Iringi Keburukan dengan Kebaikan

oleh -
kebaikan-tobat

Rafi Tajdidul Haq, Kontributor

BANDUNGMU.COM – Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Swt yang diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna (Ahsani taqwim). Anugerah tersebut harus disyukuri oleh kita, terutama sebagai umat Islam yang menjunjung tinggi al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebab, orang yang pandai bersyukur merupakan sikap hamba Allah yang disayangi (Ibaadi rahman) baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Kesempurnaan penciptaan manusia tersebut menjadikan manusia punya pilihan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Di dalam al-Qur’an disebutkan dengan istilah fuzur dan taqwa, atau bisa disederhanakan dengan istilah kebaikan dan keburukan. Itulah mengapa manusia itu spesial di mata Sang Khalik. Sebab makhluk lain tidak diberikan keistimewaan seperti yang dimiliki manusia.

Sebagai orang yang bertaqwa dan beriman kepada Sang Pencipta, sudah selayaknya kita memilih jalan yang lurus, yaitu jalan yang baik atau dalam bahasa al-Qur’an disebutkan sebagai jalan yang lurus (sirathal mustaqim). Meski begitu, kadangkala kita terjatuh pada kesalahan dan dosa, baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Maka dalam Islam ada konsep taubat sebagai jalan memohon ampunan kepada Allah Swt.

Ketika berbuat salah dan dosa, sesegera mungkin kita harus beristigfar kepada Allah, dengan mengucapkan kalimat istigfar “Astagfirullaahaladzim” . Maksudnya tiada lain yaitu supaya perbuatan buruk dan maksiat yang pernah kita lakukan segera diampuni oleh-Nya. Ketika berbuat kesalahan Nabi Saw memerintahkan kita untuk menyertainya (kesalahan yang diperbuat) dengan segala rupa kebaikan.

Berikut penulis kutip Hadis Nabi berkenaan dengan perintah tersebut :

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.(رواه الترمذي)

Artinya : “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan iringilah kesalahan (kemaksiatan) dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik” (HR.Tirmidzi)

Berdasarkan hadis di atas, kita diperintahkan untuk menutupi kesalahan dengan kebaikan, jangan sampai berprilaku sebaliknya. Bila kita mengamalkan hadis ini, imbalannya akan dihapuskan dosa dan kesalahan yang diperbuat sebelumnya. Menutupi kesalahan dengan kebaikan merupakan salah satu cara agar menjadi hamba yang bertakwa.

Jalan takwa itulah yang akan menghantarkan kita ke surganya Allah Swt, tempat yang penuh keindahan dan kenikmatan yang tidak ada tandingannya di manapun tempat yang ada di muka bumi ini. Maka ketika kita berbuat kesalahan dan dosa, bersegeralah mengingat Allah Swt dengan cara beristigfar dan diiringi dengan kesalehan-kesalehan lainnya seperti salat tepat waktu, berzikir, bersedekah, menunaikan puasa wajib dan Sunnah, berzakat dan berinfak untuk anak yatim piatu.

Semoga kita ditempatkan bersama orang-orang saleh, di tempat yang penuh keindahan bersama para Nabi yang dicintai Allah Swt, terutama bersama Nabi Muhammad Saw. Karena hanya bersama mereka kita akan dikelompokkan sebagai orang-orang yang bertakwa yang berusahan mencari ridha Allah Swt.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *