Hukum Menggunakan Dana Zakat Untuk Korban Bencana

oleh -
Masyarakat korban bencana gempa bumi Cianjur yang berada di tenda pengungsian (Dok Mutiara/BANDUNGMU)

BANDUNGMU.COM — Perlu dibedakan terlebih dahulu antara penyaluran dana infak dan sedekah dengan dana zakat untuk korban bencana.

Mengenai dana infak dan sedekah yang disalurkan untuk korban bencana, tentu tidak ada persoalan karena tidak ada dalil spesifik yang menentukan orang-orang atau golongan yang berhak menerimanya.

Lalu begaimana dengan dana zakat yang secara spesifik telah ditentukan, yaitu fakir, miskin, amil, mualaf, memerdekakan hamba sahaya, membebaskan orang yang berhutang, pada jalan Allah, dan orang yang sedang dalam perjalanan, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (QS At-Taubah [9]: 60).

Baca Juga:  Beginilah Sejarah Slogan "Hubbul Wathan Minal Iman" Menurut Syafiq Mughni

Ayat di atas tidak secara spesifik menyebutkan korban bencana sebagai salah satu yang berhak menerima dana zakat.

Namun, melihat kondisi yang sedang dialami oleh korban bencana, tidak menutup kemungkinan mereka mendapatkan bagian dari dana zakat dengan menganalogikannya sebagai golongan fakir dan miskin dengan dua pertimbangan.

Pertama, korban bencana berada dalam kondisi sangat membutuhkan, sebagaimana pengertian fakir dan miskin menurut jumhur ulama adalah orang-orang yang dalam kondisi kekurangan dan membutuhkan.

Kedua, orang yang dalam kondisi kekurangan dan membutuhkan ini diperbolehkan untuk meminta-minta, sebagaimana sabda Nabi SAW:

Baca Juga:  Muhammadiyah Manfaatkan Film sebagai Media Dakwah

Diriwayatkan dari Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin Said, keduanya menceritakan dari Hammad bin Zaid. Yahya berkata: Hammad bin Zaid menceritakan pada kami dari Harun bin Riyab, Kinanah bin Nu’aim al-‘Adawiy dari Qobishah bin Muhariq al-Hilaly, ia berkata: Aku membawa beban berat, lalu mendatangi Rasulullah SAW, lalu aku bertanya kepada Nabi SAW tentangnya.

Beliau menjawab: “Tinggallah kamu sampai sedekah datang, lalu kami memberikannya padamu.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Ya Qabishah, sesungguhnya tidak boleh meminta-minta kecuali untuk tiga orang.

Pertama, seseorang yang membawa beban berat, maka halal baginya meminta-minta sampai memperolehnya kemudian menghentikannya.

Kedua, seseorang yang tertimpa bencana yang menghancurkan hartanya, halal baginya meminta-minta sampai mendapat makanan untuk hidup dan tegak kembali.

Baca Juga:  Top! RotiYu Hadir Ramaikan Peresmian Masjid Raya Al-Jabbar

Ketiga, seseorang yang tertimpa kemiskinan sehingga tiga orang dari kaumnya membenarkan bahwa dia tertimpa kemiskinan, maka halal baginya meminta-minta sampai mendapat makanan untuk hidup dan tegak kembali. Adapun meminta-minta di luar itu haram ya Qabishah, makan dari hasilnya pun haram.” (HR Muslim).

Dari keterangan di atas, kiranya sudah dapat dipahami bahwa penyaluran dana zakat untuk korban bencana dibolehkan dengan ketentuan diambilkan dari bagian fakir miskin.

Atau boleh juga dari bagian orang yang berhutang (gharimin) karena dimungkinkan untuk memenuhi kebutuhannya, korban bencana harus berhutang.

Dengan demikian bagian mustahik yang lain tidak terabaikan karena dapat disalurkan secara bersama-sama.***

___

Sumber: muhammadiyah.or.id

EditorL FA

No More Posts Available.

No more pages to load.