OpiniSosok

KH Ayat Dimyati: Guru dan Orang Tua Muhammadiyahku (2)

×

KH Ayat Dimyati: Guru dan Orang Tua Muhammadiyahku (2)

Sebarkan artikel ini
KH Ayat Dimyati (Dok muhammadiyah-jabar.id)

Oleh: Ace Somantri, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

BANDUNGMU.COM — Hingga saat ini, mengakui setulus hati menjadi anggota Muhammadiyah dan bangga menjadi aktivisnya di antara tokoh yang menginspirasi adalah sosok KH Ayat Dimyati.

Sebagai bentuk pengakuan orang tua, bukan hanya aktif di persyarikatan melainkan rutin berkunjung ke rumah beliau bersama istri dan kadang-kadang sama anak.

Hanya sayang sejak domisiliku pindah ke wilayah timur Bandung, itu pun berharap dapat bertemu di Mujahidin dan kampus atau tempat di mana beliau berada. Selalu mempertanyakan keadaan keluarga di kala ketemu beliau tak ubahnya orangtua pada anaknya.

Ketika beliau menjadi Ketua PDM Kota Bandung, sangat banyak mentransfer berbagai hal tentang bagaimana menjadi aktivis Muhammadiyah, bentuk upayaku tetap aktif di persyarikatan sempat rutin ke kantor PDM kota Bandung setiap Rabu dalam sepekan.

Pada hari itu berbarengan dengan kumpulnya anggota pleno PDM Kota Bandung sering juga diskusi dengan beberapa aktivis lainnya seperti Pak Haji Muhdiyat yang kadang membahas hal ihwal Lazismu kala itu.

Pada hari itu juga banyak kenal para pimpinan Muhammadiyah Kota Bandung lainnya. Termasuk kala itu di waktu bersamaan diminta untuk menjadi Sekretaris Badan Tamir Masjid di Antapani yang ketuanya Pak Rimawan.

Baca Juga:  Tim PPK Ormawa Hima PAI UM Bandung Sosialisasi Program Desa Cerdas di Nagrog

Pada saat itu bersama ketua kalau tidak salah mengajukan nama masjid yaitu masjid Al-Irfani. Alhamdulillah disetujui hingga hari ini nama tersebut melekat menjadi simbol masjid PDM Kota Bandung.

Setelah menjadi Ketua PDM Kota Bandung, selanjutnya beliau didaulat menjadi Ketua PW Muhamamdiyah Jawa Barat. Tidak lama selang waktu sejak beliau pun pindah kantor ke PWM Jabar dan Mujahidin.

Setelah itu aktivitasku mulai menjelajahi berbagai aktivitas di luar Muhammadiyah. Namun, tetap saja apabila ada hal ihwal kemuhammadiyahan selalu datang pada beliau.

Bermula kemampuan berorganisasi di IMM dari komisariat hingga ke pusat telah membekali diri untuk menguji kompetensi di luar Muhammadiyah. Baik di organisasi sosial maupun profesional.

Di antaranya yaitu sempat menjadi aktivis masjid melalui BKPRMI mulai diamanahi ketua umum tingkat kecamatan hingga sekretaris umum Jawa Barat.

Sementara di dunia profesional, pengalamanku diuji untuk ikut menginisiasi melahirkan Fakulatas Agama Islam Universitas Suryakencana di Cianjur hingga selanjutnya menjadi pimpinan fakultas selama tiga tahun lebih. Itu pun selalu ada komunikasi dan saran dari beliau.

Tidak lama dari Cianjur, selanjutnya dalam prosesi pergantian pimpinan kampus Muhammadiyah Bandung diberikan amanah oleh persyarikatan Muhamammdiyah menjadi Ketua STAI Muhammadiyah Bandung pada akhir 2011.

Baca Juga:  Sejarah Perubahan Nama Muhammad Darwis Jadi Ahmad Dahlan

Pada waktu bersamaan saat itu Ketua PW Muhammadiyah Jawa Barat masih dipegang KH Ayat Dimyati. Beliau pun mendukung penuh optimisme bahwa amal usaha tersebut akan ada kemajuan.

Dengan semangat sebagai kader muda Muhamamdiyah, dalam waktu satu tahun terjadi akselerasi cepat yaitu membangun ruang kuliah dan menambah program studi.

Kala itu selama puluhan tahun terdapat dalam data nyaris tidak ada peningkatan mutu, baik akademik maupun nonakademik. Alhamdulillah atas suport tim work kecil kala itu, dengan penuh semangat, STAI Muhammadiyah mampu membangun kelas dan menambah beberapa program studi keagamaan yang hingga hari ini belum ada penambahan lagi.

Mendirikan UM Bandung

Dalam waktu bersamaan kala itu sebagai ketua sekolah tinggi tidak diduga, panitia pendirian Universitas Muhamamdiyah Bandung yang diketuai Pak Dadang Syarifudin melalui Haji Munawir Rifadhi memintaku untuk membantu pendirian universitas.

Alasannya konon kabarnya kala itu dianggap mampu pasalnya STAI Muhammadiyah Bandung sejak dipegang mampu ditingkatkan. Padahal, itu semua karena suport tim dan khususnya doa KH Ayat Dimyati yang selalu menjadi tempat meminta saran.

Dengan banyak keterbatasan, masih ingat dalam ingatan ketika itu, walaupun STAI Muhamamdiyah masih dalam proses merangkak jalan dan naik, ada tantangan baru untuk berjibaku mendirikan univeristas.

Baca Juga:  Muhammadiyah Sukajadi Kokohkan Sinergitas di Musypimcab ke-1

Pertemuan pertama kalau tidak salah, selain Pak Rifadhi, Pak Dadang, Pak Tjutju, Pak Istar, Pak Suhada, juga ada sosok yang baru kenal di Muhammadiyah yaitu arsitek senior Pak Amin (almarhum).

Dalam diskusi pertama membahas mulai dari mana penyiapan pendirian. Pengalamanku mendirikan fakultas dan program studi sebelumnya yang masih belum lama sedikit banyak memberikan masukan dan saran pada para orang tua kala itu.

Setelah pertemuan itu, berlanjut maraton melakukan pertemuan rutin hingga terbentuk tim perumus borang 12 program studi. Tantangan itu cukup berat karena saat itu masih dalam progres peningkatan STAI Muhammadiyah Bandung yang bercita-cita ingin menaikkan grade menjadi Institut Agama Islam Muhammadiyah Bandung.

Akhirnya progres itu ditunda karena fokus pendirian univeraitas yang dilakukan di kantor ruang rapat PW Muhammadiyah Jabar selama dua bulan lebih.

Kegiatan pun tersebut dialihkan ke kampus STAI Muhammadiyah Bandung. Peralihan tersebut tidak banyak diketahui banyak orang, termasuk Pak Ketua PW Muhamamdiyah Jabar.

Alasan dipindah karena saat itu selain sebagai penanggung jawab penyusunan dokumen akademik pendirian, posisi masih memegang amanah sebagai Ketua Sekolah Tinggi Muhammadiyah Bandung. Oleh karena itu, untuk memudahkan koordinasi maka dialihkan pusat kegiatanya.***