BANDUNGMU.COM – Setiap zaman membuka pintu kesempatan untuk berbuat baik, mengadang keburukan, dan menabur benih-benih harapan. Juga memayungi cita-cita untuk maju menjadi manusia atau masyarakat yang bermakna.
Kesempatan baik itu yang terbuka pintunya ini bisa dipilih untuk dimasuki atau tidak dimasuki, dengan risiko tertutup kembali. Artinya, manusia dan masyarakat bisa memanfaatkan momentum berbuat baik ini atau mengabaikan momentumn ini dengan risiko akan ditinggalkan oleh momentum yang baik dan tepat ini.
Semua bergantung pada pilihan manusia dan masyarakat itu sendiri. Sebab ibarat menanam sesuatu atau tidak menanam sesuatu yang menyebabkan seseorang atau masyarakat bisa panen atau gagal panen adalah karena pilihannya sendiri.
Misalnya ada sebuah ladang, dia akan menghasilkan panen manakala digarap dengan baik, ditanami bibit yang baik, ditanam di musim yang tepat, diberi pupuk sesuai dengan kebutuhan, dan konsisten tekun menjalani proses yang wajar sehingga dia atau masyarakat memenuhi syarat untuk panen.
Demikian juga yang terjadi ketika zaman teknologi ini menjadi panglima kehidupan serta teknologi informasi menjadi pasukan penakluk masa depan. Media sosial menjadi senjata andalan untuk mengubah keadaan.
Salah satu media sosial yang paling banyak penggunanya di Indonesia adalah whatsapp (WA). Pada 2021 tercatat penguna WA di Indonesia sebanyak 84,6 juta. Dan hampir semua pemakai HP di Indonesia juga menggunakan aplikasi WA.
Umat Islam dan warga Muhammadiyah pun diduga kuat gemar menggunakan WA ini ketika berkomunikasi. Mengapa? Karena praktis dapat menjadi sarana untuk mentransfer kata, gambar, video, file buku PDF, dan mengirim suara percakapan.
Fasilitas yang disediakan WA seperti ruang untuk menunjukkan identitas diri, membuat grup, membuat jaringan pribadi, share gambar atau foto atau video, juga menjadi sarana berbincang untuk jarak jauh. Kemampuan WA melipatgandakan pesan dan menyebarluasakan pesan cukup mengagumkan.
Nah dengan melimpahnya fasilitas yang disediakan WA sesungguhnya dalam perspektif dakwah dan tablig berkemajuan bisa menjadi ladang dakwah dan ladang amal yang tidak terhingga luasnya.
Apalagi pelaku atau aktor dakwah dan aktor penyebar amal adalah pemegang telepon cerdas yang terpasang WA di dalamnya. Ditambah setiap detik bisa tumbuh himpunan atau grup yang merupakan jaringan pertemanan, jaringan kolega, dan jaringan penggerak dakwah.
Itu idealnya. Dalam kenyataannya potensi dakwah warga Muhammadiyah pengguna WA belum teraktualisasi dengan baik. Belum menghasilkan persan-pesan yang baik, belum menghasilkan motivasi untuk beretika atau berakhlak sosial dengan baik, belum banyak yang memfungsikan WA untuk berbagi pengalaman beragama yang indah dan inspiratif.
Belum banyak warga Muhammadiyah yang menggunakan WA untuk sama-sama mengaji saling berbagi ilmu dan kesadaran untuk mendewasakan dirinya sebagai makhluk beragama, makhluk sosial, dan makhluk budaya.
Persaudaraan dan suasana damai dalam pergaulan sosial di luar WA sebenarnya bisa diperkuat. Caranya dengan menabur amal baik berupa pesan-pesan yang positif dan berasal dari pikiran positif, hati bening, dan cita-cita luhur kalimatus sawa untuk membangun kekuatan wacana qaulan ma’rufa sehingga untuk sampai pada memperbaiki kehidupan mudah dilakukan.
Yang terjadi justru banyak pengguna WA yang cenderung memanfaatkan WA untuk media gibah, berbagi hoaks, menyebarkan hawa panas pergaulan, dan semua itu dilakukan nyaris tanpa akhlak berkomunikasi, yakni tabayun atau salin klarifikasi dan saling konfirmasi.
Ada di antara kita yang gemar memposting atau meneruskan sesuatu tanpa merasa perlu bertanggung jawab, tidak mengikuti percakapan grup, dan tidak menjawab saat dikonfirmasi.
Akibatnya, dunia WA sering menjadi dunia yang gaduh, memabukkan, pengap, dan berasap sangit, mengandung hawa permusuhan, dan pecah belah.
WA bukanlah atau belumlah menjadi dunia yang tenang, harum, jernih, menyenangkan dan menggembirakan, merajut ukhuwah dan menyatupadukan umat dan bangsa. Tentu kecenderungan negatif ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.***
__________________________
Sumber: Suara Muhammadiyah edisi 11 tahun 2022
Editor: Feri A









