PMB UMbandung
News

Pesantren Al-Ittifaq di Bandung Selatan Jadi Percontohan Nasional Digitalisasi Pertanian

×

Pesantren Al-Ittifaq di Bandung Selatan Jadi Percontohan Nasional Digitalisasi Pertanian

Sebarkan artikel ini
Foto: Istimewa
PMB UMBandung

BANDUNGMU.COM, Bandung – Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dijadikan percontohan nasional dalam pengelolaan digitalisasi pertanian.

Korporatisasi pertanian digital dalam mendukung rantai ekosistem halal value chain berbasis koperasi pesantren ini diresmikan langsung oleh Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin.

“Kita ingin jadikan permodelan ini pilot project bagi seluruh pesantren-pesantren di Indonesia,” ujar Wapres dikutip dari laman resmi Pemprov Jabar, Jumat (25/03/2022).

Pilot project pengembangan ekosistem rantai nilai halal di Ponpes Al-Ittifaq ini antara lain dilakukan melalui Integrated Farming with Technology and Information (Infratani), packing house, dan platform virtual market Alifmart yang merupakan upaya mendorong ketahanan pangan berbasis kemandirian ekonomi  pondok pesantren.

Baca Juga:  Inilah 7 Metode Komposter Olah Sampah Organik di Rumah

Wapres menuturkan, dalam penerapan digitalisasinya Ponpes Al-Ittifaq sudah mengadopsi teknologi di berbagai negara sehingga produknya berstandard internasional. “Di antaranya teknologi negara Belanda dan Jepang sehingga produknya pun berstandar internasional,” katanya.

Al-Ittifaq juga akan dijadikan pusat pelatihan digitalisasi pertanian bagi pesantren lainnya. Menurut Wapres, saat ini pesantren tak hanya jadi pusat pendidikan agama namun juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Saya bersyukur Kopontren Al-Ittifaq saat ini mampu memberdayakan 270 orang petani, saya harap jumlah petani yang tergabung dalam korporasi ini semakin bertambah,” harap Wapres.

Jadi pionir

Sebelumnya, Ponpes Al-Ittifaq juga menjadi pionir dalam program kemandirian ekonomi pesantren yang digagas Gubernur Jabar Ridwan Kamil yaitu One Pesantren One Product (OPOP).

Baca Juga:  I rischi e le opportunità delle scommesse e dei giochi online in Italia: uno sguardo approfondito

Gubernur mengatakan, selama tiga tahun program OPOP ini berjalan, sudah ada 3.000 pesantren di Jabar yang kini memiliki bisnis sendiri. Bahkan 17 persennya sudah berbasis digital.

“Selama tiga tahun arahan Pak Wapres sudah kami laksanakan sehingga pesantren-pesantren yang punya bisnis sudah lebih dari 3 ribu, 17 persennya sudah digital dengan Internet of Things (IoT) termasuk yang terbesar di Al-Ittifaq,” ujar Ridwan Kamil.

Ia mengatakan, pemberdayaan ekonomi pesantren tak bisa dipandang sebelah mata. Al-Ittifaq yang notabene bukan korporasi besar mampu membuktikannya hingga sukses bertaraf internasional.

“Jangan anggap remeh ekonomi pesantren, Al-Ittifaq ini sudah kelas dunia, kerja samanya sudah dengan Jepang, Belanda, dan ini bukanlah korporasi besar,” katanya.

Baca Juga:  Begini Strategi Pemerintah Kota Bandung Bangkitkan Sektor Ekonomi

Untuk Ponpes lainnya di Jabar, Kang Emil berharap bisa bekerja sama dengan Al-Ittifaq dalam memasarkan produk-produk pesantren dengan pola satu pintu. Selanjutnya, Al-Ittifaq yang sudah punya pengalaman akan bernegosiasi dengan pasar.

“Untuk Ponpes yang kecil-kecil nanti dimentori dan difasilitasi penjualannya via Al-Ittifaq karena kalau dari pesantren langsung ke pasar banyak dinamika yang akhirnya merugikan, jadi mending satu pintu Al-Ittifaq yang nanti akan bernegosiasi dengan pasar,” tuturnya.

“Ke depannya seluruh pesantren diharapkan punya model bisnis seperti Al-Ittifaq,” kata Kang Emil mengakhiri.***

PMB UMBandung