BANDUNGMU.COM – Orang beriman akan melakukan apa pun karena Allah, bukan karena ingin mendapat pujian dari siapa pun. Mereka beribadah dengan ikhlas kepada sang khalik.
Iman ialah keyakinan di dalam hati, diucapkan oleh lisan, dan diamalkan atau dipraktikkan oleh anggota tubuh semata-mata ikhlas karena Allah. Tidak karena yang lain.
Lantas apa saja tanda orang yang beriman atau saleh itu? Dalam “Nashaihul Ibad” karya Syekh Nawawi Al-Bantani, sahabat Ali ibnu Abi Thalib menyampaikan empat nasihat yang sangat indah.
Kesatu, “Siapa yang merindukan surga, dia akan segera melakukan kebaikan.”
Surga tidak bisa dibuka dengan amal keburukan. Surga hanya bisa dibukan dengan amal kebaikan para hamba Allah di samping karena rida-Nya juga.
Jika ada orang tidak melakukan kebaikan, bahkan sebaliknya, gemar melakukan keburukan, itu tandanya orang tersebut tidak rindu kesenangan surga.
Orang yang sedang rindu akan melakukan upaya untuk sampai kepada yang dirindukan. Kebaikan atau amal saleh merupakan kunci untuk mengobati rindu kita kepada surga.
Kedua, “Siapa yang takut siksa neraka, dia akan berhenti mengikuti hawa nafsu.”
Hawa nafsu harus dikendalikan. Jangan diikuti karena akan menjerumuskan setiap manusia kepada kerusakan dan maksiat.
Takut neraka, tetapi tidak berhenti mengikuti hawa nafsu, sama saja bohong. Takut neraka, ya, harus diikuti oleh berhenti mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan.
Neraka ialah tempat yang panas. Seburuk-buruknya tempat kembali. Tidak ada kedamaian di dalamnya karena semua pendosa ngumpul di sana semua. Berhenti mengikuti hawa nafsu kalau takut neraka.
Ketiga, “Siapa yakin datangnya kematian, dia tidak akan terlena dengan kesenangan dunia.”
Kesenangan dunia hanya sementara. Dunia juga ibarat permainan yang sebentar. Tidak akan lama lagi dunia akan hancur. Semua manusia menuju alam akhirat.
Oleh karena itu, terlena dengan kesenangan dunia yang semuanya titipan, sama saja dengan tidak yakin dengan datangnya kematian yang sejatinya pasti akan datang.
Hanya waktu dan di mana tempat kita mati itu yang tidak diketahui dengan pasti. Semata-mata rahasia Allah. Manusia sebagai hamba-Nya diwajibkan meyakininya saja bahwa kematian pasti datang.
Keempat, “Siapa yang mengetahui bahwa dunia adalah tempat ujian, semua musibah akan dirasa ringan.”
Ujian dari Allah bisa datang dalam dua bentuk. Bentuk ujian berupa kesenangan dan kepahitan. Keduanya sama-sama ujian dari Allah.
Untuk orang yang beriman, ujian dari Allah akan dianggap ringan sebagai upaya meyakini bahwa tidaklah Allah menurunkan ujian, kecuali sesuai dengan kadar kemampuan.
Ujian juga hakikatnya sebagai bentuk kasih sayang dari Allah. Oleh karena itu, semua ujian dari-Nya ringan dan berpahala. Tidak ada yang sia-sia.***















