BANDUNGMU.COM, Bandung – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad menjelaskan bahwa ada beberapa metode dalam menentukan awal bulan suci Ramadhan.
Salah satun metodenya adalah hisab hakiki yakni perhitungan hisab berdasarkan pada kedudukan bulan atau real waktu. Dadang menjelaskan dalam hisab hakiki ada dua kriteria, yaitu wujudul hilal dan imkanur rukyat.
Wujudul hilal kata Dadang perhitungannya berdasarkan pada ilmu falak yang akurat. Sementara itu, imkanur rukyat berpedoman pada tingginya hilal yang terlihat secara langsung. Metode lainnya yaitu hisab urfi yang terbagi menjadi dua yaitu rukyat global dan lokal.
“Ada lagi metode lainnya seperti hisab urfi yaitu hisab berdasarkan pada perhitungan khusus. Lalu rukyat global yang terlihat dari bulan di seluruh pelosok dunia dan lokal seperti yang dilakukan oleh pemerintah,” ucap Dadang seperti bandungmu.com kutip dari program “Catatan Akhir Pekan” TvMu pada Kamis (02/03/2023).
Dadang menyampaikan bahwa PP Muhammadiyah berdasarkan maklumat yang tersebar telah menetapkan awal Ramadhan jatuh pada 23 Maret 2023. PP Muhammadiyah memutuskan bulan suci Ramadhan berdasarkan perhitungan wujudul hilal.
“Muhammadiyah lebih cepat memutuskan awal Ramadhan karena pakai hisab ilmu falak, astronomi, sebagai suatu perhitungan modern,” tutur Dadang.
Pemaknaan yang berbeda
Dadang memperkirakan awal Ramadhan akan bersamaan dengan pemerintah. Namun, relatif karena pemerintah harus melihat bulan secara langsung untuk memastikannya.
Mantan Ketua PWM Jawa Barat ini mengatakan bahwa pemaknaan ini yang melahirkan perbedaan-perbedaan cara mengambil awal bulan Ramadhan. Ia juga menjelaskan di Indonesia meskipun perhitungan awal Ramadhan bisa serempak, tetapi sering terjadi perbedaan dalam pelaksanaan Idul Fitri.
“Menurut perkiraan kasar, bisa bersamaan atau tidak dalam melaksanakan lebaran. Hal ini yang menjadikan kehidupan keagamaan di Indonesia kurang semarak pada pelaksanaan Idul Fitri karena ada dua lebaran,” jelas Dadang.
Konsisten dengan hisab
Dadang menyampaikan bahwa Muhammadiyah konsisten dan komitmen dengan perhitungan hisab untuk menetapkan awal Ramadhan. Dalam struktural Majelis Tarjih Muhammadiyah ada divisi khusus mengenai hisab.
“Majelis Tarjih bertugas menentukan penggalian-penggalian tentang syariat Islam yang lebih sahih. Selain itu, di Majelis Tarjih juga ada divisi yang khusus tentang hisab,” tutur Dadang.
Ia menjelaskan 170 Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) di antaranya ada yang mempunyai jurusan astronomi yang dalam praktinya selalu mendampingi Majelis Tarjih dalam pelaksanaan perhitungan hisab.
Persiapan Ramadhan
Sebentar lagi Ramadhan tiba. Oleh karena itu, Ketua BPH Universitas Muhammadiyah Bandung ini menganjurkan agar umat Islam khususnya warga Muhammadiyah memperindah masjid, membuat jadwal tarawih, dan mempersiapkan fisik ataupun materi untuk menjalankan ibadah puasa.
“Beberapa persiapan bulan Ramadhan di antaranya memperindah masjid, membuat jadwal untuk penceramah tarawih dan imam tarawih, mempersiapkan fisik maupun materi untuk bulan puasa. Persiapkan dengan sebaik-baiknya,” imbau Dadang.
Selain itu, Dadang juga menyampaikan bahwa banyaknya mazhab akan memunculkan perbedaan persepsi. Oleh sebab itu, ia berpesan kepada masyarakat khususnya warga Muhammadiyah agar bersabar dan khusyuk dalam beribadah.
“Bersabar karena setiap orang memiliki paham dengan latar belakang yang berbeda. Jangan kaget. Hal yang terpenting adalah kita khusyuk dalam beribadah dan yakinlah manhaj yang diikuti mempunyai alasan-alasan kuat,” tandasnya.***(MPAF)















