Oleh: Ace Somantri
BANDUNGMU.COM — Dinamika sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia sejak awal peradaban hingga masa depan yang akan datang.
Sebagai makhluk sosial, manusia selalu terlibat dalam dinamika ini karena merupakan hukum alam yang tak terhindarkan.
Dalam sejarah peradaban, manusia selalu menjadi aktor utama yang menentukan jalannya kehidupan, baik dalam membangun peradaban maupun kebudayaan.
Dalam ajaran Islam, perjalanan sejarah juga dikenal dengan istilah “tarikh Islam” yang menjelaskan awal mula manusia, Nabi Adam AS dan Siti Hawa, sebagai pencetus peradaban manusia.
Hingga kini, umat manusia sebagai penerus Nabi terakhir, Muhammad SAW, mengemban tanggung jawab dalam melanjutkan perjalanan peradaban.
Dalam perspektif tarikh, setiap Nabi yang datang pada masanya telah menunjukkan nilai-nilai kepemimpinan. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan merupakan bagian esensial dari kehidupan manusia karena setiap individu pada dasarnya adalah pemimpin.
Setiap orang yang lahir di dunia ini memiliki peran dan tanggung jawab sebagai pemimpin. Membicarakan pemimpin dan kepemimpinan menjadi hal yang menarik dan tak pernah berhenti, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Saat ini Indonesia sedang mengalami periode kepemimpinan yang menarik perhatian. Berbagai narasi tentang pemimpin-pemimpin potensial diperbincangkan dengan semangat, baik di media mainstream, media online, maupun media sosial yang cepat dalam mempromosikan para kandidat tersebut.
Sebuah wacana yang viral di media sosial adalah perbandingan antara “leadership” (kepemimpinan) dan “popularitas”.
Hal ini terutama setelah pernyataan politisi Fahri Hamzah bahwa pemimpin di masa sekarang dipilih berdasarkan popularitas, bukan lagi berdasarkan kepemimpinan yang sejati.
Artinya, siapa pun dapat menjadi calon pemimpin jika memiliki popularitas tinggi, terlepas dari kemampuan dan kepemimpinannya yang sebenarnya. Hal ini dianggap sebagai rekayasa dari pihak-pihak tertentu, termasuk para surveyor.
Sayangnya, pemimpin yang dipilih berdasarkan popularitas sering kali tidak memiliki kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya. Mereka mungkin terkenal sebagai artis, penyanyi, pelawak, atau selebriti lainnya yang populer di masyarakat.
Karakteristik kepribadian mereka cenderung pragmatis dan hedonis karena fokus mereka pada dunia hiburan yang berorientasi uang dan popularitas. Mereka mungkin lebih tertarik pada keuntungan pribadi daripada membangun dan memajukan bangsa.
Kepemimpinan yang sejati bukan hanya tentang popularitas semata. Kepemimpinan yang berkualitas memerlukan dedikasi, loyalitas, pengetahuan, dan pengalaman panjang dalam mengelola organisasi sosial-politik.
Seorang pemimpin visioner harus mampu merancang dan memimpin bangsa dengan mengutamakan kepentingan rakyat dan masa depan negara.
Visi dan misi kepemimpinan harus bertumpu pada pembangunan yang berkesinambungan di berbagai aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, budaya, pertahanan, dan keamanan.
Berpindah dari popularitas menjadi kualitas kepemimpinan sejati adalah tantangan bagi para pejuang bangsa dan negara yang memiliki dedikasi dan keberpihakan pada rakyat.
Mereka harus mampu menghadapi gempuran tradisi kepemimpinan instan dan karbitan yang cenderung hanya mencari popularitas dan keuntungan pribadi.
Perjuangan panjang dalam berbagai entitas sosial-politik menjadi modal untuk membuktikan kemampuan kepemimpinan yang sejati.
Pemimpin yang diinginkan harus memiliki visi, misi, dan narasi kepemimpinan yang mampu membawa bangsa ke masa depan yang lebih baik, bukan hanya dalam skala nasional, tetapi juga internasional.
Pemilihan pemimpin negara dan bangsa haruslah didasarkan pada integritas moral, pengetahuan, dan pengalaman yang relevan.
Pemimpin yang berkualitas akan mementingkan kesejahteraan rakyat dan mengutamakan keadilan.
Oleh karena itu, masyarakat harus bijak dalam memilih dan memilah calon pemimpin, bukan hanya terpengaruh oleh popularitas semata, tetapi juga melihat kemampuan dan visi kepemimpinan yang jelas untuk memajukan bangsa dan negara.
Semoga Allah memberikan petunjuk yang terbaik. Amin.***










