Life Style

Budaya Healing: Self-Care atau Gaya Hidup Konsumtif?

×

Budaya Healing: Self-Care atau Gaya Hidup Konsumtif?

Sebarkan artikel ini
sumber: Pinterest

Istilah “healing” kini menjadi mantra populer generasi muda saat merasa lelah. Setiap akhir pekan, linimasa media sosial dipenuhi foto vila bersuhu sejuk atau kafe estetik dengan caption “healing dulu”.

Secara makna, healing awalnya merujuk pada proses penyembuhan fisik maupun mental. Namun kini istilah tersebut meluas untuk menggambarkan hampir semua kegiatan yang menimbulkan rasa senang.

Fenomena ini muncul seiring meningkatnya tekanan sosial dan budaya produktivitas. Anak muda merasa perlu mencari ruang untuk berhenti sejenak dari tuntutan sehari-hari.

Baca Juga:  Manfaat Air Kelapa untuk Cegah Dehidrasi Selama Puasa

Psikolog Deborah Khoshaba, Psy.D., menjelaskan bahwa self-care bukan sekadar memanjakan diri. Menurutnya, perawatan diri seharusnya membantu seseorang tumbuh secara fisik, mental, dan spiritual.

Meski begitu, budaya healing kerap dikritik karena dianggap bergeser menjadi tren konsumtif. Banyak orang merasa perlu membeli sesuatu agar dianggap sedang healing.

Media sosial memperkuat fenomena ini melalui unggahan bertema healing yang terlihat sempurna. Hal tersebut sering memicu social comparison di kalangan anak muda.

Menurut American Psychological Association (APA), praktik mindfulness dan istirahat rutin terbukti menurunkan stres. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki atau menulis jurnal bahkan lebih efektif dibanding healing mahal.

Baca Juga:  Hebatnya Negara Qatar, Tuan Rumah Piala Dunia 2022 yang Kaya Raya

Pada akhirnya, healing bukan tentang terlihat bahagia. Healing adalah tentang benar-benar merasa damai.***(IK22/Salma)