BANDUNGMU.COM, Bandung — Kekayaan hayati Indonesia menyimpan peluang besar yang belum sepenuhnya tergarap.
Di balik tanaman yang selama ini dianggap biasa atau bahkan mulai terlupakan, terdapat potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat, pangan fungsional, kosmetik, produk perawatan diri, hingga bahan sanitasi alami.
Potensi tersebut menjadi perhatian dalam Kuliah Umum dan Diskusi Kolaborasi Riset Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bertajuk “Natural-Based Innovation: Opportunities for Pharmaceutical, Functional Food, Cosmetics and Personal Care Products Research and Development” yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan, UM Bandung, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan yang diikuti dosen dan mahasiswa UM Bandung itu menghadirkan akademisi Universiti Putra Malaysia (UPM) Yaya Rukayadi.
Forum tersebut tidak hanya membahas pemanfaatan bahan alam.
Namun, mendorong cara pandang baru dalam mengubah kekayaan lokal menjadi sumber inovasi melalui riset ilmiah dan kolaborasi lintas institusi.
Membuka Ruang Kolaborasi Riset
Wakil Rektor III UM Bandung Ahmad Diponegoro mengatakan, kehadiran akademisi dengan pengalaman penelitian internasional dapat memperluas wawasan sivitas akademika sekaligus membuka peluang kerja sama baru.
“Apa yang diberikan oleh Profesor Yaya yang sudah berpengalaman di mancanegara dapat menjadi inspirasi kita untuk kolaborasi riset, kolaborasi penelitian, dan pengabdian,” kata Ahmad.
Ia berharap mahasiswa tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan.
Namun, mampu melihat berbagai persoalan di lingkungan sekitar sebagai peluang untuk dikembangkan menjadi objek penelitian.
“Kepada para mahasiswa juga diharapkan mendapatkan wawasan yang luas mengenai ilmu pengetahuan yang beliau tekuni,” ujarnya.
Menurut Ahmad, kuliah umum semestinya tidak berhenti pada proses transfer pengetahuan.
Gagasan yang muncul dari forum tersebut perlu diterjemahkan menjadi kerja nyata melalui penelitian bersama maupun program pengabdian kepada masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini ada diskusi yang sangat baik untuk kita manfaatkan,” tuturnya.
Ahmad kemudian secara resmi membuka kegiatan Guest Lecture & Discussion on Research Collaboration tersebut.
Tanaman Terlupakan, Potensi Besar
Dalam paparannya, Yaya menjelaskan bahwa pemanfaatan bahan alam memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar pengembangan obat.
Bahan alami dapat diteliti untuk menghasilkan pangan fungsional, kosmetik, produk personal care, bahan sanitasi, hingga pengawet alami.
Salah satu konsep yang menarik perhatian adalah neglected plants, yakni tanaman yang relatif kurang mendapat perhatian dalam penelitian meskipun berpotensi memiliki kandungan nutrisi maupun aktivitas biologis yang bernilai.
Indonesia, menurut Yaya, memiliki kekayaan tanaman dan pangan lokal yang sangat potensial untuk dikembangkan melalui pendekatan ilmiah.
Sejumlah bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti kenikir, sawo, oncom, dage, buah buni, serta tanaman yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Sunda, dapat menjadi objek penelitian lebih lanjut.
Tanaman tersebut tidak semestinya hanya dipandang sebagai bagian dari tradisi atau konsumsi sehari-hari.
Dengan riset yang tepat, berbagai komoditas lokal itu berpeluang dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) menjadi salah satu contoh yang dibahas.
Tanaman yang telah lama digunakan masyarakat tersebut memiliki sejumlah komponen aktif, di antaranya kurkuminoid dan xanthorrhizol, yang terus menjadi objek penelitian.
Contoh lainnya adalah daun salam (Syzygium polyanthum). Selain populer sebagai bumbu masakan, tanaman ini berpotensi diteliti lebih lanjut terkait aktivitas antimikroba serta kemungkinan pemanfaatannya sebagai food grade sanitizer dan natural food preservative.
Tidak Cukup Berdasarkan Pengalaman
Meski memiliki potensi besar, Yaya menekankan bahwa pengembangan bahan alam tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman empiris atau popularitas suatu tanaman.
Setiap potensi perlu dibuktikan melalui penelitian yang sistematis, mulai dari identifikasi kandungan, pengujian aktivitas biologis, hingga kajian keamanan.
Langkah tersebut penting untuk memastikan produk yang dihasilkan memiliki dasar ilmiah dan memenuhi standar yang diperlukan.
Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa kearifan lokal dan sains modern tidak harus berjalan sendiri-sendiri.
Pengetahuan masyarakat mengenai tanaman lokal justru dapat menjadi titik awal bagi munculnya pertanyaan ilmiah dan penelitian baru.
Dari Riset Menuju Hilirisasi
Bagi UM Bandung, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperluas jejaring akademik sekaligus membuka ruang kolaborasi penelitian dan pengabdian dengan akademisi maupun institusi lain.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendorong riset perguruan tinggi agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah.
Lebih jauh, hasil penelitian diharapkan dapat menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat nyata, bernilai ekonomi, serta berpeluang memasuki tahap hilirisasi.
Dengan demikian, tanaman yang selama ini dianggap biasa atau terabaikan dapat memperoleh nilai baru.
Kekayaan hayati Indonesia bukan hanya warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga sumber pengetahuan dan inovasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Tantangannya kini bukan sekadar menemukan tanaman yang memiliki potensi, melainkan bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi pengetahuan yang teruji, produk yang aman, dan inovasi yang benar-benar memberikan manfaat.
Dari kekayaan lokal, riset menemukan peluang. Dari riset yang serius, lahir inovasi yang dapat memberi nilai bagi masyarakat.















