Kecamatan Cikadu Cianjur Penghasil Gula Aren (Bagian 1)

oleh -
Gula aren dan pohon aren di Cikadu, Cianjur. /DeskJabar/Kodar Solihat.

BANDUNGMU.COM – Komoditas gula aren dikenal sebagai bahan pemanis alami yang masih di¬pro¬duksi di beberapa daerah di Indonesia. Provinsi Jawa Barat menjadi ikon penghasil komoditas yang satu ini.

Gula aren biasanya diproduksi di kawasan yang terdapat pohon-pohon aren, di mana alamnya masih dalam keadaan lestari. Gula aren diketahui sangat banyak diminati konsumen dunia.

Karena cita rasa khas, gula aren banyak dijadikan aneka bahan produk pangan berkualitas terbaik sehingga termasuk komoditas yang laris. Gula aren dijadikan bahan pemanis untuk kue, minuman, masakan, dll., serta dianggap aman dari risiko diabetes.

Rasa dan aroma gula aren yang manis sangat berbeda dengan manisnya gula kelapa serta gula putih. Gula aren diketahui menjadi penyedap rasa untuk minuman cup kopi susu berbagi rasa dan membuat penasaran untuk konsumen kopi.

Gula aren juga dapat dijual de¬ngan brown sugar/bubuk. Sekarang pun gula aren cair yang dibuat untuk campuran pemanis berbagai minuman dingin sedang tren lagi.

Adalah Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur, yang merupakan salah satu sentra produksi gula aren di Jawa Barat. Sebab, di kecamatan yang alamnya masih asri ini, masih sangat banyak populasi pohon aren.

Masyarakat di perkotaan seperti Bandung biasanya memperoleh pasokan dari para pedagang asal Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Namun, rantai perdagangannya, pasokan gula aren asal Cikadu lebih dikenal asal Naringgul, Cianjur, yang berbatasan dengan Rancabali-Ciwidey.

Utamakan kualitas

Kecamatan Cikadu ditempuh pada perjalanan ke arah Tenggara dari Bandung, lalu melintasi Ciwidey dan Rancabali, kemudian melalui percabangan masuk ke jalur hutan Gunung Sumbul.

Di Kecamatan Cikadu, masih cukup banyak perajin gula aren. Mereka sudah turun-temurun memproduksi gula aren, begitu pula cara produksinya rata-rata masih sama dengan pendahulunya.

Gula-gula aren dari Kecamatan Cikadu masih cukup banyak dibuat dalam bentuk gandu yang menggunakan cetakan batang bambu. Namun, sebagian sudah dicetak dalam bentuk lain dan ber¬bagai ukuran, ada yang berbentuk bulat, ukuran kecil, ataupun besar.

Salah seorang sesepuh produksi gula aren asal Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur, Wahid (69), menyebutkan bahwa gula aren yang diproduksi di Cikadu relatif masih bertahan dengan cara-cara alami. Bahkan, khususnya dalam produksi gula aren, dirinya berlaku tegas dan mengamanatkan kepada generasi muda untuk mempertahankan produksi gula aren secara alami.

Cara alami produksi gula aren yang dilakukan di Cikadu, disebutkan, masih relatif menggunakan campuran ekstrak kulit buah manggis untuk pengerasnya. Dengan campuran itu, selain membuat kekerasan gula aren asal Cikadu terjaga baik, juga me¬miliki manfaat bagi kesegaran kulit karena manfaat ekstrak buah manggis.

“Saya pribadi, lebih baik tetap lancar menjual dalam jumlah terbatas kepada para langganan, namun kualitas terjamin alami. Kami ingin agar produksi gula aren asal Cikadu ini dikenal sebagai produk yang sehat dan dibuat alami sehingga kepercayaan konsumen tetap terjaga,” ujar Wahid.

Disebutkan salah seorang generasi muda perajin gula aren di Cikadu lainnya, Abdul, produksi gula aren memang sampai kini masih sulit digenjot secara cepat. Sebab, produksinya masih sangat bergantung pada populasi pohon-pohon aren yang ada, sedangkan untuk menanam baru waktu produksi pertamanya harus menunggu sepuluh tahun.

Karena permintaan pasar¬nya sangat tinggi dari pasaran, menurut Wahid, senada Abdul, para perajin gula aren di Cikadu relatif jarang memiliki stok. Biasanya, produksi gula aren begitu jadi langsung diambil oleh para bandar, yang memang sampai kini masih menggunakan sistem pemesanan di muka ataupun sistem ijon, untuk memperoleh pasokan gula aren. (bersambung) ***

Penulis: Kodar Solihat, Sumber: Deskjabar.pikiran-rakyat.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *