UMBandung
Opini

Membangun Kepekaan Sosial Melalui Tradisi Kurban Idul Adha

×

Membangun Kepekaan Sosial Melalui Tradisi Kurban Idul Adha

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ace Somantri*

BANDUNGMU.COM — Di antara bulan-bulan yang ada, selalu terdapat hari-hari istimewa bagi umat manusia, terutama bagi umat muslim. Salah satunya adalah bulan Zulhijah. Pada bulan ini, terdapat peristiwa yang sangat istimewa, yaitu Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban.

Syariat ini telah berjalan selama ribuan tahun, tercatat dalam sejarah Islam sejak masa Nabi Ibrahim AS, sesaat setelah peristiwa yang mengguncang jiwa dan raganya. Peristiwa tersebut adalah perintah dari Allah Ta’ala untuk menyembelih anak semata wayangnya.

Meskipun hal itu sangat berat bagi hati dan pikirannya, keimanan Nabi Ibrahim tidak goyah. Terlebih lagi, anak tersebut diperoleh dengan susah payah dan penuh perjuangan yang melelahkan. Sikap Nabi Ibrahim ini menunjukkan ketaatan dan keteguhan imannya kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT, yang teruji dan terbukti sepanjang sejarah.

Idul Adha merupakan istilah yang populer di kalangan umat muslim sejak syariat ini disempurnakan oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW. Dalam praktiknya, Idul Adha adalah hari raya umat muslim yang sangat erat kaitannya dengan ibadah ritual yang penuh dengan nilai-nilai monumental yang dilaksanakan di tanah suci Makkah Al-Mukarramah.

Perayaan ini tidak kalah meriah dibandingkan Idul Fitri. Bahkan, di kalangan masyarakat muslim di jazirah Arab, penyambutan Idul Adha lebih antusias dan meriah. Terutama bagi jamaah haji dari seluruh penjuru dunia yang menunaikan rukun Islam kelima, yang menjadi kewajiban bagi umat muslim yang memiliki kemampuan secara materi ataupun mental spiritual.

Kemeriahan perayaan Idul Adha di tanah suci Makkah telah berlangsung selama berabad-abad, begitu pula bagi umat muslim yang berada di luar tanah suci. Di Indonesia, misalnya, umat muslim bersahutan mengumandangkan takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil dengan syahdu dan khusyuk di berbagai masjid dan musala di perkampungan.

Ada hal menarik yang patut dicermati, yaitu pada hari Idul Adha bukan hanya melaksanakan ibadah salat Id, tetapi juga ada prosesi penyembelihan hewan kurban setelahnya. Hal ini menambah kemeriahan dan kebahagiaan tersendiri karena momentum tersebut digunakan untuk berbagi keceriaan dengan menikmati santap daging kurban secara bersama-sama.

Baca Juga:  Berbagi Kebahagiaan, MPKS PCM Panawuan Bersama Lazismu Santuni Puluhan Anak Yatim

Momentum Idul Adha diharapkan tidak dimaknai secara pragmatis yang berlebihan. Hal ini sangat penting agar makna syariat dan ibadah Idul Adha tidak rusak. Nilai-nilai ketauhidan yang seharusnya menyertai pelaksanaannya secara tertib dan khusyuk bisa hilang jika niat dan proses ibadahnya rusak karena orientasi yang salah.

Ibadah ini menjadi retak dan pecah jika dilakukan hanya demi memperoleh daging, tulang, dan kulit hewan kurban semata. Padahal, makanan-makanan tersebut adalah hadiah dari konsekuensi ibadah umat Islam yang ikhlas karena Allah Ta’ala yang telah mensyariatkan dalam ajaran-Nya.

Refleksi Hari Idul Adha mengandung nilai-nilai ketauhidan, kesyariahan ta’abudi, dan nilai akhlak yang menjelma dalam sikap, perilaku, dan perbuatan manusia di muka bumi. Melihat kembali kisah awal kenabian Ismail AS, sosok putra Nabi Ibrahim AS, sejak usia dini hingga remaja, Ismail menunjukkan perilaku yang patuh dan taat pada kaidah-kaidah yang berlaku.

Ia sangat tunduk dan patuh pada ajaran yang dibawa oleh ayahnya sebagai Nabi Allah Ta’ala. Ketundukan Ismail tidak diragukan, baik kepada ajaran-ajaran yang disebarkan ayahnya maupun sikap hormatnya sebagai anak kepada kedua orang tuanya. Kepatuhan dan cinta Ismail kepada ayahnya begitu membanggakan, melampaui anak-anak seusianya.

Hal ini menunjukkan bahwa Ismail adalah manusia pilihan yang kelak setelah dewasa menjadi pembawa risalah ajaran Ilahi, dan menjadi salah satu dari 25 nabi yang wajib diketahui oleh umat Islam sebagai teladan. Seperti yang sering disampaikan oleh ulama, ustaz, dan kiai dalam berbagai ajaran tarikh Islam, sosok Ismail AS dan ayahnya Ibrahim AS telah memberikan contoh nyata tentang kepatuhan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Meskipun perintah Allah Ta’ala meminta Ibrahim AS untuk menyembelih anak kesayangannya, dia tidak ragu, dan anaknya pun tidak membangkang. Mereka selalu bersedia mengikuti perintah Allah Ta’ala tanpa banyak tanya.

Baca Juga:  Pendidikan Kejuruan, Benarkah Menjanjikan Kemudahan Kerja?

Sosok ayah dan anak yang taat kepada Allah Ta’ala ini telah menjadi simbol keluarga yang teladan bagi umat manusia di muka bumi dalam hal kuatnya akidah ketauhidan. Dari sikap tersebut, terjadi peristiwa penyembelihan Ismail AS sebagai kurban. Pada saat itu pula, mukjizat Allah Ta’ala diberikan kepada mereka dengan menggantikan Ismail AS yang hendak disembelih oleh ayahnya dengan seekor kambing jantan. Peristiwa ini kemudian dijadikan syariat ibadah dalam Islam sebagai bentuk syukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan nikmat yang tak terhitung jumlahnya kepada manusia di mana pun berada tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agama.

Konsekuensi bersyukur kepada-Nya tidak hanya tercermin dalam ibadah vertikal seperti menunaikan shalat Id, tetapi juga melalui kesalehan sosial dengan menyembelih hewan kurban untuk berbagi kebahagiaan. Konsumsi daging hewan kurban secara bersama-sama, terutama bagi mereka yang jarang mendapatkan makanan bernutrisi tinggi, adalah bagian penting dari syariat qurban.

Syariat kurban tidak hanya merupakan ibadah vertikal dan horizontal, tetapi juga merupakan tradisi amal sholeh umat Islam yang ditunjukkan kepada seluruh umat manusia, termasuk yang belum beriman kepada Islam. Oleh karena itu, daging hewan kurban tidak memiliki penerima khusus; baik umat muslim maupun non muslim berhak menikmati hewan kurban yang telah dibagikan.

Ibadah kurban telah menjadi syariat Islam selama berabad-abad yang memiliki dimensi ajaran tauhid dan berdampak pada kepekaan sosial. Hal ini sering kali mempengaruhi sikap dan perilaku umat non Islam. Sebagai contoh, ada cerita menarik dari sahabat dekat tentang teman-teman pengacara beragama Kristen Katolik yang setiap hari raya Idul Adha memberikan hewan untuk dikurbankan, baik kambing, domba, maupun sapi.

Mereka terlihat senang dan bahagia meskipun ibadah kurban bukan ajaran agama mereka. Ini menunjukkan bahwa syariat kurban memiliki nilai-nilai kebaikan yang menjadi tradisi amal saleh yang praktis, mencerminkan kesalehan sosial.

Artinya, ibadah Hari Raya Idul Adha telah mentransformasi budaya umat manusia mengenai pentingnya tunduk dan taat kepada ajaran agama, berbagi kebahagiaan, menjaga silaturahmi, dan memperkuat ikatan ukhuwah. Ini khususnya terjadi di antara umat manusia, dengan umat muslim memainkan peran utama dalam memperkuat bentuk amal saleh ini.

Baca Juga:  Lima Karakteristik Utama Islam Berkemajuan

Idul Adha selama ini telah mentransformasi ajaran agama yang bersifat khusus menjadi tradisi amal kebaikan yang bersifat universal dalam masyarakat. Selain meningkatkan nilai-nilai ketauhidan dan sikap syukur, perayaan ini juga membentuk sikap dan perilaku budaya yang dapat menjadi teladan bagi selain umat Islam.

Hal ini dibuktikan dengan berbagi daging hewan kurban kepada sesama. Transformasi dari ibadah ta’abbudi menjadi tradisi ini bukanlah perkara mudah karena kegiatan ibadah tersebut merupakan ajaran murni dari Islam, salah satu agama di dunia.

Biasanya, umat selain Islam cenderung menghindari dan kadang-kadang membenci praktik-praktik ibadah tertentu. Namun, ibadah kurban justru memberikan banyak manfaat tanpa memandang agama yang dianut. Siapa pun mereka, saat pembagian hewan kurban, tidak ada batasan syari yang hanya menerima khusus umat muslim.

Setiap orang berhak menerimanya. Jika ada prioritas bagi orang atau kelompok tertentu yang layak dan pantas, itu adalah sikap ijtihadi yang baik.

Diharapkan, Hari Raya Kurban dari tahun ke tahun terus bertransformasi menjadi tradisi amal kebaikan yang dapat terinternalisasi menjadi karakter umat dan dimanfaatkan oleh semua umat manusia di muka bumi tanpa kecuali. Pemaknaan kurban tidak selalu dimaknai secara tekstual semata. Namun, ada pemaknaan kontekstual yang dapat dipahami oleh umat Islam secara kafah mengenai maksud dan tujuan syariat ibadah kurban, termasuk memahami makna di balik kehendak Ilahi Rabbi.

Berkurban, salah satu syariat ta’abbudi, memiliki sejarah heroik dan melegenda yang telah ada sebelum kenabian Muhammad SAW. Ajaran ini menanamkan sikap berani melepaskan sesuatu yang dicintai demi ketauhidan kepada Allah SWT dan untuk kebaikan alam semesta. Wallahu’alam.

*Dosen UM Bandung dan Wakil Ketua PWM Jabar

PMB UM Bandung