PMB UMbandung
News

PWM Jabar dan UM Bandung Perkuat Pendidikan Ulama Melalui Gerakan Wakaf

×

PWM Jabar dan UM Bandung Perkuat Pendidikan Ulama Melalui Gerakan Wakaf

Sebarkan artikel ini
PMB UMBandung

BANDUNGMU.COM, Bandung — Komitmen memperkuat kaderisasi ulama di lingkungan Muhammadiyah kembali mendapat dukungan melalui gerakan wakaf.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat bersama Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar serah terima wakaf untuk mendukung Pengembangan Pendidikan Ulama Muhammadiyah Jawa Barat (PUPM/PUTM) pada Kamis (13/8/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung di lantai satu Gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kota Bandung.

Wakaf ini diarahkan untuk memperkuat fondasi pendidikan dan kaderisasi ulama Muhammadiyah di Jawa Barat.

Mudir Pendidikan Ulama Muhammadiyah Jawa Barat Cecep Taufikurohman mengungkapkan, gerakan wakaf tersebut berawal dari kegelisahan almarhum Ahmad Yunus selaku muwakif pada masa pandemi Covid-19 pada 2020.

Menurut Cecep, almarhum melihat Muhammadiyah memiliki kemampuan besar dalam mencetak tenaga profesional, mulai dari insinyur hingga dokter.

Namun, di sisi lain, kebutuhan terhadap kader kepemimpinan ulama masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.

“Almarhum menyoroti betapa mudahnya Muhammadiyah mencetak ribuan insinyur dan dokter setiap tahun, tetapi masih kekurangan kader kepemimpinan ulama,” ujar Cecep saat menceritakan latar belakang amanah wakaf tersebut.

Baca Juga:  Top! Sebanyak 50 Cabang Muhammadiyah se-DIY Siap Sukseskan Muhammadiyah Jogja Expo #3

Keprihatinan itu kemudian diwujudkan dalam bentuk ikhtiar wakaf. Sebelum wafat, almarhum telah menyiapkan sebuah map yang berisi rencana akta ikrar wakaf sebidang tanah.

Dalam perkembangannya, berdasarkan kesepakatan keluarga, aset tanah tersebut dialihkan menjadi wakaf tunai.

Dana hasil penjualan tanah kini dikelola melalui rekening khusus Majelis Wakaf untuk selanjutnya digunakan membeli lahan baru yang dinilai lebih strategis bagi pengembangan pendidikan dan kaderisasi ulama.

“Dana hasil penjualan tanah tersebut kini dikelola sebagai wakaf tunai di rekening khusus Majelis Wakaf untuk dibelikan lahan baru yang lebih strategis guna mendukung kaderisasi ulama,” kata Cecep.

Menunaikan Amanah yang Ditinggalkan

Mewakili keluarga besar almarhum, Isni Supriati menyampaikan rasa lega sekaligus haru karena amanah yang ditinggalkan suaminya dapat ditunaikan.

Ia mengingat kembali pesan almarhum beberapa hari sebelum menjalani perawatan di rumah sakit.

Pesan tersebut terus disampaikan agar rencana wakaf yang telah disiapkan tidak sampai terlupakan.

Baca Juga:  UM Bandung Perkuat Silaturahmi Pendidikan dengan Sekolah dan MGBK Riau

“Tiga hari sebelum masuk rumah sakit, almarhum berulang kali mengingatkan agar map titipan wakaf ini tidak dilupakan karena sangat penting bagi beliau,” ungkap Isni.

Bagi keluarga, penyerahan wakaf tersebut bukan sekadar proses administratif.

Lebih dari itu, wakaf menjadi bentuk keberlanjutan dari cita-cita almarhum untuk ikut memperkuat pendidikan ulama Muhammadiyah.

Sementara itu, perwakilan Majelis Wakaf dan Kehartabendaan PWM Jawa Barat Mohammad Ramdan Widi Irfan mengapresiasi kepercayaan keluarga wakif sekaligus menegaskan pentingnya tata kelola wakaf yang transparan dan sesuai regulasi.

“Kepercayaan besar dari pihak wakif ini menjadi amanah bagi kami untuk terus mengoperasikan program wakaf strategis, baik di bidang pendidikan maupun dana abadi,” jelasnya.

Wakaf untuk Menjawab Tantangan Zaman

Dari perspektif perguruan tinggi, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menilai program kaderisasi ulama memiliki posisi strategis di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman yang semakin kompleks.

Menurutnya, umat membutuhkan ulama yang tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang kuat.

Baca Juga:  Ketua Persis Apresiasi Muhammadiyah Jawa Barat Dalam Upaya Menguatkan Gerakan Dakwah

Namun, mampu membaca persoalan kontemporer dan memberikan jawaban yang relevan.

“Tantangan zaman yang dihadapi umat saat ini memerlukan kehadiran ulama yang mencerahkan serta mampu merespons perkembangan masa kini berdasarkan prinsip Al-Islam dan Kemuhammadiyahan,” tutur Herry.

Karena itu, penguatan pendidikan ulama perlu ditempatkan sebagai investasi jangka panjang.

Wakaf menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan proses kaderisasi dapat berjalan secara berkelanjutan dan memiliki basis pembiayaan yang kuat.

Acara tersebut ditutup dengan apresiasi dari Ketua PWM Jawa Barat Ahmad Dahlan terhadap komitmen keluarga almarhum dalam melanjutkan cita-cita wakaf tersebut.

“Momen ini sangat mengharukan dan mencatatkan sejarah baru sebagai salah satu pencapaian klaster wakaf tunai terbesar di Jawa Barat,” imbuhnya.

Wakaf tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai penyerahan aset.

Namun, berkembang menjadi fondasi bagi lahirnya kader ulama Muhammadiyah yang berilmu, mencerahkan, dan mampu menjawab tantangan masyarakat di masa depan. (FK)

PMB UMBandung