Islampedia

Inilah Cara Rasulullah Mencintai dan Memuliakan Keluarganya

×

Inilah Cara Rasulullah Mencintai dan Memuliakan Keluarganya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (media.istockphoto).***

BANDUNGMU.COM, Bandung – Rasulullah merupakan nabi sekaligus pribadi yang sangat agung budi pekertinya kepada orang lain, termasuk kepada keluarganya.

Banyak ajaran dan contoh Rasulullah bagaimana memuliakan serta mencintai keluarga dengan baik tanpa menyakiti mereka.

Seperti apa akhlak nabi penutup ini kepada keluarga? Simak kisahnya yang dikutip dari buku “115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW.”

Ummul Mukminin, Aisyah, menuturkan: “Tidak pernah aku melihat seorang pun yang palin mirip keadaannya dengan Rasulullah dalam cara berdiri dan cara duduknya seperti Fatimah, putri beliau. Bila ia datang, Rasulullah segera berdiri menyambutnya, menciumnya, dan mendudukannya di tempat duduknya.”

Begitu sering Rasulullah mencium Fatimah sehingga Aisyiah pernah menegurnya. Namun, Rasulullah yang mulia menjawab, ”Wahai Aisyiah, kalau aku merindukan surga, aku akan mencium Fatimah.”

Baca Juga:  Empat Karakter Wawasan Islam Berkemajuan

Bahkan, Rasulullah mengungkapkan kecintaannya kepada putrinya di hadapan para sahabatnya.

Beliau sering berujar, “Sesungguhnya Fatimah adalah belahan jiwaku. Siapa pun menyakitinya, berarti ia menyakitiku. Siapa pun membuatnya marah, berarti ia membuatku marah.”

Rasulullah juga sangat mencintai cucu kesayagannya, Al-Hasan dan Al-Husain. Ibnu Abbas bercerita bahwa suatu hari ketika dia berkumpul bersama Rasulullah, Fatimah datang sambil menangis. Tentu saja, Rasulullah kaget.

“Biarlah ayahmu ini menjadi tebusanmu, mengapa engkau menangis putriku?” Fatimah menjawab, “Al-Hasan dan Al-Husain pergi keluar rumah dan aku tidak tahu di mana mereka saat ini.”

Rasulullah berkata, “Jangan menangis karena pencipta mereka lebih menyayangi mereka daripada engkau dan aku.”

Malaikat Jibril pun turun dan berkata, “Wahai Muhammad, jangan berduka. Mereka ada di perkampungan Bani Najjar. Keduanya tertidur. Allah telah mengutus malaikat untuk menjaganya.”

Baca Juga:  Penyebaran Agama Islam di Benua Eropa, dari Mendapatkan Diskriminasi Hingga Tekanan Politisi

Rasulullah pun beserta beberapa sahabat berangkat menuju perkampungan Bani Najjar. Merekan mendapati keduanya tidur berpelukan dan malaikat  menaungi mereka dengan kedua sayapnya.

Rasulullah mengambil mereka dan memeluknya hingga mereka terbangun. Beliau meletakkan Al-Hasan di bahu kanannya dan Al-Husain di bahu kirinya.

Abu Bakar yang melihatnya berkata, “Wahai Rasulullah, berikan salah seorang anak itu untuk kugendong.”

Rasulullah menjawab, “Alangkah indahnya kendaraan mereka dan alangkah indahnya para penunggangnya.”

Tiba di masjid, beliau berdiri dengan Al-Hasan dan Al-Husain masih berada di kedua bahunya. Kemudian beliau berkata, “Wahai muslim, maukah kutunjukan kepada kalian orang yang paling baik, kakek dan neneknya?”

Beliau bersabda, “Al-Hasan dan Al-Husain. Kakek mereka Rasulullah, penutup para rasul, dan nenek mereka Khadijah binti Khuwailid, penghulu wanita ahli surga.”

Baca Juga:  Seorang Pemimpin Harus Memiliki Empat Karakter Kenabian

Suatu hari, Al-Hasan dan Al-Husain melihat rombongan kafilah lewat dan mereka melihat seorang anak kecil di atas seekor unta.

Mereka pun merengek kepada sang kakek, Rasulullah, agar bisa naik unta. Rasulullah pun membungkuk menjadikan tubuh beliau bagaikan unta dan meyuruh keduanya naik ke punggung.

Kemudian, beliau merangkak keliling ruangan sehingga mereka tertawa-tawa senang. Kelak, beliau mengatakan betapa bahagianya menjadi tunggangan anak-anak yang sangat dicintainya.

Pada lain kesempatan, Rasulullah pernah memanjangkan sujud ketika shalat isya sehingga jamaah menyangka beliau sedang menerima wahyu.

Usai shalat, beliau menjelaskan, “Tidak, bukan karena itu. Anaku menunggangi punggungku. Aku tidak ingin menyegerakan sujudku sebelum ia memenuhi hajatnya.”***