C.P. Wolff Schoemaker, Sang Arsitek Bangunan Ikonik di Bandung

oleh -
Gedung Isola di Kawasan Kampus UPI Bandung hasil rancangan C.P. Wolff Schoemaker. (Foto: beritabaik.id).

BANDUNGMU.COM – Kota Bandung memiliki begitu banyak bangunan ikonik yang merupakan peninggalan era kolonial Hindia-Belanda. Bangunan-bangunan itu masih berdiri dengan gagah dan tak lekang dimakan zaman.

Saat ini, bangunan-bangunan itu masih dianggap sebagai bangunan berkelas. Bahkan, tak jarang bangunan yang ada jadi objek foto maupun swafoto oleh siapa pun yang mengunjunginya.

Contoh bangunan ikonik itu di antaranya Gedung de Majestic, Gedung Merdeka, Gedung Landmark, hinga Villa Isola di kawasan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Di balik kemegahan bangunan-bangunan itu, tentu ada sosok penting yang merancangnya. Sosok itu adalah Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker atau lebih sering disebut C.P. Wolff Schoemaker.

Bagi sebagian orang, Schoemaker ini mungkin jadi nama yang asing di telinga. Bahkan, banyak yang tak tahu jika makam Schoemaker ini ada di Bandung. Simak ulasan lengkapnya, yuk!

Belanda Tulen

Schoemaker sendiri adalah pria berdarah Belanda tulen. Namun, ia lahir di Indonesia, tepatnya di Banyubiru, Semarang, pada 18 Juli 1882. Dilansir dari laman resmi Institut Teknologi Bandung (ITB), Schoemaker memulai kariernya di militer sebagai insinyur. Ia kemudian bergabung dengan Algemeen Ingenieur Architectenbureau, dan bekerja di Bandung.

Di Bandung inilah ia banyak merancang bangunan yang begitu ikonik. Bangunan-bangunan itu pun banyak yang masih bertahan hingga kini. Hal itu tak lepas dari matangnya rancangan dan bahan kualitas tinggi yang dipakai untuk membangunnya.

Pernah Jadi Rektor ITB

Schoemaker sendiri pernah menimba ilmu arsitektur di Amerika Serikat dari Frank Lyoid Wright, salah seorang arsitek kenamaan dunia saat itu. Seiring perjalanannya, Schoemaker diangkat sebagai profesor di Technische Hogeschool (TH) Bandoeng.

TH Bandoeng sendiri kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung alias ITB. Di sana, ia diangkat sebagai profesor pada 1922. Ia pun menjalani profesinya sebagai dosen. Bahkan, ia tercatat pernah jadi Rektor ITB dalam kurun 16 Juni 1934 hingga 2 Agustus 1935.

Ir. Sukarno yang kelak jadi proklamator kemerdekaan sekaligus presiden pertama Indonesia adalah seorang mahasiswanya. Sehingga, Bung Karno pun piawai merancang bangunan dan meninggalkan sejumlah jejak hasil rancangannya di Bandung.

Puluhan Bangunan di Bandung

Sebagai arsitek, dengan keterampilannya Schoemaker banyak merancang bangunan di Bandung. Tak diketahui pasti berapa bangunan hasil rancangannya. Ada yang menyebutnya 21 bangunan, 25 bangunan, hingga lebih dari itu.

Hal yang pasti, masih ada bangunan hasil rancangan Schoemaker yang bergiri tegak hingga sekarang. Kita bahas beberapa di antaranya, yuk!

Gedung Merdeka

Dilansir dari laman asianafricanmuseum.org, gedung yang berlokasi di Jalan Asia-Afrika ini sebelumnya hanya berupa bangunan sederhana tempat berkumpulnya orang-orang Eropa dan Belanda. Dulunya, gedung ini bernama Societeit Concordia.

Pada 1921, bangunan itu dirombak jadi gedung pertemuan super mewah, ekslusif, dan modern di Hindia-Belanda saat itu oleh Schoemaker dengan gaya art deco.

Pada 1940, dilakukan pembenahan pada gedung tersebut agar lebih menarik, yaitu dengan merenovasi bagian sayap kiri bangunan oleh perancang A.F. Aalbers dengan gaya arsitektur international style.

Singkat cerita, gedung ini pernah dipakai menjadi lokasi pelaksanaan Konferensi Asia Afrika pada 1955. Oleh Bung Karno, nama gedung ini kemudian diganti menjadi Gedung Merdeka yang bertahan hingga sekarang.

Masjid Cipaganti

Salah satu masjid tertua di Kota Bandung ini berlokasi di Jalan Cipaganti. Masjid ini bahkan masjid tertua di kawasan Bandung Utara.

Dari prasasti yang terpasang, Masjid Besar Cipaganti terrilis masjid ini dibangun pada 7 Februari 1933 dan selesai dibangun 27 Januari 1934. Namun, sebenarnya usia masjid ini jauh lebih tua, yakni ada sejak 1820. Akan tetapi, saat itu masih berupa bangunan tradisional dengan bahan bangunan di antaranya kayu dan bilik.

Schoemaker dipercaya jadi arsitek yang merancang masjid ini. Di tangan Schoemaker, tampilan masjid ini dibuat menarik. Ia memadukan gaya arsitektur perpaduan Belanda dan Sunda.

Bangunannya dikelilingi pilar khas arsitektur Eropa. Sedangkan bagian atapnya, termasuk menara, terlihat khas ala bangunan Sunda tempo dulu.

Gereja Katedral Santo Petrus

Gereja ini terletak di pertigaan Jalan Jawa dan Merdeka. Bangunan cantik dan ikonik banget serta kental akan gaya arsitektur neo-Gothic.

Schoemaker pun punya andil besar dalam merancang ulang gereja ini. Dibangun sepanjang 1921, gereja ini selesai pada 19 Februari 1922.

Hingga kini, gereja tersebut masih berdiri megah. Kualitas bangunannya pun tetap terjaga dengan baik. Kegiatan ibadah juga masih rutin digelar. Jika kamu berkunjung ke Bandung, berfoto dengan latar belakang Gereja Katedral ini bakal terlihat epik banget!

Gedung Majestic

Berlokasi di Jalan Braga, bangunan ini dulunya adalah bioskop. Bahkan, tempat ini termasuk salah satu bioskop tertua di Bandung. Gedung ini dibangun pada 1920-an dengan gaya arsitektur art deco.

Awalnya, tempat ini diberi nama Concordia Bioscoop. Beberapa kali nama bioskop ini berganti, di antaranya Oriental Bioscoop hingga Bioskop Dewi. Namun, gedung ini lebih dikenal dengan sebutan Majestic.

Namun, sejak 1980-an, bangunan ini tak lagi difungsikan sebagai bioskop. Tempat ini beralih fungsi, salah satunya menjadi tempat konser. Hingga kini, di gedung yang memakai nama De Majestic tersebut masih bisa dipakai untuk kegiatan, misalnya suguhan kegiatan seni.

Selain gaya art deco, gedung ini punya keunikan lain. Schoemaker menerapkan aliran IndoIndo-EuropeescheIndoIndo-Europeeschen Architectuur Stijl. Lewat aliran ini, ia memadukan elemen tradisional dengan teknik konstruksi modern dari barat.

Hal ini bisa dilihat dari bentuk ukiran dan ornamen barong yang ada pada bagian depan bangunan. Jika berkunjung ke lokasi, tempat ini sangat direkomendasikan untuk jadi latar swafoto.

Villa Isola

Bangunan ini ada di kawasan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Jalan Setiabudi. Hasil rancangan Schoemaker ini juga memiliki gaya art deco yang kental.

Dulunya, gedung yang dibangun pada 1933 ini dimiliki Dominique Willem Berrety yang merupakan ‘raja media cetak’ saat zaman kolonial Hindia-Belanda.

Seiring perjalanannya, bangunan ini sempat dijadikan tempat tinggal, bagian dari hotel Savoy Homann, hingga sekarang jadi kantor rektorat UPI. Namanya berganti jadi Bumi Siliwangi, tapi publik lebih mengenalnya dengan sebutan Villa Isola.

Gedung Landmark

Bangunan ini berlokasi di Jalan Braga. Saat ini, gedung itu kerap dipakai untuk berbagai kegiatan. Hal yang cukup sering adalah pameran buku.

Bahkan, gedung itu kini lebih identik sebagai tempat pameran buku. Sebab, dalam setahun, pameran buku bisa beberapa kali digelar di sana.

Bangunan ini sudah ada sejak 1922 dan diarsiteki Schoemaker. Art deco menjadi gaya bangunan yang dipilihnya. Dulunya, gedung ini merupakan toko buku dan percetakan Van Dorp.

Pada 1970-an, gedung ini sempat difungsikan sebagai bioskop. Bioskop pun akhirnya tutup. Hingga akhirnya, tempat ini jadi gedung serbaguna yang dikenal dengan nama Landmark Convention Center.

Di luar bangunan-bangunan di atas, ada banyak hasil rancangan Schoemaker yang tersebar di Bandung. Mulai dari Hotel Preanger, Lapas Sukamiskin, Gereja Bethel Bandung, dan masih banyak lagi.

Sang Perintis Bangunan Ikonik

Di zaman kolonial Hindia-Belanda, sosok Schoemaker punya andil sangat besar berkat bangunan-bangunan yang dirancangnya.

Ia seolah-olah mengubah wajah Bandung tempo dulu dengan menghadirkan wajah Eropa. Namun, Schoemaker tetap menghadirkan unsur-unsur tradisional kebudayaan Indonesia dalam rancangannya.

Menurut Ketua Kelompok Anak Rakyat (Lokra) Gatot Gunawan, Schoemaker ibarat jadi perintis bangunan modern di Bandung saat itu. Bahkan, sentuhannya begitu khas dan jadi peninggalan bersejarah tersendiri.

“Schoemaker ini sosok penting di Bandung. Beliau sosok pionir dalam dunia arsitektur modern (di zaman Hindia-Belanda) yang akhirnya memberi ciri khas bagi Bandung,” kata Gatot.

Perjalanan Spiritual hingga Dicap Pengkhianat

Sosok Schoemaker sendiri cukup menarik jika dilihat dari perjalanan spiritualnya. Sebab, ia pernah berpindah keyakinan.

Ia menjadi muslim pada 1915. Ketertarikannya pada dunia Islam hingga akhirnya memeluknya tidak terlepas dari pergaulannya dengan aktivis dan tokoh muslim saat itu.

Namun, setelah meninggal pada 22 Mei 1949, prosesi pemakamannya dilakukan secara Kristen karena permintaan pihak keluarga. Tak diketahui sebelum meninggal apakah Schoemaker kembali berpindah keyakinan atau tetap sebagai muslim.

“Yang jelas sama keluarganya dimakamkan secara Kristen,” ucap Gatot.

Yang tak kalah menarik, Schoemaker sangat dekat dengan Bung Karno dan para aktivis Indonesia saat itu. Bahkan, Schoemaker dicap sebagai pengkhianat oleh Hindia-Belanda.

“Schoemaker ini sosok istimewa juga karena salah satu yang membentuk karakter Bung Karno, terutama ketika beliau kuliah di ITB. Karena ada kesamaan sudut pandang di antara keduanya, termasuk dari sisi humanismenya,” paparnya.

Terhimpit di Pemakaman Umum

Jenazah Schoemaker sendiri dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pandu. Ini merupakan pemakaman umum bagi non muslim. Lokasi makamnya pun cukup sulit dicari.

Untuk tiba ke makamnya, kita perlu melewati jalan sempit di antara celah-celah makam. Bahkan, jika tak hati-hati, bisa saja kaki tersandung. Makam Schoemaker pun terhimpit di antara makam-makam lain.

Kondisi makamnya bahkan sempat memprihatinkan karena tak terurus dengan baik. Sebab, keluarga Schoemaker tak ada yang tinggal di Indonesia. Sehingga, sangat jarang makam sang legenda arsitektur Bandung itu diziarahi.

Beberapa waktu lalu, pegiat dari Lokra pun merenovasi makam ini agar terlihat lebih rapi dan terawat. Kini, makam tersebut menanggalkan kesan tak terawatnya.

Namun, di balik makamnya yang seolah jauh dari perhatian, Schoemaker justru menghadirkan banyak bangunan megah, indah, dan ‘berumur panjang’. Terima kasih sudah menghadirkan keindahan bangunan Bandung lewat karyamu, Charles Prosper Wolff Schoemaker!

Penulis: Oris Riswan Budiana, Sumber: Beritabaik.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *