Integrasi AIK dengan Ilmu Umum, Kabiro Akademik UMBandung: Ini Mimpi Besar Muhammadiyah

oleh -
Kabiro Akademik UMBandung Ahmad Rifai, S.Sos., M.Ag. (Sumber: Tangkapan layar saluran youtube resmi UMBandung)

BANDUNGMU.COM – Pada perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) terdapat satu mata kuliah khusus yang diajarkan, yaitu Al-Islam dan Kemuhamadiyahan (AIK).

Mata kuliah AIK sendiri menjadi suatu isu di beberapa peguruan tinggi khususnya di PTM sendiri, itulah yang dikatakan Kepala Biro Akamdemik sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah (UMBandung) Ahmad Rifai, S.Sos., M.Ag., beberapa waktu lalu.

”Berkembangnya mata kuliah AIK berawal dari suatu PTM yang mengangkat salah satu pimpinan wakil rektor khusus yang membidangi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan,” kata Rifai.

Hal tersebut, menurut Rifai, menjadi tolok ukur keseriusan bagi Muhammadiyah untuk melanjutkan dakwah persyarikatan.

Setelah beberapa waktu kemudian, konsideran AIK lebih ditegaskan lagi dalam standar satuan mutu perguruan tinggi.

”Hal ini menjadi standar mutu Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Selain itu, hal ini juga menjadi landasan perguruan tinggi Muhammadiyah bahwa AIK itu menjadi bagian terpenting dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi Muhammadiyah,” ujar Rifai.

AIK selanjutnya memperbesar jangkauannya dengan merubah fungsi dari awalnya hanya mengurus ibadah ritual di kampus, berubah ke integrasi-interkoneksi.

”Ini yang menjadi mimpi besar Muhammadiyah mengapa ada Al-islam dan Kemuhammadiyahan,” tutur Rifai yang juga alumnus UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Rifai menjelaskan, mata kuliah yang menjadi sumsum kurikulum PTM tersebut, melakukan integrasi dalam proses pembelajarannya.

Beberapa PTM di Indonesia sudah melakukan integrasi, seperti mata kuliah PPKn yang diselipkan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

”Kemudian ada juga mata kuliah bahasa Inggris yang berbicara Sirah Nabawiyyah di dalam teks bacaannya. Jadi cita-cita besar AIK itu adalah terjadi integrasi-interkoneksi ilmu pengetahuan,” lanjut Rifai.

Problem pembelajaran

Terkait integrasi AIK dan mata kuliah lain yang dilaksanakan di UMBandung, menurut Rifai, mahasiswa pada awalnya kurang memahami.

Hal tersebut menurut Rifai adalah hal yang wajar. Baik dosen maupun mahasiswa, sama-sama masih belajar untuk beradaftasi dengan integrasi-interkoneksi ini karena latar belakang pendidikan mereka yang memang berbeda-beda.

”Dan hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi dosen AIK, yakni bagaimana muatan yang begitu padat dan luas itu dipartisi menjadi ringan serta harus disampaikan kan gitu,” kata Rifai.

AIK di UMBandung agak dibuat berbeda dengan PTM lain yang ada di Indonesia. Rifai menjelaskan, pada AIK 1 membahas keimanan, tauhid, tetapi mulai dihubungkan dengan diskursus ilmu pengetahuan.

Pada ujung pertemuan, ungkap Rifai, akan membahas apa itu Islamic Teknopreneur sesuai dengan visi dan misi yang yang diusung UMBandung.

Lalu pada AIK 2 di UMBandung lebih spesifik berbicara Islamic Teknopreneur yang  menggali nilai-nilai teknologi, entrepreneur, dan ilmu pengetahuan berdasarkan Alquran dan hadis.

Kemudian AIK 3 berbicara mengenai kemuhammadiyahan yang diakhiri dengan pemberdayaan masyarakat sesuai dengan bidang ilmunya masing-masing.

”Sementara untuk kekurangan materi seperti ibadah ataupun tilawah akan diselesaikan di LP-AIK dalam bentuk nol SKS pada seperangkat SK Syahadah. Sambil berjalan kita evaluasi dan terus diperbaiki kualitasnya agar lebih sempurna sehingga integrasi AIK ini bisa sama dengan yang ada di PTM lain di Indonesia, ” pungkas Rifai.

Reporter: Firman Katon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *