Oleh: Ace Somantri — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM – Tidak terasa berjuang bersama berbuat untuk orang banyak, tidak lupa memberi panggung para tuan agung. Lelah bersama membangun untuk mencetak para calon generasi pemimpin masa depan, tidak tanggung-tanggung tempat dan ruang di bangun dengan megah dan gagah.
Hanya sejak pandemi, kami pelaku dan praktisi pendidikan merasakan apa yang dirasakan oleh para pengelola pendidikan. Pengurangan insentif dan hadiah sebuah solusi bagi siapa pun yang berkomitmen dari kita oleh kita.
Kampusku memang dibilang banyak peluang untuk maju menggapai gemilang. Itu harapan yang menjadi motivasi para pejuang yang berjibaku bersama.
Sayang, dengan banyak peluang dan kesempatan hilang, membuat kita semakin sayang walaupun tenaga dan energi banyak terbuang. Tidak mengapa yang penting tetap tenang karena banyak yang masih senang.
Sebagaimana peribahasa bahwa berat sama dijingjing, ringan sama dipikul. Siapa pun yang ada, harus sama-sama bekerja walaupun hanya tenaga sisa.
Dua tahun lamanya pandemi mendera membuat semua senantiasa berjaga-jaga menghindari virus yang dianggap berbahaya. Riak dan riuh mahasiswa biasanya menggema di setiap pojok dan sudut ruang kampus.
Hingga saat ini semua gedung kampusku malang terlihat seonggok bangunan yang terlihat mulai lusuh dan kurang terawat. Padahal, dari kejauhan sangat gagah terlihat karena menjulang tinggi.
Pelajaran dan hikmah apa yang bisa kami petik dari peristiwa yang menghebohkan dunia. Jujur dengan kasatmata, yang ada semua kampusku gagap tidak bisa bicara menghadapi realitas.
Bahkan tidak berdaya beberapa waktu yang cukup lama, walaupun akhirnya sadar bahwa itu semua bentuk kasih sayang Sang Mahakuasa. Semua harus diingatkan sebagai syariat memberi titah manusia harus mampu membaca setiap peristiwa yang tiba-tiba ada.
Harus dipahami bersama bahwa setiap apa yang dibaca, di situ ada ketauhidan yang akan memberikan petunjuk dan menjadi jalan hidayah bagi siapa pun.
Jangan terlalu lama menikmati realitas yang hanya menghanyutkan pada fatamorgana serta sadarkan segera tatapan mata terlalu lama dengan tatapan kosong dan hampa.
Aktivasi kembali sistem syaraf otak berusaha mengungkap peristiwa yang ada. Hitung kembali cash in cash out flow produktivitas cipta dan karya yang cenderung merugi di waktu yang lama. Sementara orang lain meraup laba yang tidak terkira.
Kampusku yang gagah dan megah, katanya melahirkan cendekia – cendekia berwibawa. Namun, faktanya ikut terbawa arus opini yang menggelapkan mata intelektualitasnya sehingga tidak banyak karya.
Entah mulai dari mana menata kembali tatanan sosial yang kadung sudah terbiasa menerima dan menelannya tanpa berdaya. Kerugian materil dan imateril hanya tercatat dalam kas kehidupan serta menjadi lembaran sejarah kelam sebagai bukti ketidakberdayaan.
Malu dan marah saat ini menjadi motivasi dan spirit membangun kembali dengan pijitan tombol star dan tekanan volume lebih besar serta kencang secepat kilat.
Hal itu sangat bisa. Toh, yang terjadi di balik peristiwa demi peristiwa yang menghebohkan dunia itu bagian dari cipta dan karya manusia untuk kepentingan mereka.
Sebenarnya Allah SWT sebagai Sang Pencipta benar-benar Maha Rahman dan Maha Rahim. Siapa pun manusia di muka bumi mendapat hak yang sama dengan akal dan pikiran sama juga.
Perkara yang membedakan adalah produktivitas berpikir dan berkarya. Sekecil apa pun benda yang ada, bahkan tidak terlihat dengan kasatmata sekalipun, ketika direkayasa akan memiliki nilai yang mampu menyebabkan sesuatu terjadi.
Semua yang ada di muka bumi dapat difungsikan berdasarkan sistem rekayasa yang dikembangkan. Allah SWT memberikan bahan mentah, termasuk instrumen alat (tools) yang canggih yang diberikan pada manusia.
Tidak ada alasan tidak bisa. Kecuali malas tidak mau berusaha membuka isi kepala. Allah SWT Maha dari segala Maha yang ada.***














