OLEH: ACE SOMANTRI — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM — Lahir ke alam dunia sendiri, tidak dibarengi yang lain. Jauh sebelum tegak berdiri, semua manusia harus menyadari bahwa dirinya mengalami metamorfosis dan berevolusi sesuai dengan karakternya yang tumbuh serta berkembang menjadi manusia dewasa.
Mandiri bukan berarti tidak kolaborasi. Mandiri lebih kepada jiwa dan karakter tidak menunggu instruksi, tetapi menginisiasi, berkreasi, dan berinovasi.
Sejatinya setiap individu manusia memiliki insting hewani berperikemanusiaan yang peka, berempati, dan bersimpati yang selalu ada dalam setiap diri. Jati diri terletak pada jiwa dan sikap manusiawi, dimana harkat dan martabat akan terbentuk menjadi performa sesuai dengan ketulusan dan keikhlasan yang mendasari serta menyertainya.
Pergi pagi sejak mentari menyinari, melangkah kaki sembari berdoa kepada ilahi mohon diberkahi. Niat dengan berjalan kaki menjelajahi bumi untuk menjemput rezeki dalam rangka menafkahi keluarga yang dicintai.
Bismillahi tawakaltu illa billahi mendoktrin diri bahwa Sang Pemilik bumi mengerti dan “surti”. Yakin perjalanan dan usaha tidak akan mengkhianati setetes keringat membasahi sekujur tubuh sebagai bukti mengabdi pada Ilahi.
Energi menggerakan seluruh sendi-sendi. Meregang tulang belulang sekuat tenaga. Membuka tabir fatamorgana banyak menipu mata. Mengencangkan ikat kepala dan pinggang ketakwaan. Dengan begitu, kita berharap agar tidak tepedaya oleh setan angkara murka.
Karena manusia mandiri kadang-kadang lemah ketika menghadapi diri sendiri, ketika tidak mampu membaca diri, dan lebih bahaya tidak mengenal identitas dan jati dirinya sendiri.
Berdiri tegak sendiri lebih punya harga diri, terlebih berdiri di atas satu kaki dengan tegak penuh percaya diri. Terjangan badai dan halilintar menyambar keyakinan diri tidak akan goyah hanya karena iri dan dengki.
Komitmen dengan keyakinan penuh mendatangkan energi membawa kekuatan tersendiri sehingga gejolak dalam jiwa akan menembus dinding penghalang dan penghambat mimpi.
Di negeri yang lohjinawi sangat tidak mungkin rakyat dan warganya kurang nutrisi. Faktanya tidak seperti yang ada dalam ilusi negeri surgawi, yang ada dunia fana yang menggoda dan memperdaya, sehingga banyak khilap dan lupa siapa kita, ujungnya lupa kepada pemilik alam semesta. Itulah yang disebut bahagia membawa sengsara.
Di atas meja kita kadang-kadang bekerja. Di ruang yang megah dan mewah sering membawa jiwa jemawa. Entah harus bagaimana untuk tetap menjadi manusia sahaja dan sederhana. Sementara depan muka dan mata harta, tahta dan wanita memaksa raga tampil beda.
Namun ada yang tidak terasa, baru juga punya muka apa adanya, serasa sudah banyak wanita suka. Baru juga punya harta tidak seberapa, sudah merasa kaya raya. Baru juga bisa aba ta tsa dza ha kha dalam iqra, sudah merasa paling wara.
Apa yang dibanggakan ketika semua hanya sebuah kisah dan cerita belaka? Pengakuan yang bukan senyatanya adalah kebohongan belaka.
Alam semesta dicipta memang buat manusia, dikelola untuk diambil manfaat dan nilai guna, tetapi bukan untuk bergaya ria. Sekata dari makna ayat, bersyukurlah maka Allah akan menambahkan nilainya.
Kaki dan tangan bergerak sesuai dengan ritme yang harmonis, maka akan melahirkan tenaga yang kuat dan bermanfaat. Mata, hidung, dan mulut merasakan sesuai dengan rupa rasa sebuah karya bermakna. Akan mati rasa ketika karya tidak bermakna.
Nilai makna ada pada formula yang saling memberikan warna rasa dan bukan satu warna rasa, sebagaimana dasar manusia lahir bermacam ragam suku, ras, dan etnis. Saling mengenal satu sama lain untuk saling menghargai. Nabi kita mandiri, Muhammad SAW, tangguh dan percaya diri hingga mampu membangun negeri.
Berdiri di atas kaki orang lain, bukan tidak mandiri, melainkan tidak tahu diri, apalagi menari-nari di atas penderitaan orang lain, itu menzolimi.
Harga diri merasa lebih berarti ketika mampu berdiri di atas kaki sendiri. Senantiasa tahu diri dan mengingat diri bahwa di atas langit masih ada langit. Tidak ada yang lebih tinggi kecuali Allah yang Mahatinggi.***











