Kawan, Bila Sungguh-Sungguh Beriman, Wujudkanlah Akhlak Mulia

oleh -
Foto: Blog.febc.org

BANDUNGMU.COM – Kawan, jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan Allah pada kita saat ini. Jangan biarkan keimanan yang kita miliki tergerus oleh maksiat dan lama-lama terkikis dan habis.

Bergeraklah, peliharalah iman dengan amalan kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas. Niscaya, dengan keimanan yang terpatri kuat, maka kita akan menjadi manusia yang senantiasa menebar kebaikan pada sesama.

Dalam sebuah sabdanya, Rasul Saw bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang bila tidak bisa mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri.” (Al-Hadits).

Begitu pentingnya kesungguh-sungguhan dalam beriman, kita harus membuktikan dengan akhlak mulia. Tunjukkan kepedulian pada sesama sehingga semua orang akan selalu mendoakan kebaikan untuk kita. Itulah arti menjadi manusia seutuhanya.

Manusia yang mukmin, muslim, dan juga muhsin. Lantas, kapan kita harus sungguh-sungguh beriman? Secara filosofis, Al-Quran sudah menjawabnya, “Tidakkah cukup waktunya bagi kalian untuk beriman?”

Ini pertanyaan sekaligus jawaban yang sangat lugas. Tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha. Tunjukkan kesungguh-sungguhan dalam beriman segera saat ini juga. Jika ditunda-tunda, kita tidak pernah tahu kapan ajal datang menyapa.

Saat hidup kita begitu bermanfaat bagi orang dan lingkungan sekitar, maka kematian kita akan menjadi kehilangan yang berarti. Sebaliknya, saat hidup kita tidak memberikan nilai apapun untuk manusia dan alam, maka kematian kita hanya kabar sepintas lalu. Tak memberikan efek apapun.

Dan juga, karena kematian adalah misteri yang belum terjawab, hal ghaib yang patut kita imani meski tak tahu kapan ia akan datang, maka persiapkanlah diri kita. Tidak ada yang tahu kapan malaikat Izrail menjalankan tugasnya untuk menjemput kita untuk kembali kepada Sang Pemilik.

Ibarat kita yang diberi kabar oleh orangtua bahwa kita akan segera pulang ke kampung halaman pada waktu yang belum ditentukan. Orang yang cerdas tentu akan bersiap-siap, melakukan antisipasi karena siapa tahu orang tua menjemput secara mendadak. Agar saat tiba-tiba kita dijemput, kita akan tenang dan tidak akan panik menghadapinya.

Begitu juga persiapan hidup. Sebelum ajal datang menjemput, antisipasi harus dilakukan dari sekarang, bukan nanti, nanti, dan nanti. Persiapkan bekal sebanyak mungkin.

Namun ingat, bawalah bekal yang bermanfaat. Bekal untuk kita di akhirat kelak adalah amalan-amalan baik. Jika kita tidak menyiapkan apapun saat ini dengan bekal yang seadanya, jangan pernah salahkan siapa-siapa jika saat dijemput dalam kondisi yang tidak siap. Bekal pun tidak cukup sehingga tidak tahu akan bertahan dengan apa di akhirat kelak.

Islam mengajarkan hidup dengan perencanaan yang baik. Manajemen diri dalam menata waktu, mengisi hidup dengan amal-amal yang baik sesuai skala prioritas. Dalam konsep Islam, tidak ada yang namanya keajaiban yang datang tiba-tiba.

Sesungguhnya yang dianggap keajaiban adalah hubungan sebab-akibat dari rentetan kejadian sebelumnya.Hanya saja, seringkali kita menganggapnya suatu kejadian yang kebetulan. Padahal, dalam pandangan Allah, boleh jadi itu semua bukanlah kebetulan.

Kita tidak bisa berkata, “Nanti saja kalau sudah tua atau sudah mendekati ajal, aku bertobat deh.” Karena itu, hentikan maksiat. Lakukan tobat. Lalu, bergeraklah. Segera berhijrah, menjadi pribadi yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *