapan Bahasa Indonesia dari Kata "Budi"

Walaupun kegiatan di layar tampak produktif, hal tersebut tidak selalu mencerminkan kesehatan mental yang baik. Platform digital, yang seharusnya menjadi pelarian dari tekanan akademik, malah menciptakan tantangan baru. Mahasiswa merasa terdorong untuk mengikuti kehidupan yang cepat tanpa memberi waktu untuk introspeksi.

Cara Mahasiswa Menghadapi Kelelahan Digital

Sebagian mahasiswa kini mulai melawan pola ini dengan berbagai cara. Mereka rutin melakukan detox digital mingguan, mematikan notifikasi, serta menulis di jurnal fisik. Beberapa juga memilih untuk menghabiskan akhir pekan offline atau menjauhkan ponsel saat belajar. Bagi mereka, ketenangan adalah hak mental yang harus dijaga, bukan ancaman.

Baca Juga:  Inilah 8 Prospek Karier Bila Kamu Ambil Program Studi Ilmu Komunikasi UM Bandung

Fenomena kelelahan digital lebih dari sekadar reaksi sesaat terhadap tekanan budaya digital. Ini adalah respons yang penting terhadap dampak teknologi pada kesejahteraan mental. Meskipun teknologi adalah bagian dari masa depan, kemampuan untuk menggunakannya dengan bijak dan sehat menjadi tantangan terbesar bagi generasi ini.

Mencapai Keseimbangan antara Dunia Digital dan Kehidupan Nyata

Generasi Z kini dikenal tidak hanya sebagai “selalu online,” tetapi juga sebagai “online secukupnya, hidup separuhnya.” Mereka mulai menyadari bahwa keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata sangat penting untuk kesejahteraan mereka.***(IK22/Wida)

Baca Juga:  Istirahat yang Kamu Butuhkan, Bukan yang Kamu Inginkan
PMB UMBandung